Pasar Rejosari Kembali Terancam Dibongkar, UKSW Absen

Browse By

UKSW lagi-lagi absen dalam pertemuan yang diadakan oleh Aliansi Masyarakat Peduli Pembangunan Pasar Rejosari (AMP3R) untuk diskusi bersama terkait rencana pengosongan paksa pasar Rejosari di salah satu kios pedagang Pasar Rejosari, Rabu (22/4). Meski mendapat surat undangan resmi sehari sebelumnya,  beberapa acara internal yang diadakan di kampus membuat partisipasi Lembaga Kemahasiswaan Universitas (LKU) sebagai representatif mahasiswa UKSW hilang.

Pertemuan tersebut juga membahas rencana penjagaan dari pembangunan pos polisi di pasar Rejosari pada 24 April 2015 sebagai ganti batalnya rencana pada tanggal 22 April 2015. Absennya UKSW ini membuat kekuatan massa AMP3R untuk mempertahankan pasar Rejosari berkurang. Para pedagang mengaku membutuhkan dukungan dari segenap aliansi yang kebanyakan anggotanya adalah mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Salatiga seperti IAIN dan STIE AMA, sementara dari UKSW terpantau belum menunjukan tanda-tanda keaktifan segenap sivitasnya dalam pendampingan pedagang pasar Rejosari ini.

“Karena tidak ada waktu. Ada juga yang tidak lihat undangannya,” ungkap Adhitya Bima Darmawan, sekretaris komisi D BPMU, ketika ditanya melalui wawancara telepon mengapa BPMU tidak hadir.

Undangan resmi untuk pendampingan pedagang sebetulnya pernah beberapa kali diberikan melalui LKU oleh P3R, namun terkendala pengambilan keputusan di LKU antara mendampingi pedagang atau tidak. Akibatnya, pendampingan terhadap pedagang pasar Rejosari ini batal. Hal ini diungkapkan Bagus Wulan Guritno, salah satu fungsionaris Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) periode 2012, “Sebetulnya surat sudah dilayangkan dari jauh hari sebelum kita sepakat satu suara untuk mendampingi pasar Rejosari. Jadi, pengalaman pada waktu itu kita lama di proses koordinasi internal sama ngumpulin pimpinan LKU pada waktu itu sangat sulit,” ungkapnya. (Baca juga: Scientiarum di Mata LK: Wadah Diskursus atau Pajangan Informasi?)

Sementara proses hukum masih berjalan, peringatan dari pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga tetap dilakukan. Surat resmi dari pemerintah kota untuk mengosongkan pasar Rejosari telah diberikan pada 10 April 2015, namun dengan adanya resistensi dari seluruh anggota Paguyuban Pedagang Pasar Rejosari (P3R) bersama AMP3R, pengosongan pasar tersebut ditangguhkan hingga saat ini.

Untuk diketahui, Pemkot Salatiga berencana merevitalisasi Pasar Rejosari sejak 2012 dengan menggandeng PT Patra Berkah Itqoni (PBI) sebagai investor. Sejak saat itu pula P3R melakukan penolakan. Adanya Penolakan tersebut bukan tanpa alasan, P3R menilai harga sewa kios/ruko menjadi mahal (sembilan juta per meter untuk kios dan 13 juta per meter untuk ruko).

P3R mengkhawatirkan pihak investor akan menarik keuntungan pertama kali sedangkan pedagang hanya menjadi “sapi perahan” semata. Selain itu, pedagang juga menilai bahwa konsep pasar modern bertingkat tidak akan membawa kesuksesan dalam pengembangannya seperti yang terjadi pada pasar Raya I dan II di Jalan Jendral Sudirman.

Rut Christine, mahasiswa Fakultas Biologi, angkatan 2014. Wartawan magang Scientiarum.

Catatan Redaksi:

Scientiarum sudah mencoba menghubungi ketua BPMU, sekretaris umum, dan ketua komisi D pada Rabu, 22 April 2015, tapi tidak ada respon.

Penyunting: Ridwan N. Martien

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *