HI Kunjungan Studi ke Luar Negeri, Haruskah?

Browse By

Program studi Hubungan Internasional (HI) Fiskom, merencanakan kunjungan studi ke luar negeri. Tahun ini, Hongkong jadi lokasi yang akan dikunjungi oleh mahasiswa HI angkatan 2013. Kunjungan yang akan dilakukan bulan Juni mendatang, menjadi program wajib bagi mahasiswa HI, sebagai prasyarat magang.

Sri Suwartiningsih, kepala program studi HI beralasan, diwajibkannya program ini karena mahasiswa HI perlu pengalaman langsung ke luar negeri. “Dengan berkunjung ke luar negeri, mahasiswa HI punya pengalaman langsung berinteraksi dengan kondisi masyarakat di luar Indonesia,” tutur Sri.

Dipilihnya Hongkong sebagai tujuan kunjungan studi, karena sudah ada ikatan kerja sama antara Fiskom dengan Konsulat Jenderal Indonesia di Hongkong. “Selain melakukan kunjungan, kita juga akan melihat kondisi sosial masyarakat kita di sana, lewat pertemuan dengan mahasiswa dan TKI yang berada di Hongkong,” tambahnya.

Program kunjungan ke luar negeri ini diperkirakan menghabiskan dana Rp 15 juta per orang. Tetapi, biaya tersebut menurut Sri belumlah pasti. “Tergantung kurs Rupiah juga, jika sampai bulan Juni kurs Rupiah menguat, tidak menutup kemungkinan biaya bisa dipangkas,” papar Sri.

Meski begitu, sempat terjadi protes oleh beberapa mahasiswa HI. Gabriela Agmassini Pramesvari, mahasiswi HI 2013, memprotes lantaran alasan tempat yang terlalu jauh dan biayanya terlalu mahal. “Mengapa harus ke Konsulat Jenderal Indonesia di Hongkong, jika kita bisa melakukan kunjungan ke negara tetangga, seperti Singapura atau Malaysia yang lebih dekat?” tuturnya.

Kurnia Candra Sartika, mahasiswi HI 2013, mengatakan, jauhnya lokasi dan program yang merupakan prasyarat magang, menjadi keluhan bagi mahasiswa HI yang lain. Menurutnya, meski rencana kunjungan menuai kritik, Kurnia yang akrab disapa Nia menaruh harapan besar pada program ini.

“Lewat kunjungan ini, saya berharap dapat menambah koneksi dan relasi dengan pihak luar, karena setelah lulus, lulusan HI diarahkan untuk menjadi diplomat,” ungkap Nia.

Fajar Ardiansah, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra, angkatan 2013. Wartawan magang Scientiarum.

Penyunting: Robertus Adi Nugroho

2 thoughts on “HI Kunjungan Studi ke Luar Negeri, Haruskah?”

  1. Fandi says:

    Di ajar dri awal biar nanti jdi pejabat kan studi bandingnya jg ke luar negeri… biasalah negara bru maju tu blm bisa di ajak mikir yg rasional..

  2. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Kenapa juga harus ke Hongkong, sedangkan MEA menyongsong?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *