Pembantu Rektor II: Jangan Melayani dengan Nggrundel dan Mrengut!

Browse By

Teguh Wahyono (kiri) dengan Paulus Winarto (kanan), motivator dari John Maxwell Team Certified Member, saat “Seminar Motivasi Kerja”. | Dok.BTSI/Dian Mei

Teguh Wahyono (kiri) dengan Paulus Winarto (kanan), motivator dari John Maxwell Team Certified Member, saat “Seminar Motivasi Kerja”. | Dok.BTSI/Dian Mei

Rangkaian acara program bulan semangat kerja (11 Maret-10 April 2015) yang dicanangkan John Titaley, rektor UKSW, merupakan program perdana bagi universitas di kaki gunung Merbabu ini. Agenda bertema “Semangat Bekerja, Semangat Melayani, untuk Hari Depan yang Lebih Baik!” berguna meningkatkan motivasi dan semangat kerja pegawai non-akademik UKSW.

Seminar Motivasi Kerja bagi semua pegawai non-akademik UKSW menjadi pembuka acara, lalu berakhir dengan Pelatihan Etika dan Penggunaan Internet bagi staf administrasi fakultas/unit. Selain itu, diadakan pula kegiatan Pelatihan Kepemimpinan bagi Pimpinan Unit, Kepala Biro, Kepala Bagian dan Kepala Sub Bagian; serta Pelatihan Office Administration bagi staf adminstrasi fakultas/unit.

Teguh Wahyono, Pembantu Rektor (PR) II UKSW, menjelaskan, bulan semangat kerja menjadi tanggungjawab PR II, bekerja sama dengan Satuan Tugas Pengembangan Sumber Daya Manusia UKSW.

“Semangatnya agar meningkat. Bagi yang semangatnya mulai turun dapat ditingkatkan. Kita ingin meningkatkan motivasi kerja. Ada kala pegawai dalam bekerja itu malas, ada kala pula membara. Ayo semangat! Semangat!” tutur Teguh.

Teguh memiliki harapan, agar agenda ini berjalan rutin. Menurutnya, peningkatkan kembali semangat kerja pegawai non-akademik merupakan tanggungjawab PR II di pengembangan SDM.

Adapun, pegawai non-akademik itu terdiri dari pegawai staf dan karyawan dari Bagian Adminstrasi dan Registrasi Akademik (BARA), Biro Manajemen Kampus (BMK), Keamanan dan Ketertiban Kampus (Kamtibpus), Biro Teknologi dan Sistem Informatika (BTSI), Perpustakaan Universitas Notohamidjojo, serta Tata Usaha dan Pegawai Adminstrasi setiap fakultas/unit. Namun, khusus bagian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yaitu poliklinik, petugas keamanan dan petugas parkir tidak mengikuti kegiatan tersebut.

“Setiap pegawai memiliki kewajiban bekerja untuk kepentingan bersama. Jika pegawai termotivasi dengan baik, otomatis produktivitas juga akan baik. Kita juga akan ada evaluasi setelah kegiatan ini,” ungkap Teguh.

Teguh juga menuturkan, pegawai non-akademik bekerja bukan untuk melayani diri sendiri, melainkan melayani kebutuhan orang banyak. “Lakukanlah pelayanan itu dengan baik, jangan melayani dengan nggrundel dan mrengut (bersungut-sungut dan cemberut – red)!” tambahnya, diikuti gelak tawa.

Danang Tri, pegawai Gedung Adminstrasi Pusat (GAP) UKSW bagian Nilai, Ijazah, dan Wisuda, menyatakan senang dengan pelatihan ini. Danang mengungkapkan, bahwa dulu pernah ada pelatihan di Bandungan, namun setelah itu tidak ada lagi.

“Kalau cuma semangat tok, ndak maksimal. Saya berharap, agenda seperti ini bukan hanya soal semangat saja. Namun, lebih kepada kerja untuk membangun tim, karena memang ada rekan-rekan yang belum mendalami pekerjaannya,” imbuhnya.

Silvia Suryantini, pegawai BTSI, berpendapat bahwa agenda ini adalah momen istimewa dan penyegaran bagi pegawai non-akademik. Menurutnya, pegawai juga mendapat suntikan bahwa “aku diperhatikan pimpinan”. “Pimpinan memiliki visi yang bagus. Tendensi kerja kita bukan hanya mencari kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan batin,” ungkapnya.

Silvia juga menyatakan ketertarikannya kepada motivator, Paulus Winarto. Motivator dari John Maxwell Team Certified Member ini menjadi pembicara saat seminar, (11/03).

Ke depannya akan ada penilaian khusus terhadap kinerja pegawai non-akademik. Absensi juga akan diterapkan dengan alat sidik jari. Saat ini, alat itu sudah diuji cobakan pada ibadah tiap Senin di Balairung Universitas.

Pranazabdian Waskito, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, angkatan 2014. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

One thought on “Pembantu Rektor II: Jangan Melayani dengan Nggrundel dan Mrengut!”

  1. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Kalo ada yang nggrundel dan mrengut itu wajib ditinjau ulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *