Papua, Surga Kecil Jatuh ke Bumi

Browse By

“Tanah Papua tanah yang kaya. Surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah sebanyak batu adalah harta harapan.”

Sepenggal lagu yang dinyanyikan oleh Edo Kondologit dengan judul “Aku Papua”. Lagu merdu dan sarat makna, yang paling sering dinyanyikan oleh anak-anakku. Ya, anak-anak hebat yang sudah menemani hari-hariku selama hampir 10 bulan ini. Anak-anak super yang dari merekalah aku belajar banyak hal. Cinta kasih, ketulusan, pantang menyerah, semangat belajar hingga rela berkorban, dari si Cilik Kambar (Kampung Baru) SD Inpres Kampung Baru, Kokas, Fakfak, Papua Barat.

“Selamat ya, Lid, kamu dapat di Papua,” teringat perkataan seorang temanku, sambil menepuk-nepuk bahuku. Saat itu, sekitar bulan Mei tahun lalu, kami berada di camp pelatihan Pengajar Muda VIII di Cisarua. Seluruh Pengajar Muda mendapatkan pelatihan dari pedagogis, mental, fisik hingga cara menangani anak dalam sisi psikologis.

“Kenapa memang?” tanyaku padanya.

“Yah, bayanganku, di Papua itu, guru yang harus cari anak-anaknya untuk masuk sekolah. Bangunannya pun mungkin…” tambahnya sambil mengangkat bahunya.

Lemas langsung aku saat itu, tapi aku tetap yakin dan bersemangat untuk pergi ke Papua, yang kata lagu Edo Kondologit, “Surga Kecil Jatuh ke Bumi”. Setelah pengumuman penempatan, kami dipertemukan dengan alumni.

“Tenang, di sana tidak seperti itu kok. Sudah aspal jalannya. Bangunannya juga sudah kokoh dan berubin. Orang-orangnya juga baik. Wajah Rambo hati Hello Kitty,” kata mereka menenangkan.

“Ah, bener kak?” tanya kami penasaran.

“Iya, bahkan kalian akan puas makan ikan. Ikan mati sekali. Pancing,  langsung masak. Kalau di sini kan mati ratusan kali-pancing-bekukan-jual-kulkas-goreng. Makan buah pun sama, kalau musimnya, anak-anak murid pasti kasih buah banyak ke kalian,” aku lega sekali mendengar sedikit gambaran tentang Fakfak, kabupaten di mana kami tinggal setahun ke depan.

Benar saja. Pertama kali menginjakkan kaki di bandar udara Torea, rasa lelah karena perjalanan cukup panjang dari Jakarta-Ambon-Fakfak, terbayar lunas! Bandara yang mungil. Tapi, terlihat hamparan awan, hijaunya pemandangan, dan bentangan laut biru memanjakan mata. “Ah, asri sekali!” ucapku.

Di Fakfak, ada semboyan “Satu Tungku Tiga Batu”. Kristen, Katolik, Islam hidup berdampingan dengan harmonis. Semua orang bersaudara, baik Islam, Kristen, dan Katolik. Satu keluarga, bisa memiliki lebih dari satu jenis agama.

Keamanan? Alhamdulillah. Di Fakfak, walaupun motor mama asuhku disimpan di pinggir jalan, hingga saat ini, motor itu tetap aman dan terparkir rapi di tempatnya.

Perbedaan suku? Di sini, ada berbagai suku yang sudah tinggal, membumi, dan beranak pinak. Ada suku asli, Maluku, Manado, Makassar, Jawa dan lainnya. Mereka melebur menjadi satu: warga Fakfak.

Selama bertugas, kami tinggal dengan keluarga asuh. Dengan maksud agar kami mendapatkan perlindungan, perhatian dan kasih sayang yang sama dengan keluarga di tempat asal kami. Hal ini juga mengurangi perasaan rindu rumah dan keluarga selama penempatan. Keluarga yang menjadi tempat berkeluh kesah, membagi cerita dan kebahagiaan selama kami ditugaskan. Aku mendapatkannya, seorang ibu yang penuh perhatian, ayah yang sering bertukar pendapat, dan dua orang adik. Bersama merekalah, aku membagi asa dan tawa.

Pun demikian, saat mulai mengajar dan tinggal di masyarakat. Kami hanya ditemani satu minggu oleh Wiwik, pengajar muda yang bertugas tahun sebelumnya. Tugas kami di sini memang melanjutkan misi dan visi dari Indonesia Mengajar. Dia mengayomiku, mengenalkanku dan memberi banyak wejangan tentang Kampung Baru, desa tempat tinggalku setahun ini. Beserta isinya, dia juga kenalkan semua kepadaku.

Yang paling luar biasa adalah kecerdasan, kecekatan dan ide luar biasa dari anak-anak di sini. Anak-anak bisa menjadi Superman, pelukis, penyiar radio, adik, anak, petani, perenang, dan penjelajah. Apa pun mereka bisa.

Pertama kali berinteraksi dan mengajar dengan mereka, yang kupikirkan adalah betapa cerdas dan luar biasanya mereka. Lama-lama, karena tingkah mereka yang tidak bisa diam dan selalu bergerak sana sini, aku jadi berpikir. “Ya Allah, ada banyak Lidya kecil di sini! Kasiannya orang tua dan guruku dulu. Haha.” Tingkah mereka kadang lucu menggemaskan, kadang luar biasa menjengkelkan.

“Ibu, Ibu, sebentar katong belajar lai e? Tong pi ke rumah Ibu sudah (Ibu, Ibu, nanti kita belajar lagi ya? Kami ke rumah Ibu ya),” tanya mereka setiap hari saat pulang sekolah–menanyakan les sore dan malam.

Pernah suatu hari, saat aku bertanya kepada mereka. Kalau mereka punya kesempatan pergi sekolah keluar Fakfak, akan ke mana mereka pergi? Lalu, sebagian besar anak menjawab.

“Ibu, beta (saya) mau pi (pergi) sekolah di Jawa,” jawab mereka.

Kah? (Oh ya?) Baru ko (Terus kamu) harus bagaimana e?” tanyaku.

Tong harus rajin sekolah, belajar deng (dengan) berdoa!” tegasnya.

Di sini, anak-anak juga menjadi Superman cilikku. Saat dalam keadaan apapun, mereka sangat dapat diandalkan. Misal, saat bermain. Mereka akan melindungiku, menjaga agar aku tak jatuh, mendorongku agar selalu semangat, dan rela berkorban untukku. Apapun, mereka lalukan untukku. “Para Pahlawan” kecilku.

Anak-anakku tahu, aku suka buah. Dan mereka sering memberiku buah, apalagi saat musimnya. Mangga, durian, langsat, jambu biji, rambutan, dan sukun. Dari sebutir, hingga sekantong plastik penuh buah.

Hadiah buatan tangan mereka sendiri juga menjadi pemberian yang luar biasa indah, seperti bangun ruang yang dibentuk jadi rumah impian, dan hiasan dinding dari kerang.

Tak hanya itu, bak pelukis handal sekaligus pujangga hebat nan romantis, mereka berikan hasil karya lukis beraneka bentuk nan penuh warna serta surat cinta romantis, untukku. Mereka memberikannya pun dengan penuh kejutan: taruh di meja, diselipkan di tas, atau tiba-tiba saja diberikan di depanku. Manis romantis.

Anak-anak yang dengan semangat luar biasa, bagai tak kenal lelah, sering mengajakku bermain, bercanda, bertukar cerita, bahkan mengajariku banyak hal. Dengan kepolosan dan ketulusan mereka, anak-anak memberikan semua yang mereka bisa lakukan kepadaku. Potensi luar biasa yang mereka punyai, keinginan untuk belajar dan berkembang, serta kecintaan mereka pada gurunya, membuat mereka mudah untuk dicintai.

Pameri rumput dan memagari kebun.

Pameri rumput dan memagari kebun.

Sama seperti hari-hari yang sudah 10 bulan ini kami lewati bersama. Awal April ini, aku menatap sedih kebun sekolah kami yang sudah ada saat bulan Januari lalu, sekarang rusak dan berantakan. Hal ini karena kurang perawatan dan dimakan kambing. Saat itu, dengan lesu kupandangi mereka.

“Ibu, tong pu kebun su tra baik (kebun kita sudah tidak indah). Su (sudah) macam hutan saja,” kata mereka padaku.

Katong tra rawat baek-baek to (kita tidak jaga dengan benar). Jadi tong pu kebun jadi begitu sudah,” kataku.

“Itu sudah Ibu!”

“Yo sudah, tong kasih bagus lae e. Pameri rumput (memotong rumput dengan parang) kebun sebentar (nanti) sore e,” ajakku waktu pelajaran pagi itu.

Kami memang janjian jam 3 sore. Saat aku datang, sudah banyak anak yang datang dengan membawa parang, kecil-besar, laki-laki-perempuan. Semua mau turun tangan memperbaiki kebun sekolah kami.

“Ibu, tong (kita) biking pagar e? Biar kambing tra (tidak) masuk. Tra makan tong pu tanaman lae,” kata Majid, anakku kelas lima.

“Eh, tra usah. Kamong tra cape ka? Su pameri lai biking pagar,”

Trada Ibu, tong biking pagar biar aman to Ibu,”

“Sebentar malam lai tong jaga di kebun deng senter sudah,” kata salah seorang anak.

“Eh! Tra usah sudah. Kamong besok sekola to. Jangan e,” pintaku.

Awalnya pekerjaan tentram, tapi tiba-tiba ada dua kubu di antara mereka. Terjadi dua pendapat yang membuat mereka bertengkar mulut. Sehingga membuat kebun itu juga menjadi dua bagian dengan dibatasi oleh pagar yang mereka buat sendiri.

“Ibu ajak kamong buat bagus kebon biar tong bisa tanam bibit-bibit to, kalau su besar bisa dimakan bersama to. Baru ini, kamong malah bekelai lae. Padahal Ibu su mau pulang lho Nak,” kataku pada mereka.

“Ibu biking kebun lae biar kamong bisa inga Ibu to. Kenang-kenangan buat kamong dari Ibu. Biar Ibu su trada di sini, kamong tetap inga Ibu. Pas panen, petik, kamong makan, jangan lupa difoto e, kirim ke Ibu. Pamer, “Ibu tong su panen ini!,” lanjutku.

Tiba-tiba mereka menghentikan kegiatan mereka, dan hening.

Ih, Ibu,” kata salah satunya.

Esok sorenya, saat aku datang ke kebun sekolah, kami memang janjian untuk melanjutkannya. Aku melihat sudah banyak anak di kebun dan mulai bekerja. Bahkan, pagar pembatas di tengah di kebun sudah hilang.

Mereka sudah berbaikan. Mereka bekerja sama membersihkan rumput liar di seluruh kebun. Sebagian lagi, mencari kayu untuk pagar. Lainnya, mencangkul tanah untuk menanam bibit. Dalam dua hari itu saja, kebun kami yang kata mereka seperti hutan, berubah menjadi kebun yang rapi dan indah.

Pagar sudah melindungi sekeliling kebun. Berbagai macam bibit sudah ditanam. Tanpa mengenal menyerah.

“Ibu besok pi kota, kamong mau bibit apa kah?” tanyaku.

“Bibit bayam, jagung, rica (cabai) bole Ibu,”

“Apa lai?” tanyaku.

“Sudah Ibu, trausah. Ibu pu uang nanti habis,” kata mereka.

Begitu sayangnya mereka padaku, hal kecil pun begitu diperhatikan. Bahkan beberapa anak ikhlas memberikan bibit tanaman mereka untuk ditanam di kebun. Kebun kami memang rusak, namun tidak dengan semangat mereka. Mereka mengajarkan kepada saya untuk tidak pernah menyerah. Terima kasih anak-anakku di SD Inpres Kampung Baru, Kokas, Fakfak, Papua Barat.

Lidya Annisa Widyastuti, guru Indonesia Mengajar yang berdomisili di Kokas, Fakfak, Papua Barat. Alumni Fakultas Bahasa dan Sastra, angkatan 2008. Pernah menggeluti dunia pers mahasiswa di Scientiarum. Ikuti selengkapnya tentang Lidya, pada tautan berikut.

Penyunting: Pranazabdian Waskito

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *