Drama “Lion King” FBS, Broadway-nya Indonesia

Browse By

Salatiga, 26 Maret 2015, waktu menunjukkan pukul 13.15 WIB. Saya berjalan menuju Balairung Universitas (BU) untuk menemui Theodora Amy, produser drama Lion King Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), untuk mewawancarinya perihal persiapan drama yang akan digelar malam ini.

Sesampainya di depan BU, ada beberapa panitia drama tengah sibuk menyiapkan bermacam piranti acara, dan beberapa pemain yang menunggu giliran dirias. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Theodora Amy atau biasa dipanggil Dora, pun datang. Saya langsung digiring untuk mewawancarainya di lantai 2. Ia mengajak seorang pemain bersamanya, Oscar Karwur, pemeran Simba dewasa.

“Kenapa memilih Lion King?” tanya saya, mengawali percakapan.

“Karena ini bertepatan dengan ulang tahun kami yang ke-20, kami memutuskan untuk menampilkan sesuatu yang spektakuler, lewat Lion King dengan rasa broadway,” jawabnya dengan lengkung merekah di bibir, walaupun tetesan-tetesan keringat menetes dari dahinya.

Saya kemudian bertanya tentang hambatan yang dihadapi. ”Ada empat kendala yang kami hadapi, yaitu mengenai kostum, set, dana, dan menyatukan ide semua kru dan cast (pemeran – red),” paparnya.

Kemudian, saya pun mengalihkan pertanyaan ke Oscar karwur.

“Bagaimana perasaannya menjadi salah satu peran utama ?”

Dengan wajah penuh riasan dan leher dipulas merah, ia menjawab dirinya sangat senang walaupun ini kali keduanya ambil bagian dalam drama tahunan FBS. “Drama ini sangat mengharukan, saya bahkan sempat menangis saat proses latihan, saya sampai merinding saking megahnya.”

Kemudian saya diajak Dora berkeliling ke dalam BU yang nantinya akan disulap menjadi salah satu saksi bisu mahakarya FBS. Setelah berjalan menembus tirai hitam—sekat antara gerbang masuk dan tempat acara—saya melihat beberapa kru. Di balkon atas, ada dua orang kru tengah mengatur pencahayaan. Sedangkan di depan saya, beberapa kru bagian musik menyetem alat musik dan berlatih vokal.

Selang beberapa saat, Dora memanggil seorang yang tengah melatih gerak tari beberapa pemain drama. Yang tak lain adalah Hezky Chrisna, sutradara drama. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menyinggung tentang tarian dan gerakan. Ia menjelaskan bahwa drama ini akan mencampurkan unsur Indonesia dengan broadway. “Gerakan tarinya saya combine  (mengkombinasi-red) dengan tarian Kalimantan. Jika broadway kan gerakan tariannya Afrika, kami akan menonjolkan sisi Indonesianya.”

Ia menambahkan, jika drama ini akan menonjolkan sisi manusianya di semua segmen. “Tidak hanya para pemain, namun latar seperti rumput juga akan divisualisasikan secara manusiawi.”

Setelah melihat padatnya kehidupan balik panggung drama Lion King, saya memutuskan untuk pulang dan menunggu jam lima sore, saat gerbang acara dibuka untuk penonton.

Ketika matahari mulai menurunkan cahayanya dan sang bulan mulai bangun dari tidur siangnya, saya datang kembali ke BU, ditemani Anne, rekan wartawan foto, untuk menonton perhelatan besar.

Walaupun jarum jam belum menyentuh lima tepat, sudah terlihat kerumunan orang berkumpul di depan gerbang BU. Mereka otomatis berbaris mengular untuk menukarkan tiket.

Antrian mengular di depan BU.

Antrian mengular di depan BU.

Sambil menunggu antrian berkurang dan Anne mendapatkan ijin meliput, saya menghampiri dua orang penonton yang sedang asyik bersenda gurau, duduk-duduk di tangga depan. Salah satunya, Anna dari SMA Lab Satya Wacana, mengungkapkan ekspektasi positifnya. ”Dramanya pasti akan bagus karena krunya yang banyak dan persiapannya yang lama.”

Antrian kian berkurang. Tanpa membuang waktu lagi, saya langsung duduk di kursi sayap kiri bagian tengah, sehingga jarak dan ruang pandang saya pun terlihat jelas. Namun, berbeda dengan saya, Anne memutuskan untuk meliput di lantai dua.

Acara dimulai dengan dua orang yang berjalan menuju sisi kanan dan kiri panggung yang kemudian mereka berhenti dan berdiri di masing-masing tangga yang mengapit panggung. Seorang laki-laki memakai setelan jas tuksido dan perempuan bergaun merah menyala. Setelah pembacaan sinopsis singkat dalam dwi bahasa: bahasa Indonesia dan Inggris, drama dimulai. 

Simba, Sang Raja Baru

Mufasa dan Sarabi, pasangan raja dan ratu singa, tengah bersuka-cita atas kelahiran anak mereka, Simba. Banyak hewan datang menyambut berita bahagia ini, ada jerapah, gajah dan bangau yang terlihat menari dengan gembira.

Cerita pun berlanjut, Simba kemudian tumbuh menjadi pribadi ceria dan memiliki banyak teman. Dengan penjagaan dan kasih sayang ayahnya, Simba dapat hidup bahagia bersama keluarga dan teman-temannya.

Namun, kebahagiaan Simba tak berlangsung lama. Simba kecil terusir dari kerajaannya, setelah pamannya yang licik, Scar, berhasil membunuh Mufasa dan menuduh Simba pelaku keji itu. Simba pun lari ke hutan dan bertemu dengan dua sahabat baru, Timon dan Sumbaa. Kehadiran mereka mengajari Simba untuk berdamai dengan masa lalu. Lewat “Hakuna Matata” yang berarti jangan khawatir, Simba bertahap belajar berdamai dengan masa lalu.

Simba dewasa yang telah berubah bertemu kembali dengan Nala, teman masa kecilnya. Pertemuan dengan Nala membangkitkan kembali memori masa lalu Simba, hingga membuatnya bertekad merebut kembali kerajaan di tangan pamannya.

Akhirnya, lewat duel yang sengit, Simba berhasil mengalahkan pamannya dan kerajaan kembali bersukacita. Para binatang pun menari bahagia untuk menyambut zaman keemasan baru bersama raja Simba.

Dalam drama ini, tampak semua kostum pemain dibuat dengan detil dan tak main-main. Contohnya, kostum jerapah yang dipakai oleh pemain pada adegan pertama, setiap kaki-kakinya memakai tongkat tinggi (macam egrang, alat bermain jangkungan) guna meniru persis hewan jerapah. Ditambah juga lewat nuansa batik yang terbubuh dalam setiap balutan kostum pemain inti, seperti raja Mufasa dan ratu Sarabi. Ini yang dimaksud Hezky bahwa sisi Indonesia pun tidak kalah tampil.

Pemilihan peran yang apik dan ekspresi yang tepat para pemain, bisa mewakili dengan baik setiap emosi tokoh. Simba kecil yang ceria ditampilkan pas oleh pemerannya dengan selalu melempar senyum pada penonton. Sedangkan Mufasa, yang di sepanjang pertunjukan selalu berdiri tegap dan tanpa melakukan terlalu banyak gerakan, dengan tangkas menampilkan karakter seorang raja hutan.

Saat dua teman Simba, Timon dan Sumbaa muncul, khidmat penonton pecah dengan gelak tawa dan suara cekikikan yang lambat laun makin keras, baik dari penonton di lantai bawah ataupun lantai atas. Walaupun mengunakan bahasa Inggris, pemeran Timon mampu memberi nuansa lucu lewat banyolan-banyolannya yang menyentuh bibir para penonton hingga keluar segurat senyum. Tidak hanya lewat kata-kata di dialog saja, tetapi pemeran Timon juga menyuguhkan kelucuan lewat ekspresi dan mimik muka yang menggelitik perut.

Beda lagi dengan kehadiran Nala. Pertemuan romantis Simba dan Nala mengantarkan ungkapan, “oooooww,” menggema dari beberapa mulut penonton.

Sehabis acara, saya mendengar dua orang asing yang sedang berdiri terpaku di dekat pintu masuk mengucapkan, “It’s really amazing, especially the costum, incredible!”

Lontaran kepuasan pun tidak hanya datang dari penonton tapi juga dari panitia. Tessa, salah satu panitia, mengungkapkan kepuasannya pada drama ini. “Puas banget, kita sudah tujuh bulan kerja keras,” katanya.

Seperti mengamini kata Tessa, Oscar yang saya temui sehabis pentas, setelah sibuk dengan banyaknya permintaan foto dari penonton, pun mengungkapkan kebahagiannya. ”Saya sangat puas, tapi saya tidak mau berlebihan. Ini baru hari pertama,” ungkapnya.

Mengacu pada ungkapan Oscar, drama tahunan FBS ini memang selalu diadakan selama dua hari.

Dari Tugas Kuliah, Sampai Medium Promosi

Bertempat di kediaman Erio R.P. Fanggiade, dosen FBS yang sekaligus salah satu supervisor drama fbs tahun ini, saya menggali lebih dalam tujuan mula-mula adanya drama FBS, sampai kini.

“Awalnya ini adalah tugas akhir mata kuliah elective theater acting,” terang dosen yang akrab dipanggil Rio ini. Yang dimaksud Elective theater acting Rio, adalah pilihan mata kuliah yang boleh diambil mahasiswa atau tidak.

Rio menambahkan jika banyak sekali perbedaan yang terjadi dari awal drama yang dibuat hanya untuk kepentingan tugas mata kuliah, sampai sekarang yang menjadi salah satu medium promosi FBS.

Berkaitan dengan medium promosi, Rio mejelaskan pemilihan drama musikal karena penonton lebih senang dengan jenis drama ini. ”Pada tahun 2009 kami pernah menampilkan drama yang bertema tragedi, walau ceritanya bagus namun banyak penonton yang bingung, mungkin karena ceritanya dari awal serius terus,” terangnya.

Lebih lanjut Rio juga mengatakan jika sampai tahun 2010, drama ini belum menjadi student production. “Mahasiswa masih menjadi asisten , urusan teknis lapangan dan interpretasi skrip masih menjadi kewenangan dosen,” jelasnya.

Namun, karena fakultas juga mempertimbangan kemandirian mahasiswa, maka pada 2010, drama sudah diambil alih sepenuhnya oleh mahasiswa, dan dosen hanya sebagai pembimbing.

Di akhir pembicaraan, saat saya singgung mengenai peningkatan yang akan dilakukan di tahun depan mengingat pencapaian tahun ini. Rio menjawab jika setiap drama punya keunikan tersendiri. “Setiap drama itu unik, bisa dari lagunya, kostumnya atau ceritanya. Jadi kami tidak takut kehabisan kata ‘hebat’. Terlebih setiap tahun kami selalu mendapat tim yang hebat,” pungkasnya.

Fajar Ardiansah, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra, angkatan 2013. Untuk foto, Anne Sabandar, mahasiswi Fakultas Biologi, angkatan 20114. Keduanya wartawan magang Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

2 thoughts on “Drama “Lion King” FBS, Broadway-nya Indonesia”

  1. Arya Adikristya Nonoputra says:

    FBS apa gak rindu bikin drama dengan cerita rakyat lokal ya?

  2. kemat says:

    Post yang bagus, saya suka… aku tunggu post” selanjutnya 🙂

    Jangan lupa kunjungi web saya ya..hehe

    Download kumpulan video terbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *