Kepada Kawan-kawan Maha Oke

Browse By

Ada hal yang menarik perhatian saya ketika beberapa kawan saya yang kerap mengatakan, “kamu maha oke!”, “udah OK, belum?”, “semuanya oke!”. Teringat saya oleh sebuah kesempatan dimana saya mendengar bahwa kata OK menurut sejarah awalnya (dieja dengan “owkay” atau “O.K” dalam Bahasa Inggris) adalah sebuah singkatan yang berarti “Oll Korrect”. Wikipedia menulis bahwa OK menunjukkan persetujuan, penerimaan, atau pengakuan. Dan arti OK sudah merujuk pada pengertian yang kurang lebih Wikipedia artikan, sebagian besar pengucapan OK merujuk kepada “semuanya baik-baik saja” atau “tidak masalah”, seperti beberapa orang yang mengatakan “everything is okay”, “that’s ok!”.

Dan, saya mempertanyakan ucapan beberapa kawan yang mengatakan, “kita ini udah OK!”.

Apakah Sudah Cukup OK?

Foto oleh Tommy Apriando

Gunarti memimpin ibu-ibu petani Rembang menuntut penyelamatan pegunungan Kendeng dari penambang semen. | Foto oleh Tommy Apriando

Beberapa waktu lalu salah satu kawan dari Facebook, Annisa Rizkiana Rahmasari membagikan melalui pesan, tautan video dokumenter Samin vs Semen oleh WatchdoC. WatchdoC adalah rumah produksi yang mengambil spesialisasi film dokumenter, salah satu karya WatchdoC yang berpengaruh adalah film mengenai para pekerja PT Freeport Indonesia di Papua: Alkinemokiye. Pada pembukaan film dokumenter Samin vs Semen, ditampilkan hamparan persawahan di kecamatan Gunem, kabupaten Rembang, yang membentang begitu indahnya. Semua tampak baik-baik saja hingga akhirnya saya menonton detik-detik kondisi lahan pertanian yang sudah menjadi pabrik semen. Kondisi fisik pembangunan pabrik baru 20%, seperti yang dikatakan sekretaris perusahaan PT Semen Indonesia, Agung Wiharto. Dan menurut perkembangan berita yang saya ketahui, warga sudah mengajukan gugatan Amdal ke Pengadilan Tata Usaha Negara dan sekarang dalam proses. Warga Rembang masih berjuang. (Ketika tulisan ini diterbitkan, PTUN Semarang menolak gugatan Amdal warga Rembang. Baca juga: Kasus Izin PT Semen Indonesia, Gugatan Warga Rembang Ditolak).

Tentu saja saya sudah mengetahui konflik sosial warga Rembang melawan pabrik-pabrik semen ini sejak lama, tetapi belum menggugah banyak orang. Samin vs Semen memberikan suguhan visual yang nantinya menggugah perasaan. Lalu, sudahkah kawan-kawan tergugah? Ah, masih banyak hal lain yang perlu kita bicarakan. Reklamasi Teluk Benoa salah satunya.

Dan sudah cerita lama jikalau perusahan-perusahaan mengatakan sudah memenuhi Amdal. Ah, amdal yang mana lagi? Kita dapat sama-sama belajar dan mengingat kembali mengenai semua kebijakan pembangunan itu. Kita dapat mengingat banjir das Bengawan Solo, banjir Jakarta, lumpur Lapindo, hingga gempa Yogyakarta 2006 lalu. Kita dapat melihat bahwa di sana dijadikan kawasan industri bersamaan dengan kawasan pemukimanan penduduk, padahal kabupaten Bantuk adalah daerah yang dilalui sesar aktif Opak. Dalam kasus Lapindo, kita dapat melihat jelas bahwa ekstraksi migas dilakukan di tengah pemukiman penduduk. Kepentingan produksi ekonomi adalah segalanya, sehingga mengabaikan siklus alam yang sesungguhnya.

Saya juga tidak melakukan banyak kontribusi bagi bangsa dan negara ini. Setiap pagi saya memilih untuk membeli Sari Roti, membuat kopi hitam kemasan, membaca buku atau memilih mengulang pelajaran-pelajaran SMA. Saya anak 18 tahun dari keluarga tentara kelas menengah, lalu apa yang kamu harapkan? Inilah yang membuat saya mempertanyakan perasaan saya dan kawan-kawan yang seumuran dengan saya. Apa yang sedang mereka lakukan saat ini? Sebagian besar mereka berkuliah, ada yang memilih bekerja, dan ada juga yang seperti saya, memilih untuk menunda kuliah. Terakhir bertemu kawan-kawan, mereka sibuk dengan tugas kuliah, ada yang mengikuti les tambahan seperti akuntansi, ada juga yang sibuk sekolah tetapi memilih untuk berbisnis.

Ada yang berubah dari teman-teman SMA saya. Padahal belum terhitung setahun mereka meninggalkan SMA. Syukurlah, beberapa dari mereka sudah meninggalkan sedikit demi sedikit kisah percintaan remaja bak FTV, gosip kawan SMA yang hamil di luar nikah, bagaimana kehidupan mereka sehabis lulus SMA, dan lain-lain. Mereka sekarang terlihat lebih realistis. Iya, mereka menyebutnya realistisMereka mengatakan bahwa mereka sudah harus berpikir dewasa, berpikir realistis dengan mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, dan tentu saja dengan tetap berpenampilan kaum urban. Proyek-proyek sosial yang dulu pernah saya susun bersama kawan-kawan, hanya menjadi wacana. Mereka berkata bahwa mereka tidaklah sempat, mereka sibuk menata untuk masa depan. Sesekali saya menambahkan sarkasme dalam obrolan jumpa bersama kawan-kawan SMA, tentu saja dengan guyonan!

Kawan-kawan sekalian yang sepemikiran dengan beberapa kawan SMA saya dan beberapa guru saya yang mengatakan bahwa pembangunan pabrik semen tidak masalah, bahwa pergerakan sosial adalah hal sia-sia, mari kita pertanyakan arti “kesejahteraan” dari banyaknya pembangunan yang mengatasnamakan kesejahteraan rakyat. Ya kawan-kawanku, berkat kalian saya jadi teringat akan, “Bagi pengurus negara, pengorbanan adalah sebuah kewajaran dalam cerita pembangunan.”

Belajar Bersama Anak-Anak Muda Maha OK

Saya adalah anak jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) semasa SMA. Belum terhitung setahun kok, jadi saya tidak mau terdengar tua begini. Kawan-kawan lainnya bisa belajar dari saya dan kawan-kawan IPS lainnya. Kelas IPS cukup menyenangkan. Kami belajar mengenai bumi di pelajaran Geografi, kami belajar mengenai fenomena-fenomena dan hubungan antar manusia di pelajaran Sosiologi, kami belajar mengenai aktivitas-aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya di pelajaran Ekonomi dan Akuntansi. Dan untuk permasalahan-permasalahan yang terjadi, saya sangat menyayangkan jika banyak dari teman-teman saya yang hanya berorientasi pada pemahaman kapitalisme, melupakan pelajaran-pelajaran lainnya yang telah dipelajari selama tiga tahun.

Kami adalah anak-anak muda yang disebut-sebut sebagai “Yang Maha Oke” ini, yang telah menerima ilmu bagaimana melihat suatu permasalahan tidak berdasar hanya pada satu sudut pandang. Mari kita sama-sama melihat bagaimana kami belajar di SMA.

Ada bab dimana kami mempelajari Analisis Pemanfaatan dan Pelestarian Lingkungan Hidup hingga Mengkaji Kaitan Lingkungan Hidup dengan Pembangunan Berkelanjutan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini serta generasi masa depan.

Saya rasa sudah cukup membaca Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, kita dapat berpikir bahwasanya kebanyakan dari pembangunan yang berdasar “kesejahteraan rakyat” versi pemerintah dan perusahaan-perusahaan sama sekali tidak sesuai. Amdal juga dibahas agar dapat menjaga kelestarian sumber daya alam pada masa akan datang. Pelaksanaan pembangunan perlu memperhatikan aspek-aspek Amdal seperti aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial budaya, dan kesehatan masyarakat. Dan ini sekedar pengingat, Kawan-kawan yang Maha Oke, apakah kalian sudah memikirkan kembali mengenai apa yang saya ceritakan?

Kawan-kawanku sekalian bisa belajar dari kami, para anak-anak muda Maha Oke. Kawan-kawanku dapat belajar bahwa kami yang mendapatkan kesempatan belajar yang begitu besar, mendapatkan dukungan dan afeksi dari keluarga tersayang untuk belajar, kamilah yang penuh semangat dalam mengejar cita-cita, yang berpikiran kreatif dan inovatif, tetapi kami juga yang paling destruktif.

Magelang, 16 Maret 2015

Anzi Matta, pelukis cum penulis muda kelahiran 3 Oktober 1996. Lulus SMA tahun 2014. Pernah menerbitkan buku dengan sistem produksi independen ketika kelas 1 SMA lalu mandeg dan fokus menulis esai. Pecinta sosiologi dan sejarah. Pernah menyelenggarakan pameran “The Women Build Heaven” di Porto, Portugal. Kini menetap di Magelang, Jawa Tengah. Sering menulis di anzimatta.tumblr.com dan aspatall-hospitall.blogspot.com. Ikuti kicauannya di @anzimatta.

Penyunting: Indrika Dermadibyo Tiranda

One thought on “Kepada Kawan-kawan Maha Oke”

  1. Evan Adiananta says:

    Ah, jangankan kami di sini mau tergugah hatinya dengan masalah pabrik semen di Rembang dan Pati, ataupun peduli dengan masalah Lapindo, serta Freeport. Orang kami di sini saja juga sudah tidak peduli dengan masalah Amdal kampus baru kami di Blotongan kok. Kami cukup realistis, ok? #otokritik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *