Peringati Hari Bumi, Mitra Gahana Tanam Biopori

Browse By

Siang  yang tak panas itu, 10 April 2015,  di sudut lapangan bola dekat Balairung Universitas Kristen Satya Wacana, tak seperti biasa. Terdapat kain hitam yang melingkari salah satu pohon berbatang gemuk, akarnya menggunduk, dan rimbunnya ranting dan dedaunan. Sesajen juga terdapat di bawah pohon yang mendadak agak klenik.

Pada badan pohon, ada sebilah papan bertuliskan, “Jangan keramatkan aku! Tetapi lindungilah aku! Dukung moratorium hutan!!! Luas hutan kita tinggal >94 juta.” Tidak jauh dari pohon itu, perhatian sivitas akademika yang lalu-lalang, seolah juga tercuri dengan papan-papan triplek penuh lukisan, di jalan setapak antara Balairung Universitas dan Lapangan Sepak bola.

Papan itu adalah hasil karya dari lomba poster yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam (HMPA) Mitra Gahana, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB). Lomba ini diadakan dalam rangka agenda acara HMPA Mitra Gahana, dengan sebuah tema “Resapanku untuk Tanahku”, selama tiga hari mulai  9-11 April di kawasan kampus Diponegoro.

Tak hanya bekerja sendiri, HMPA Mitra Gahana menggandeng Senat Mahasiswa FEB serta Senat Mahasiswa Universitas, untuk guyub membenahi resapan-resapan tanah di lingkungan kampus.

Saya mampir ke tenda jaga. Terlihat hanya seseorang yang menjaganya, Y.C Gatradi Wisnu namanya. Sambil melihat suasana sekitar, saya bercengkrama ringan dengan Gatradi.

“Ngopi-ngopi dulu mas!” sambut Gatradi menawari kopi, gula, air, dan gelas yang ada di meja.

Jalan menuju tempat pembuatan Biopori, berjejer papan-papan berisi gambar dan tulisan yang sarat suara kepedulian akan kelestarian alam. Macam: Stop Watter Polution!!!, Air Gratis untuk Rakyat! Papan-papan poster akan berdiri selama 10 hari.

Jalan menuju tempat pembuatan Biopori, berjejer papan-papan berisi gambar dan tulisan yang sarat suara kepedulian akan kelestarian alam. Macam: Stop Watter Polution!!!, Air Gratis untuk Rakyat! Papan-papan poster akan berdiri selama 10 hari.

Gatradi menjelaskan, rangkaian agenda ini dilakukan untuk memperingati Hari Bumi, 22 April mendatang. Tanpa banyak basa-basi, ia menyarankan saya agar langsung menuju lokasi antara gedung B dan E untuk melihat aksi konkretnya secara langsung.

Tanpa menunggu lama, saya putuskan untuk melangkahkan kaki ke lokasi.

Kini, saya bertemu dengan Didik Margianto, ketua dari HMPA Mitra Gahana FEB. Dengan baju hitam, celana pendek, dan tangan berwarna coklat penuh tanah, Didik menjelaskan,  latar belakang kegiatan ini adalah melihat tanah yang tergenang air saat musim hujan dan kering saat musim kemarau.

“Kita pengen ngelakuin apa yang bisa buat kampus,” tuturnya. Sekitar 30-an mahasiswa yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, seperti melubangi tanah dan menimbun dedaunan. Terdapat pula potongan-potongan pipa di gerobak. Pipa-pipa itu ialah piranti untuk membuat pupuk kompos dari dedaunan.

“Kita membuat lubang resapan biopori agar tanah subur. Hasilnya adalah pupuk kompos yang dapat digunakan setahun sekali,” tambahnya.

Didik menjelaskan, pertama tanah dilubangi, setelah itu pipa dipasang ke dalam tanah, dedaunan dimasukkan ke dalam lubang, ditutup dengan kawat jaring, terakhir pada bagian atas diletakkan batako. Setelah dua bulan, dilakukan peninjauan dan perawatan. Hal ini dilakukan karena daun yang ditimbun telah mengendap, dan harus ditambah dengan daun-daun yang baru.

“UKSW sudah hijau, tapi ada bibit dan kompos yang tak terurus. Kita akan bekerjasama dengan BMK bagian Pertamanan untuk bak kompos yang sekarang jadi bak kayu juga,” tambahnya.

Mitra Gahana juga bekerjasama dengan Biro Manajemen Kampus bagian Pemeliharaan dan Pendayagunaan Aset, untuk berbagi wilayah yang akan diperbaiki.

“Selain di antara gedung B dan E, kita juga akan ke depan Laboratorium Biologi dekat Fakultas Teknologi Informatika, di area gedung F, serta belakang gedung G,” tutur Didik.

Ditanya soal pohon di sudut lapangan bola, Didik menuturkan tujuan penyematan tidak untuk mengkeramatkan pohon itu. “Pohon itu juga punya rasa seperti manusia, ada auranya ketika dipotong tampak berubah. Pohon harus dihormati,” tambahnya.

Mitra Gahana juga mengundang mahasiswa pencinta alam atau perwakilan Lembaga Kemahasiswaan tiap fakultas.

“Daripada jadi genangan air, mendingan kita buat pori-pori air hujan. Acara ini bagus tidak hanya mencegah air, tapi juga untuk tidak tergantung pupuk buatan tetapi menggunakan kompos,” tutur Antonius Krisna Sahadewa, dari Mapala FTI yang turut  ambil bagian.

Pranazabdian Waskito, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, angkatan 2014. Wartawan aktif Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

One thought on “Peringati Hari Bumi, Mitra Gahana Tanam Biopori”

  1. Favian Reyhanif says:

    Ketua HMPA Mitra gahana adalah Yossi Eko untuk peruide 2014-2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *