Ribut Pemindahan Ruang LK Biologi

Browse By

IMG_8090

Kantor Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Biologi di Gedung I, ruang nomor 107. | Dok.scientiarum.com/Andreas Reuben

Akhir-akhir ini, Fakultas Biologi sedang menyimpan masalah. Masalah tersebut mengenai ruang LK Fakultas Biologi yang dipindah. Ada suara penolakan dari sebagian mahasiswa mengenai pemindahan ruang LK tersebut, sehingga mereka membuat petisi kepada dekan Fakultas Biologi.

Tetapi, di semester genap ini ruang LK tetap dipindah, walau petisi tersebut belum ditanggapi oleh sang dekan. Memang akhirnya LKF Biologi mendapatkan dua ruangan: di gedung C dan gedung I. Tetapi masih ada saja suara ketidakpuasan.

Kebetulan sudah ada berita yang terbit lebih dulu mengenai ini, tepatnya berita dari Portalentera, lembaga pers mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi. Tetapi karena masalah ini masih belum selesai, kami berusaha mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. (Baca juga: Ruang Kantor Dipindah, LK Biologi Kecewa)

Abe: LK Tiba-tiba Dipindah Sepihak

Menurut Albert Oloan Tona’as Karwur, ketua Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) Biologi, isu tentang pemindahan ruang LK sudah lama ada, namun baru mulai dibicarakan pada rapat fakultas akhir tahun 2014. “Ketika itu, keputusannya adalah ruang LK akan dipindah ke gedung I, tetapi belum tahu kapan,” kata Abe, sapaan akrabnya. Selentingan yang muncul, ruang LK akan dipindah tahun 2015, ketika akhir periode Abe.

Tiba-tiba, rekannya dari Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF) mendapat info bahwa ruang LK akan dipindah ketika libur Natal. Kontan Abe bertindak cepat dengan bertanya kepada teman-teman mahasiswa.

“Kebanyakan dari mereka tidak setuju,” kata Abe. Sebagai kelanjutannya, Abe memberanikan diri untuk membuat petisi yang diberikan kepada Rully Adi Nugroho—dekan Fakultas Biologi—pada hari terakhir sebelum libur Natal. (Tetapi menurut tanggal surat, tertera 1 Desember 2014).

Petisi tersebut selain berisi penolakan pemindahan ruang LK, juga berisi saran-saran mengenai ruang dosen. Hal tersebut dikarenakan, ruang LK rencananya akan diubah menjadi dua ruangan dosen, dan ruangan lainnya akan dirombak, agar memenuhi syarat akreditasi dari Dikti.

“Kami membuat win-win solution,” ungkap Abe. Petisi tersebut ditandatangani oleh ketua angkatan 2011 hingga 2014, ketua SMF Biologi, ketua BPMF Biologi, ketua SMU, dan ketua BPMU. Selain dikirim kepada Rully, petisi tersebut juga ditembuskan ke Arief Sadjiarto, Pembantu Rektor (PR) III.

Akan tetapi, ketika hari pertama semester genap, Abe mengaku kaget karena ruang LK telah disekat menjadi dua ruang, padahal barang-barang LK Biologi masih tertinggal di sana. “Dosen pun protes dan bingung pada minggu-minggu awal perkuliahan, karena dekan tidak mempunyai master plan yang jelas. Barang-barang dosen juga berserakan, mereka jadi bingung mau memakai ruang kantor yang mana,” jelas Abe.

Masih kata Abe, pada rapat fakultas selanjutnya, para dosen disuruh Rully mengambil keputusan terbaik soal ruangan.  Akhirnya, dosen prodi Biologi memilih berkantor di gedung C, dan dosen prodi Pendidikan Biologi memilih berkantor di gedung I. Dalam rapat itu pula, akhirnya LKF Biologi mendapat jatah dua ruangan. LKF Biologi mendapatkan ruangan di gedung I—yang memang sudah menjadi opsi dari dekan sejak awal, juga ruangan di gedung C—dulu ruang Media Pembelajaran dan bekas ruang LK mereka.

“Ruang LK memang seharusnya dekat dengan kantor fakultas, yaitu gedung C lantai 2,” tegas Abe.

Petisi mereka belum ditanggapi Rully hingga sekarang, dan mereka tetap menagih pertanggungjawaban darinya, walau ruang LK mereka sudah pindah. “Dekan memang kurang berkomunikasi dengan kami, hingga akhirnya terjadi masalah seperti ini. LK semestinya berkedudukan sejajar dengan dosen dan dekan,” keluh Abe.

Tadinya, ruang LK mau dibuat Abe sebagai student center, yaitu tempat para mahasiswa Fakultas Biologi belajar dan nongkrong bareng. Tetapi rencana tersebut urung terlaksana karena pemindahan ini.

“Untung saja perkuliahan tidak terhambat, walau dengan atmosfer yang kurang baik,” tandas Abe.

Rully: Sejauh Ini LK Tidak Masalah

“Rencana pemindahan ruang LK sudah diberitahukan pada rapat fakultas pada 13 Oktober tahun lalu. LK hadir di situ, dan setuju-setuju saja,” kata Rully Adi Nugroho, Dekan Fakultas Biologi.

Pada saat-saat yang lalu banyak ruangan yang diisi dua orang dosen sekaligus. “Dan itu membuat akreditasi menjadi rendah di mata para asesor,” jelas Rully.

Menurut direktori hasil program studi BAN-PT, program studi (prodi) Biologi S1 memiliki akreditasi B yang habis pada 23 September 2016. “Atas dasar itu, supaya kami meraih nilai akreditasi di tahun 2016 yang lebih optimum, salah satu caranya kami harus mengatur ruang dosen sedemikian rupa, karena saya melihat urgensi (prioritas)nya. Dosen jauh lebih penting daripada ruang LK,” ungkap Rully.

Lagipula setahu Rully, menurut sejarah, LK sebetulnya sudah mempunyai ruang sendiri di depan sana (Gedung O/Gedung Lembaga Kemahasiswaan—red), tetapi kemudian dilimpahkan kepada fakultas masing-masing.

Lalu, menurut BAN-PT pula, prodi S1 Pendidikan Biologi mendapatkan akreditasi C yang habis pada 27 Juni 2019. Apakah penataan ruang dosen salah satunya juga untuk meningkatkan akreditasi prodi Pendidikan Biologi? “Ya, karena itu tanggung jawab fakultas untuk tidak berlama-lama membiarkan prodi kami berakreditasi C,” jawab Rully.

Prodi S1 Pendidikan Biologi mendapatkan akreditasi C karena setahu Rully, ada aturan Dikti bahwa prodi baru langsung diberi akreditasi C. “Tapi kalau mahasiswa lulus dari prodi berakreditasi C, sulit mencari pekerjaan sebagai PNS. Sebelum angkatan pertama lulus (karena ini prodi baru), nilai akreditasinya harus naik,” tegas Rully.

Bagaimana penataan ruang yang direncanakan Rully? “Karena ruangan yang dimiliki Fakultas Biologi tidak terlalu banyak, jadi ya kami sekat ruangan menjadi dua, lalu masing-masing diberi pintu. Supaya satu dosen satu ruangan,” katanya.

Lalu, petisi muncul. Rully mengaku sudah menerima dan membacanya. Bahkan sebelum petisi diterima, Rully sudah tahu akan ada petisi. “Karena saya sudah diberitahu Pak Cahyo (panggilan Sucahyo—red), Koorbidkem Biologi,” katanya.

Diakuinya juga, petisi tersebut memang tidak dijawab. Tetapi itu bukan berarti usul mahasiswa tidak ditampung oleh Rully. “Usul-usul yang ada di petisi sangat kami perhatikan. Ruang Media Pembelajaran kami pindah, karena diperlukan oleh prodi Pendidikan Biologi, lebih penting daripada ruangan pejabat. Lalu usul LK tentang ruangan-ruangan yang bisa dijadikan ruang dosen, kami sudah terjemahkan dengan aksi nyata,” rincinya.

“Kami sudah sediakan fasilitas yang lebih baik di gedung I, bahkan internet jauh lebih cepat di sana kata orang-orang. Apa problemnya kalau begitu? Hanya pindah ruang saja, fasilitas sudah kami penuhi. Saya tunduk pada putusan rapat fakultas, dan siapapun harus tunduk,” komentar Rully.

IMG_8073

Suasana kantor Fakultas Biologi di Gedung C sekarang.

Lalu, pada rapat fakultas terakhir (tertanggal 13 Januari), LKF Biologi akhirnya mendapatkan dua ruangan—di gedung C dan gedung I, dan dosen prodi Pendidikan Biologi diberi ruangan kantor di gedung I. Ruang LK di gedung I berada di sebelah ruang LKF Pertanian. Sedangkan yang di gedung C berada di depan kantor fakultas, bekas ruang Media Pembelajaran.

“Karena ruang LK di gedung I adalah bekas ruang dosen, jadi barang-barang LK dipindah ke ruang baru di gedung C terlebih dahulu, sembari menunggu barang-barang di ruang I keluar. Jadi itu win-win solution. Saya tidak tahu kalau itu masih jadi problem,” kata Rully.

Lalu tentang para dosen, yang kata Abe protes saat rapat fakultas setelah libur Natal karena dekan tidak mempunyai master plan yang jelas, justru Rully menjawab bahwa bukan itu yang dipermasalahkan. “Planning -nya sudah ada dan jelas pada rapat fakultas bulan Desember. Yang dipermasalahkan hanya prosesnya semata. Urusan siapa yang angkut-angkut barang (para dosen sendiri atau orang lain?), juga bagaimana pindahnya (menunggu ruang kosong dahulukah?). Dan masalah itu sudah dapat terselesaikan,” jawabnya.

Ada fakta lain yang terkuak dari wawancara kami dengan Rully. Ternyata, bulan Desember LK sudah diberitahu—melalui Koorbidkem—agar barang-barang berharga jangan ditaruh di ruang dosen, karena akan ada penyekatan ruang dosen. Di pemberitahuan tersebut juga tercantum mengenai pemindahan ruang LK. Fakta lain lagi, pada rapat fakultas 12 Desember 2014 LK tidak hadir di situ.

“Memang secara formal saya tidak memberitahu LK, karena saya sampaikan dalam rapat fakultas. Tetapi Koorbidkem sebagai kepanjangan tangan semestinya sudah memberitahu LK terkait pemindahan ruangan tersebut,” simpul Rully.

Dari konflik ini (menurut Rully ‘salah paham’), ada hikmah yang Rully dapat. “Komunikasi ke bawah menjadi sangat penting, dan saya mempercayai wakil LK yang memang punya otoritas. Hanya saja komunikasi memang tidak berjalan mulus,” tutup Rully.

Sanggahan Abe Mengenai Pernyataan Rully

Mengenai beberapa pernyataan Rully dalam wawancara, kami langsung berusaha menanyakan kebenarannya kepada Abe yang menggulirkan isu ini. Dan Abe menyanggah pernyataan-pernyataan dari Rully.

Mengenai rapat fakultas tanggal 12 Desember yang tidak didatangi perwakilan LK, Abe mengatakan bahwa pihaknya memang tidak diundang. Abe tidak tahu mengapa pihak LK tidak diundang. Ia menuding bahwa rapat fakultas terkesan dadakan. “Rapat Januari saja kami hanya diundang lewat SMS,” katanya.

“Lalu usul LK tentang ruangan-ruangan yang bisa dijadikan ruang dosen, kami sudah terjemahkan dengan aksi nyata.” Ini salah satu kutipan dari Rully. Tetapi, Abe sebagai perwakilan LK tidak merasa usulnya didengar. Malahan ia bertanya balik, “Poin berapa, yang mana saja rekomendasi ruang dosen yang dilaksanakan oleh Dekan?”

Mengenai pemindahan ruang LK ketika libur Natal, juga pengamanan barang-barang berharga, kata Rully sudah diberitahu Cahyo—Koorbidkem Fakultas Biologi, kepada mahasiswa. Namun Abe mengaku bukan diberitahu oleh Koorbidkem, tetapi oleh sekretaris BPMF. “Mungkin saja Koorbidkem beritahu lewat dia (sekretaris BPMF),” imbuhnya.

Terakhir, mengenai pernyataan Rully tentang kecepatan internet di gedung I yang jauh lebih cepat daripada di gedung C, Abe membantahnya. “Kalau di salah satu ruang dosen biologi di sana, memang cepat, karena di sana server-nya. Sedangkan sinyalnya tidak sampai ruang LK kami, kalaupun sampai lemah sekali,” tutupnya.

Terlepas dari Abe dan Rully, Scientiarum sudah mencoba menghubungi Sucahyo, untuk mengonfirmasi peran posisinya sebagai penghubung dekan dengan mahasiswa. Akan tetapi, sejak usaha yang dilakukan pada 9 Februari 2015, hingga kemarin malam, 14 Februari 2015, Sucahyo baru menjanjikan wawancara dengan Scientiarum pada Senin, 16 Februari 2015.

Stephen Kevin Giovanni, mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika, angkatan 2014. Wartawan Scientiarum. Liputan ini dikerjakan bersama Erwin Santoso.

Catatan Redaksi: Berita ini diterbitkan tanpa keterangan Sucahyo, karena pertimbangan waktu dan batas pengerjaan berita. Hasil wawancara Scientiarum dengan Sucahyo, akan diterbitkan pada berita selanjutnya.

Penyunting: Erwin Santoso dan Arya Adikristya Nonoputra

2 thoughts on “Ribut Pemindahan Ruang LK Biologi”

  1. Eka Simanjuntak says:

    Mari berpikir tentang hal-hal yang besar, jangan habiskan energi dan waktu hanya untuk mempersoalkan hal-hal kecil.
    LK harus ‘agile’ dimanapun ditempatkan harusnya tidak masalah. Yang utama adalah LK mampu berkontribusi bagi pengembangan kapasitas mahasiswa. Tunjukkan bahwa hal-hel sepele seperti itu tidak akan membuat LK tidak bisa bekerja. Bila perlu bangun kantor LK diatas pohon….’tree hoouse’ dengan konsep back to nature…

  2. Ferry Wijaya says:

    Hahaha… Kak eka benar. Tetapi bukan itu. masalah yang kami hadapi bukan ‘kepindahan’ kami, tetapi ‘cara’ kami dipindahkan. Cukup jelas lho, yg tertera di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *