Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Yang Penting Diterima Masyarakat

Rubrik Sosok oleh

Saat pertama kali melihat Vincentius Wijaya Adiguna, adakah yang mengira kalau dia seorang tuna rungu? Sosoknya membaur bersama para mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas Kristen 1 Salatiga pada tahun 2014, dia segera melanjutkan pendidikan di program studi Ilmu Perpustakaan, FTI.

“Sebenarnya 50% takut waktu mendaftar di UKSW, tetapi orang tua mendorong saya,” ujarnya ketika ditemui oleh Scientiarum, pada 26 Februari 2015.

Putra pertama dari pasangan Agustinus Teguh Widodo dan Maria Welly Jumarningsi ini memang mendapat dorongan penuh dari orang tuanya, untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Sejak mengenal sekolah, Vincent menjadi percaya diri. Dia aktif. Selain itu dia juga termotivasi oleh adiknya yang saat ini kuliah di Montana State University,” ujar Agustinus.

Sehingga, ketika menyelesaikan 8 tahun pendidikan TK-SD di Don Bosco Wonosobo, Vincent kembali melanjutkan di SD Kanisius Cungkup. Alasannya, agar lebih fasih dalam berkomunikasi dan lebih paham membaca mimik bibir orang di sekitarnya. Kemudian dia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 6 Salatiga. Maka menjadi berbeda bukanlah hambatan yang besar bagi Vincent, karena dia memiliki motivasi pribadi yang sangat kuat.

“Motivasi saya adalah untuk masa depan. Agar mendapat pendidikan yang lebih baik dan wawasan yang luas. Mendapat pekerjaan mudah dan dapat diterima masyarakat,” ujar Vincent dalam bahasa isyarat, dan sedikit oral.

Motivasi inilah yang mendorong Vincent semangat dalam menjalani perkuliahannya. Meskipun dia harus bertemu dengan kaprodinya setiap pergantian semester dan bernegosiasi mengenai dosen pengajar. Kaprodi akan menulis surat kepada dosen pengajar mata kuliah yang diambil Vincent. Surat ini untuk memberitahukan bahwa Vincent adalah tuna rungu. Sehingga dosen tidak bingung dan mengetahui keadaan Vincent.

Pemberitahuan dini ini juga membantu Vincent kalau ingin bertanya secara khusus kepada dosennya. Biasanya Vincent menggunakan catatan kecil untuk bertanya kepada dosennya, kalau dia belum memahami penjelasan dosen ketika di kelas. Karena terkadang memperhatikan penjelasan dosen saja tidak cukup, sehingga butuh penjelasan yang lebih untuk membantu memahami perkuliahannya. Untungnya, semua dosen pengajarnya bersedia membantu Vincent. Bahkan saat pertama kali memulai kelas, ada dosen yang mengenalkan Vincent kepada teman-teman satu kelas, harapannya, agar bisa membantu.

Ada motivasi lain bagi mahasiswa kelahiran 2 Januari 1993 ini tentang alasannya memilih jurusan Ilmu Perpustakaan. “Di fakultas ini harus paham bahasa Inggris. Jadi saya bisa belajar bahasa Inggris. Lalu saya melihat peluang kerja dan yang paling utama adalah saya tidak kuat dengan matematika,” jelasnya sambil tertawa.

Vincent mengakui bahwa dia tidak bisa matematika, yang menurutnya notabene mata pelajaran susah bagi hampir semua pelajar. Tak mau ambil pusing soal matematika, Vincent mencoba mengimbanginya dengan kemampuan berolahraga. Semenjak sekolah dasar, Vincent sangat aktif di bidang olahraga, bahkan beberapa kali meraih juara dalam perlombaan lari. Bisa jadi, bakat ini menular dari ayahnya yang bekerja sebagai guru olahraga di SMA almamaternya.

“Ketika di Wonosobo, dia sering main sepakbola sehingga kakinya kuat. Waktu kembali ke Salatiga, saya pernah mengarahkan ke bulutangkis tetapi tidak kuat, kalau lari malah kuat. Jadi olahraga yang dulu menjadi hobi, sekarang malah membuatnya berprestasi,” jelas Agustinus.

Prestasi terbaiknya adalah menjuarai perlombaan tingkat provinsi. Dia pernah akan maju untuk tingkat nasional, tetapi gagal karena mengalami cedera. Jika dibandingkan dengan fisik atlit nasional yang lain, dia masih belum bisa mengimbangi karena tidak berlatih se-intensif atlit lain.

“Atlit latihan setiap hari. Saya tidak, karena saya juga sekolah. Sehingga saya harus membagi waktu saya dengan baik,” jelas Vincent

Bagi Vincent, keseimbangan antara latihan dan pendidikan sangat penting. Dia tidak mau kalau memberatkan salah satu. Sehingga membagi waktu antara kuliah, tugas kuliah dan latihan sudah cukup melelahkan baginya.

Vincent punya motivasi yang kuat untuk belajar namun tidak meninggalkan latihannya. Dia berharap agar teman-teman tuna rungu di Salatiga, terutama juga memiliki motivasi yang kuat untuk belajar, baik itu belajar berkomunikasi dan belajar di sekolah. Kelemahan dalam fisik bukanlah hambatan, asal mau berusaha, menurut Vincent.

“Harus fokus dengan masa depan, jangan menengok ke kanan-kiri. Harus belajar komunikasi yang baik dan banyak belajar. Karena di masyarakat, bahasa itu sangat luas, tidak hanya bahasa dasar saja. Teman-teman juga harus berpikiran yang luas untuk masa depan. Dan tetap semangat belajar,” tegas Vincent yang ditujukan untuk teman-teman Komunitas Tuli Salatiga. (Baca juga: Bahasa Isyarat Untuk Semua)

Dan kini, Vincent tengah bergabung dengan Pers Mahasiswa Scientiarum (SA). Selama magang tiga bulan ke depan, dirinya ditantang untuk bergeliat di dunia pers kampus. Ketika ditanya mengapa ingin bergabung di SA, “Saya ingin menambah pengalaman,” tulisnya di catatan kecil. (Baca juga: Potret Pengumpul Rupiah di Balik Upacara Wisuda)

Gudang Prestasi:

  1. Tahun 2007: Juara 2 Popda Renang 100 meter  tingkat SD, Juara 3 Popda Renang 50 meter tingkat SD
  2. Tahun 2009: Ponprov Difabel 1 Solo meraih 1 emas dan 2 perak
  3. Tahun 2010: Juara 3 lari 800 meter tingkat SMP, Juara 2 lari 1.500 meter tingkat SMP, Juara 1 gerak jalan 28 km regu
  4. Tahun 2011: Juara 3 lari 800 meter tingkat SMP, Juara 2 lari 1.500 meter tingkat SMP, Juara 2 gerak jalan 17 km tingkat kota Salatiga
  5. Tahun 2012: Juara 2 lari “Cross Country” Salatiga-International School
  6. Tahun 2013: Juara 3 lari “Cross Country” Salatiga-International School, Juara 3 lari 100 meter tingkat Salatiga, Juara 1 lari 5000 meter Perparprov, Juara 1 lari 1.500 meter Perparprov, Juara 2 lari 800 meter Perparprov
  7. Lainnya, juara 1 pertandingan sepakbola tingkat SD se-kota Wonosobo dan juara harapan 2 lomba catur tingkat SD se-kota Salatiga.

Dita Asmara Sofyani, mahasiswi Fakultas Bahasa dan Sastra, angkatan 2011. Wartawan Scientiarum. Aktif juga sebagai relawan Komunitas Tuli Salatiga (KTS).

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas