Suci, Perawan Remaja

Browse By

Perempuan muda itu membungkukkan kepalanya hingga sebentar lagi sejengkal dari tanah. Dia terlihat kebingungan, raut wajahnya menampakkan bahwa ia sangat kelelahan. Dia meraba-raba dengan telapak tangannya di setiap sudut. Sambil meraba-raba, matanya pun tertuju ke tiap telapak tangannya itu meraba. Bahkan lubang semut turut diperiksanya. Hingga akhirnya ia menemukan apa yang dicari-cari, dia bernafas lega.

***

Perempuan muda itu bernama Suci. Bapaknya yang memberi namanya dan itu menjadikan kebanggaan bagi keluarga bahkan kebanggaan satu kampung. Terang saja mengingat Suci ini masih perawan, semua di kampung ini sudah sebagian besar tidak perawan. Harap maklum saja bahwa hormon para gadis dan pemuda di kampung ini sudah hampir sama seperti gajah pada masa birahi — tidak dapat ditahan. Alkisah, ini semua bukan masalah para pemuda, tetapi para perawan remaja yang selalu menggoda. “Perempuan itu bawa dua gunung.” Itulah guyonan yang kerap dikeluarkan para pemuda, terkadang ada sampai yang terkencing-kencing mendengarnya saking lucunya guyonan tersebut. Dan seiringnya waktu tidak pernah ada yang tahu misteri ini.

Suci.

Suci adalah anak satu-satunya dan anak paling tersayang. Suci tidak pernah mengenal dunia luar, yang ia tahu hanyalah sembahyang dan mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan setelah haid pertama kalinya sudah selesai pun, Suci belum berani bermain di luar rumah. Takut adalah jawaban yang selalu diucapkan Suci. Ibunya kebingungan, di satu sisi sang ibu merasa lega.

Kesucian Suci menjadi perbincangan seluruh kampung seiiring waktu berjalan. Suci sudah menjadi gadis, umurnya sekarang sudah 17 tahun tapi belum ada satupun pria menghampiri rumah Suci. Suci selalu di rumah membantu ibu di dapur. Ibu-ibu dan bapak-bapak berkumpul di rumah Pak RT untuk melakukan diskusi. Diskusi paling penting tahun ini.

Seorang ibu yang masih mengenakan daster berwarna ungu dengan balutan legging bermotif animal print dengan gincu merah, yang pertama kali membuka diskusi.

“Suci ini anak paling berprestasi dalam sejarah kampung ini. Suci ini mungkin malaikat, yah?”

“Tidaklah. Kamu belum lihat saja pembawa acara musik pagi di stasiun TV Z,” tiba-tiba seorang bapak berbadan gendut menimpali ibu tersebut.

“Suci ini bukan perempuan kalik,” lalu seorang ibu gendut turut menimpali.

“Hush! Lambene!” ibu yang pertama kali memulai diskusi menatap tajam.

Suasana menjadi kacau. Semua saling menimpali dan berasumsi. Bahkan bapak-bapak yang sejak pagi tadi sudah terkantuk-kantuk mulai saling menimpali. Pak RT dengan bijaksana memukul meja lalu mengambil alih diskusi.

“Kita tahu bahwa semua ini adalah peranan orangtua Suci yang telah membesarkan Suci. Jadi, kita mungkin akan memberikan penghargaan tidak kepada Suci, tetapi kepada orangtua Suci. Kita tahu bahwa keluarga Suci baik-baik saja.”

Semua saling menatap dan manggut-manggut. Tidak ada satupun yang menunjukkan raut wajah penolakan, semua tampak senang. Bagi mereka tidak ada argumen yang kuat untuk membalas apa yang Pak RT katakan. Semua warga kampung sudah sepakat bahwa besok malam mereka akan memberikan beberapa hadiah dan medali untuk orangtua Suci. Maka diskusi kampung itu berakhir dengan damai. Lalu aktifitas mereka kembali seperti awal, para bapak-bapak kembali ke warung makan dan para ibu-ibu pulang ke rumah untuk gawe di dapur atau mulai mengobrol.

Esoknya, matahari sudah hampir terbenam. Udara sudah mulai terasa dingin dengan hembusan angin yang sesekali menyentuh bulu kuduk. Berbondong-bondong warga datang ke rumah Suci. Ketika warga mengetuk pintu rumah Suci dan beruntungnya Suci yang membuka pintu untuk mereka. Suci memberikan senyum manis.

“Silahkan duduk, Pak, Bu. Saya izin ke belakang dulu, tapi mohon maaf kalau kopi di rumah sudah habis,” Suci hendak pamit namun dicegat oleh Pak RT.

“Tunggu dulu, Suci. Tidak perlu repot-repot. Kami hanya ingin berbicara barang 10 menit sama kamu.”

Suci mengangguk dan duduk.

“Ada bapak kamu atau ibu?” tanya Pak RT.

“Ibu dan bapak ada di belakang.”

Sayup-sayup terdengar suara rintihan.

Salah seorang ibu mencolek pundak Pak RT, memberikan kode bahwa bapak dan ibu Suci sedang melakukan hubungan seksual. Bagi warga kampung ini sudah menjadi hal biasa, mengingat bahwa seks sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Pak RT lalu menganggukkan kepala dan mulai duduk dengan wibawa.

“Bapak dan seluruh warga sudah sepakat untuk memberikan penghargaan buat kamu dan orangtua kamu, karena pencapaian yang sudah menjaga keperawanan kamu.”

“Saya sudah tidak perawan, Pak,” ujar Suci dengan tegas.

Warga saling bertatapan satu sama lain. Semua terkejut. Bahkan ibu ber-legging macan tutul tadi pagi hampir terkencing-kencing mendengarnya. Tidak ada yang berbicara. Hening.

“Saya juga sudah hamil, Pak. Saya sudah tidak mendapatkan haid selama tiga bulan,” Suci mulai mengelus perutnya.

Pak RT mencoba mengambil napas sejenak.

“Apa kata bapak dan ibu tahu nak Suci ini sudah hamil?”

“Mereka senang, Pak,” Suci tersenyum tulus.

Pak RT kebingungan setengah mati. Pak RT sesekali menggaruk kepalanya yang botak atau membenarkan kancing kemeja batiknya yang tidak bermasalah. Pak RT memilih mencoba memilih kalimat yang pantas — mengingat dalam pikirannya hanya masalah vagina dan dua bongkah payudara Suci.

“Jadi, kamu tahu bapak dari si jabang bayi?”

Suci mengangguk pelan.

“Saya akan tunjukan, Pak. Tunggu sebentar yah, Pak, Bu.”

Beberapa saat kemudian Suci kembali sambil membawa sebuah kardus mie instan. Baunya tidak keruan. Bau bangkai. Beberapa mencoba menutup hidung, tetapi bau dalam kardus itu terlalu menyengat.

Suci memberikan kardus tersebut ke Pak RT. Beberapa warga sembari menutup hidung mengintip satu sama lain. Ketika dibuka Pak RT hanya terdiam tidak mengucap sepatah kata pun. Bibirnya kelu, matanya terbelalak.

Potongan kelamin penuh darah dan nanah dalam isi kardus tersebut. Bau amis tercium tajam. Pak RT menatap kardus sambil sesekali menatap wajah Suci, namun Suci hanya tersenyum. Suci masuk ke dalam kamar dan keluar dengan bapaknya.

Suci dan bapaknya.

Bapaknya dengan lumuran darah di selangkangnya. Bapaknya hanya bisa merintih pelan.

“Bapak telah mendidik saya dengan baik, mengajarkan tentang seksualitas. Saya hanya ingin menunjukan siapa ‘bapak’ sebenarnya kepada bayi saya.”

Suci hanya tersenyum.

Anzi Matta, pelukis cum penulis muda kelahiran 3 Oktober 1996. Lulus SMA tahun 2014. Pernah menerbitkan buku dengan sistem produksi independen ketika kelas 1 SMA lalu mandeg dan fokus menulis esai. Pecinta sosiologi dan sejarah. Pernah menyelenggarakan pameran “The Women Build Heaven” di Porto, Portugal. Kini menetap di Magelang, Jawa Tengah. Sering menulis di anzimatta.tumblr.com dan aspatall-hospitall.blogspot.com. Ikuti kicauannya di @anzimatta.

Penyunting: Indrika Dermadibyo Tiranda

2 thoughts on “Suci, Perawan Remaja”

  1. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Ini salah satu cara menarik membahas dunia seks: lewat cerpen. Mengapa seks dianggap tabu untuk dibicarakan? Karena ada yang membikinnya tabu. Padahal, kata Gde Aryantha Soethama, penulis esai untuk majalah Sarad di Bali, pernah bilang kalau seks tidak cukup dipandang dari satu sudut. “Yang membahas seks secara terang-terangan, sama banyak dengan yang membicarakannya bisik-bisik dan sembunyi-sembunyi. Yang mengungkap seks dengan gairah bergoyang-goyang, bisa sama jumlahnya dengan yang menyatakannya dengan tenang, kalem, anggun, perlahan,” tulis Gde pada buku Bali Tikam Bali, terbitan Arti Foundation.

    Puncak seks tidak selalu ledakan, bisa juga berupa ketenangan.

  2. Happy says:

    Kasihan buat kaum wanita jika sudah tidak perawan bisa jadi aib da luka seumur hidup tapi tidak ada hukum atau aturan apapun tentang pria yang sudah tidak perjaka alias sudah melakukan hubungan seks tanpa atau diluar nikah tidak ada sanksi hukum atau hukum adat, biar seimbang sebaiknya tidak usah permasalahkan perawan atau bukan, asal dia belum menikah berarti perawan 100% begitu pula buat laki-laki tidak pernah dipermasalahkan dia perjaka ting-ting atau perjaka keropos???

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *