Ketika Musik Menjadi Kehidupan

Browse By

if i stay

if i stay

Judul                    : If I Stay
Produser              : Denise Di Novi & Alison Greenspan
Sutradara             : R.J Cutler
Pemain                 : Chloe Grace Moretz, Jamie Blackley
Durasi                   : 106 menit
Rilis                       : 22 Agustus 2014

Filem If I Stay diangkat dari novel karya Gayle Forman. Filem ini bercerita tentang kehidupan seorang Mia Hall (Chloe Grace Moretz), gadis muda berusia 17 tahun yang sangat berbakat dalam dunia musik.

Selain berbakat, Mia mempunyai gambaran kehidupan yang sempurna untuk seorang remaja. Mia adalah anak dari musisi rock yang terkenal di masa lalu. Meskipun berbeda aliran, orang tua Mia tetap mendukung Mia dalam bermain selo dan musik klasik.

Selain itu, Mia juga memilki saudara laki-laki, Teddy (Jakob Davies). Di lingkungan sosial, Mia memiliki kekasih yang sangat mencintainya, Adam (Jamie Blackley), seorang vokalis band yang tentu saja tampan dan populer di sekolahnya. Dan tentu saja memiliki Kim, sahabatnya. Kim selalu hadir untuk Mia, terutama ketika Mia sedang bosan atau kesepian karena ditinggal konser oleh Adam.

Mia memiliki impian yang sangat besar untuk melanjutkan pendidikannya di Julliard, konservatorium bergengsi di New York, Amerika Serikat.

Suatu ketika kehidupan Mia yang sempurna berubah sekejap. Ia mengalami kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ayah, ibu dan adiknya. Dalam kecelakaan tersebut, Mia masih bisa diselamatkan walaupun dengan keadaan koma. Di tengah kondisi koma, arwah Mia keluar dari tubuhnya.

Arwah Mia bisa kemana saja dan melihat orang-orang di sekitarnya sangat mencemaskan dirinya. Saat melihat tubuhnya terbaring dalam keadaan sekarat dan mengetahui kenyataan bahwa keluarganya telah meninggal, Mia menjadi putus asa. Ia tak yakin mampu hidup tanpa keluarganya. Mia pun ingin meninggal menyusul keluarganya.

Tapi melihat Gramps dan Gran yang adalah kakek dan nenek Mia, serta Kim dan Adam yang datang untuk menjenguknya, membuat Mia tak tega untuk meninggalkan mereka. Mia pun dihadapkan pada pilihan tetap hidup atau mati.

Saat menjenguk Mia, Gramps sempat berdialog dengan tubuh Mia yang sedang koma. Kalimat demi kalimat yang diungkapkan Gramps sambil meneteskan air matanya sangat emosional, hingga membuat air mata penonton juga ditarik keluar. Di adegan inilah saya ‘dihantam’.

Dalam kegalauan tersebut, Mia memikirkan pilihan yang harus diambilnya. Dari sini, kita akan diajak berjalan-jalan melihat segala kenangan yang dialami oleh Mia. Mulai dari keharmonisan keluarga Mia sampai kisah romantis antara Mia dengan Adam. Kisah romantis tersebut dibuat seperti dalam kisah cinta remaja masa kini. Kita akan melupakan bahwa usia mereka masih begitu muda. Tak lupa juga kisah persahabatan Mia dan Kim. Ikatan persahabatan mereka sangat kuat. Tentunya, semua wanita menginginkan persahabatan seperti mereka.

Dalam filem ini, musik menjelma jadi nafas yang menghidupkan kisah Mia bersama keluarga dan kekasihnya. Bahkan, musik pula yang membantu Mia memutuskan untuk tetap hidup atau tidak. Alur mundur yang dihadirkan R.J Cutler, sang sutradara memang cukup membingungkan. Namun dengan mengambil sudut pandang Mia, saya bisa larut pada cerita, hingga 106 menit ke depan.

Selain itu, akting yang para tokoh dalam filem ini patut saya acungi jempol. Chloe Grace Moretz mampu menghadirkan chemistry yang begitu memikat saat beradu akting bersama Jamie Blackley. Kemampuannya saat bermain selo pun meyakinkan. Semua tokoh dalam filem ini berhasil membuat saya juga merasakan kebahagiaan, kecemasan, bahkan kesedihan yang mereka rasakan.

Reswanty Tonglolangi, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis, angkatan 2013. Wartawan LPM Scientiarum. Ikuti kicauannya di @restyreswanty.

Penyunting: Erwin Santoso

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *