Hujan itu Mesin Waktuku

Browse By

-font-b-Umbrella-b-font-Girl-in-the-font-b-Rain-b-font-PALETTE-KNIFE

hujan itu mesin waktuku,

sedari tadi belum juga turun

awan gelap hanya menggelayut disana

tak kuasa melepaskan butir-butir pengingat kembali

padahal aku berharap segera turun hujan deras

tak apalah sejenak menikmati suasana romantis nan pedih

hanya menikmati bukan hendak menangisi

hanya mengenang bukan hendak mengulang

sepertinya juga takkan mungkin

hujan itu mesin waktuku,

memberikanku kesempatan menjemput kenangan

yang sudah terkubur jauh di dalam

tergantikan oleh bangunan-bangunan memori baru

hujan itu mesin waktuku,

yang menghadirkan puing-puing rasa sesalku pada tetes-tetes air yang jatuh

yang serta merta membawaku kembali

saat tawa dan tangis terjadi bersamaan

membuatku mempertanyakan lagi alasan segala keputusanku dulu

entahlah, semua sudah terjadi

aku hanya akan terkenang, dalam diam

hujan itu mesin waktuku,

ketika aku dan kamu yang ada di masa lalu,

dipertemukan lagi di masa sekarang

walau hanya sebentar

saat hujan.

Dylan Pieter Leatemia, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra, angkatan 2008.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *