Kebebasan Berbicara

Browse By

BICARATepatnya pada 16 Januari  2015 lalu, saya berkesempatan mengunjungi Monumen Pers Nasional dalam rangka pengenalan dunia jurnalistik, acara yang diselenggarakan oleh salah satu pers mahasiswa sebuah universitas yang terletak di kaki Gunung Merbabu.

Saat memasuki gedung megah yang berbentuk seperti candi ini, saya langsung disuguhkan oleh pemandangan unik seperti diorama perkembangan dan jejeran patung perintis pers Indonesia. Saya bersama rombongan lalu dipersilahkan duduk dan menikmati pemutaran video singkat mengenai perkembangan Monumen Pers hingga saat ini.

Otak saya lalu menangkap hal menarik dari pemutaran video tersebut, mengenai benda peninggalan yang berada dalam Monumen Pers saat ini. Setelah pemutaran selesai, saya lalu mencari benda yang menyita perhatian tersebut dan mengamati penjelasan singkat dalam bingkai di belakang benda itu. Benda tersebut merupakan kamera bermerek Ricoh warna hitam. Kamera ini merupakan peninggalan dari wartawan bernama Fuad Muhammad Syafruddin, seorang wartawan Harian Bernas Yogyakarta, yang dianiaya oleh orang tidak dikenal.

Sebenarnya, penganiayaan itu bukanlah penyebab utama kematiannya. Udin–sapaan akrab Fuad Muhammad–sebelumnya sedang dalam keadaan koma dan dirawat di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Namun karena parahnya sakit yang diderita akibat pukulan batang besi di bagian kepalanya, Udin akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Jumat, 16 Agustus 1996. Sebelum kejadian ini, Udin memang sering menulis artikel kritis mengenai kebijakan pemerintah orde baru  dan militer.

Saya pun terdiam sejenak dan membaca cerita mengenai Wartawan Udin berulang-ulang, lalu dengan liar otak saya menyimpulkan bahwa penganiayaan Wartawan Udin disebabkan karena tulisan kritisnya terhadap pemerintah. Saya meneguk ludah dan berandai-andai. Sebagai mahasiswa yang menggeluti kegiatan pers, saya sadar, mungkin saja kejadian yang dialami Wartawan Udin akan juga menimpa saya. Walaupun mungkin tidak seekstrem seperti kematian Wartawan Udin, namun sikap kritis saya bisa saja terancam mati, akibat orang-orang yang tidak bisa menerima kritikan untuk merubah suatu hal menjadi lebih baik. Tak perlu terlalu jauh untuk mengatakan akan kehilangan sikap kritis, saya hanya takut menjadi pribadi bermental krupuk, saya takut untuk kehilangan kepedulian sosial saya, dan terlebih lagi saya takut untuk tidak mampu mengatakan “tidak” atau “jangan” terhadap sesuatu yang salah. Sederhana saja, saya ingin menjadi makhluk hidup yang “benar-benar hidup”.

Negara kita sendiri pun jelas menjamin kebebasan setiap individunya untuk mengeluarkan pendapat melalui Undang-undang Dasar 1945 Pasal 28E ayat (3) dan Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia. Sehingga sudah seharusnya kita merasa ada yang salah, apabila sebuah negara pada praktiknya tidak mampu menampung atau bahkan membungkam aspirasi rakyatnya. Ada yang salah jika sebuah instansi sudah tidak ingin lagi mendengarkan suara aktivisnya. Ada yang salah di dalam diri kita sendiri, jika tidak mampu menggunakan telinga untuk untuk mendengarkan orang lain. Semua orang perlu bicara, semua orang perlu mendengar.

Indrika Dermadibyo Tiranda, mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, angkatan 2013. Wartawan Scientiarum. Ia juga aktif sebagai koordinator editor di Ascarya Journalistic Club, Pers Mahasiswa FEB.  Tulisan ini sebelumnya terbit pada selebaran Ascarya yang disebar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional, 9 Februari 2015. Ikuti kicauannya di @IndrikaTiranda.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

2 thoughts on “Kebebasan Berbicara”

  1. Arfael says:

    Kritis dan prinsipill

  2. Arfael says:

    saya kira itu adalah hal yang harus di perhatikan betul ketika memberikan sanggahan, apapun yang terjadi setelahnya biarlah orang lain yang menilainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *