Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Scientiarum di Mata LK: Wadah Diskursus atau Pajangan Informasi?

Rubrik Opini oleh

28 Maret  2015, saya sempat mengikuti forum diskusi yang diadakan Forum Pers Mahasiswa Se-UKSW. Forum diskusi bertema “Membangun Kesadaran Kritis” mengundang dua aktivis pers mahasiswa masa orde baru: Sebastian Soi dari pers mahasiswa Seutas, Universitas Atmajaya dan May Lan, aktivis pers mahasiswa Hayam Wuruk, Universitas Diponegoro. Saya  ingat, Sebastian mengatakan bahwa pers mahasiswa tidak lepas dari dukungan lembaga kemahasiswaannya.

Kata-kata itu terus terngiang dan membuat saya berpikir, apakah selama ini pers mahasiswa di UKSW pernah mendapat dukungan dari lembaga kemahasiswaannya? Bagaimana posisinya selama ini? Apakah hanya sekadar wadah pajangan informasi acara-acara kenamaan fakultas dan universitas? Atau sudahkah posisinya diakui sivitas sebagai wadah diskursus?

Dalam buku Sejarah Lembaga Kemahasiswaan UKSW yang disusun Senat Mahasiswa Universitas bersama PR III, dikisahkan perkembangan Scientiarum lewat tulisan Izak Lattu berjudul “Scientiarum: Anak Kandung Reformasi dari Rahim UKSW”. Anak kandung berarti anak yang terlahir dari benih atau rahim sendiri. Hal ini jelas dapat menggambarkan seperti apa posisi Scientiarum dalam UKSW, terutama bagi LK. Scientiarum lahir dari lembaga kemahasiswaan. Jika begitu, muncul pertanyaan selanjutnya: siapakah ayahnya? Siapakah ibunya? Mungkin bisa diterka ayahnya adalah BPMU dan ibunya adalah SMU. Dibesarkan di bawah asuhan dan didikan pengurus LK sendiri, Scientiarum harusnya menjadi bagian penting dalam keluarga besar UKSW. Ialah yang kelak akan menjadi jiwa dalam menyuarakan cita-cita sivitas akademika. Sebuah societas est scientiarum innixam imagodei, atau penggambaran mahasiswa sebagai subyek pendidikan dan bukan obyek semata.

Namun realita yang ada tak seperti yang diharapkan para pendiri SA. Satu atap tapi tak saling peduli. Mungkin bisa dibilang tidak mau peduli. Ibarat ungkapan populer anak zaman sekarang. “Loe..loe.. gue..gue..”  LK (loe)… SA (gue) end

Selesai. Berakhirlah kisah indah antara orangtua dan anak kandungnya.

Satu sama lain tidak ada yang saling mendukung. Mungkin karena kedua belah pihak sudah dipusingkan dengan urusannya masing-masing. Kegiatannya sangat banyak. Dua-duanya punya rencana masa depan sendiri-sendiri. Biar saja, toh yang penting melayani kepentingan khalayak mahasiswa. Seperti slogan LK periode ini, “Kami datang untuk melayani”. Jadi sudah benar tujuannya melayani yang perlu dilayani. Di sisi lain SA juga mungkin merasa sudah bisa memuaskan mahasiswa dengan caranya sendiri. Yang penting punya semangat kritis-prinsipil.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul, apakah cukup dengan memiliki itu semua? Cukup hanya dengan menjadi medium informasi? Cukup hanya dengan mampu melayani mahasiswa? Saya yakin LK dan SA punya fungsi lebih dari itu. Keduanya harus harmonis. Alat musik saja tahu bagaimana harus bekerja harmonis agar nada yang dihasilkan tidak sumbang, tetapi sivitas yang katanya “intelek” mungkin tidak paham dengan kata harmonisasi.

Kita ini akademisi, bukan tukang kritik yang cuma bisa bicara. Mahasiswa butuh lebih dari sekedar disuguhkan acara-acara besar yang menghibur, lebih dari sekedar tulisan untuk tahu informasi. Ada yang dikupas lebih tajam dan harus mampu membuat mahasiswa menganalisis. Lewat informasi yang disuguhkan SA, mahasiswa harusnya melek dan beraksi. Jadi apa yang dilakukan kedua belah pihak, punya tenaga untuk mendorong sivitas bergerak melakukan sesuatu bagi kampusnya sendiri. SA yang menampung idealisme mahasiswa, diteruskan kepada LK, supaya LK dapat menjadi pelaksana untuk mewujudkan aspirasi itu, sehingga dapat berdampak di dalam dan secara luas di luar UKSW (masyarakat di dalam dan luar Salatiga).

Ketika saya meminta pendapat kepada Izak Lattu, tentang bagaimana harusnya LK dan SA itu berfungsi bagi UKSW, dia menjawab, “Untuk membangun diskursus yang baik itu kan perlu wadah-wadah dalam kerangka LK. Memang sejak awal dia (SA—red) diletakan dibawah LK untuk tujuan itu. Membangun diskursus, untuk membangun kekritisan.” Membangun kekritisan artinya mendukung hal-hal baik yang dilakukan LK universitas dan fakultas, serta bisa mengkritisi hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan idealisme Satya Wacana. Jadi, SA menjadi kritikus-solutif sekaligus pendukung lembaga kemahasiswaannya.

Izak atau yang akrab dipanggil Caken, juga menyebutkan dua fungsi didirikannya SA yaitu sebagai wadah diskursus pemikiran di dalam dan luar kampus, serta alat diseminasi informasi kegiatan LK dan Universitas. Diseminasi artinya kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar memperoleh informasi, lalu timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Tentunya semua melalui wadah diskursus yang dibentuk. Alhasil SA dapat menjadi penyebar dan sumber informasi atau inovasi-inovasi baru yang dibuat LK dan universitas kepada publik. Artinya, LK dan SA harus sama-sama mendukung.

SA perlu LK dan LK pun perlu SA. Ada hubungan mutualis yang harus terjalin di antara keduanya. SA tidak lagi sekadar menulis untuk dirinya sendiri dan LK tidak cuma berpikir untuk acara saja. Jalan pikiran kedua belah pihak harus disatukan. Universitas dapat maju dengan adanya kinerja yang baik dari lembaga kemahasiswaannya, namun tanpa dukungan dari pers mahasiswanya, lembaga itu ibarat orang yang hanya berorasi di tengah lapangan kosong. Tak bergema bagi banyak pihak.

Rut Christine, mahasiswa Fakultas Biologi, angkatan 2014. Wartawan magang Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas