Mahasiswa Tolak Pengosongan Pasar Rejosari

Browse By

Mahasiswa dan elemen masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Pasar Rejosari (Gemmppar) turun ke jalan mengawal rencana pengosongan pasar Rejosari (pasar Sapi), Salatiga, oleh Satuan Polisi Pramong Praja (24/04). Aksi itu dilakukan karena ada isu pengosongan pasar yang beredar sejak tanggal 22-24 April.

Sebelumnya, surat resmi dari pemerintah kota (pemkot) Salatiga untuk mengosongkan pasar Rejosari telah diberikan pada 10 April 2015. Namun, karena adanya resistensi dari seluruh anggota Paguyuban Pedagang Pasar Rejosari (P3R) bersama Aliansi Masyarakat Peduli Pembangunan Pasar Rejosari (AMP3R), pengosongan pasar tersebut ditangguhkan. (Baca juga: Pasar Rejosari Kembali Terancam Dibongkar, UKSW Absen)

Pagi itu, di posko AMP3R yang masih berada dalam lingkungan pasar, belum tampak banyak kehadiran mahasiswa. Kios kosong itu digunakan untuk berdiskusi antara pedagang dengan para mahasiswa. Dari situ pula awal mula terbentuk Gemmppar.

Karpet merah, kasur yang kumal, serta tempelan kertas di dinding hasil diskusi 23 April malam, tampak terpajang menghiasi posko. Wajah-wajah mahasiswa juga tampak mulai berdatangan.

Panggi Gus Yogantoro, mahasiswa Institut Agama Islam Negara (IAIN),  sekaligus koordinator lapangan Gemmppar, menjelaskan mahasiswa bergerak untuk mengawal aksi pengosongan dari pemkot Salatiga. Namun, bila pengosongan ditangguhkan, para mahasiswa akan berjalan menuju kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Salatiga.

“Gerakan dari mahasiswa dilakukan untuk antisipasi dari pengosongan. Kami melakukan, karena ada penggembosan semangat ke pedagang!” jelas Panggi, sambil membawa secangkir kopi hitam.

Sekitar pukul 09.00 WIB, mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Salatiga, Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Salatiga, BEM IAIN Salatiga, Teater Getar IAIN, Mapala IAIN, beberapa mahasiswa asal Ternate, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dinamika IAIN, BEM STIE AMA Salatiga, LPM Scientiarum Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), BPMU UKSW, dan LPM Lentera UKSW turun ke jalan perempatan pasar Rejosari untuk melakukan orasi.

Dengan pengawalan pihak keamanan (polisi, intel, dan reserse), puluhan mahasiswa meneriakkan aspirasi mereka. Spanduk tanda tangan dari pedagang dan mahasiswa yang menolak dan poster-poster seperti “Turut berduka atas matinya demokrasi”, “Libatkan pedagang dalam pembangunan Pasar Rejosari”, “Hentikan segala bentuk intimidasi dan premanisme terhadap rakyat kecil”, “Kami tidak mau dibodohi”, membuat mata para pengendara yang lalu-lalang di jalan teralihkan perhatiannya.

“Kami berdiri bersama kalian (pedagang)!” teriak salah satu orator.

Selain itu, beberapa mahasiswa juga menyebar selebaran yang berisikan Moving Issue “Rejosari Melawan” dan rilis pers “Jangan Gadaikan Pedagang ke Investor, Laksanakan Revitalisasi Menggunakan APBD” di lokasi itu.

Tampak pula spanduk putih dengan tulisan: “Pemkot Jangan Gadaikan Kami” di sudut bangunan dekat lampu lalu lintas. Di tempat lain, tepatnya di jalan menuju ke Kopeng, adapula banner bertuliskan “Pedagang Pasar Rejosari Menolak Pengosongan Sebelum Terjadi Kesepakatan-Paguyuban”. Spanduk dan banner itu terpasang sejak beberapa hari lalu.

Melihat pengosongan tidak jadi dilaksanakan, dengan dikawal dua buah motor polisi di depan dan satu motor di belakang, mahasiswa bergerak menuju ke kantor DPRD Salatiga. Gerakan ini terpantau tidak menimbulkan masalah lalu lintas karena berjalan dengan aman dan tertib.

Sambil menyuarakan yel-yel dan menyebarkan selebaran ke masyarakat yang dilewati, para mahasiswa melakukan long march di bawah terik matahari yang membakar kulit.

Halah-halah, uwis sering didemo pasar kui (sudah sering didemo pasar itu),” teriak ibu-ibu di jalan, mengomentari aksi mahasiswa. (Baca juga: Tolak Investor, Pedagang Demo Walikota)

Tampak ratusan aparat keamanan menjaga aksi mahasiswa di gedung DPRD. Mahasiswa berbaris rapi di pintu gerbang. Para anggota DPRD pun meninggalkan kursi empuknya sejenak untuk menemui mereka.

Milhous Teddy Sulistio, ketua DPRD Salatiga yang mengenakan kemeja dan jins serta kacamata hitam tersemat di kepala, memandang dan mendengarkan orasi mahasiswa sambil menghisap rokok, ditemani rekan-rekannya dari anggota dewan.

“Hidup mahasiswa!”

“Hidup!” teriak para mahasiswa bersahutan.

Orasi di depan gedung DPRD kota Salatiga. Disaksikan langsung oleh Teddy Sulistio dan anggota dewan lainnya.

Orasi di depan gedung DPRD kota Salatiga. Disaksikan langsung oleh Teddy Sulistio dan anggota dewan lainnya.

“Tolak, tolak, tolak investor! Tolak investor sekarang juga!” demikian nyanyian yel-yel yang keluar dari mulut mereka.

Teddy menjelaskan, sepanjang belum ada kesepakatan harga dan kesepakatan antara Dinas Perdanganan Perindustrian dan Koperasi (Disperindakop) dan paguyuban pedagang, maka tidak akan pernah ada pengosongan.

“Tidak boleh main paksa, rego (harga) aja belum ketemu. Komisi B DPRD sampai saat ini masih bekerja dan berjuang, saya sampaikan bahwa lembaga ini komitmen dengan masalah itu,” tambah Teddy.

Investasi di pasar Rejosari, lanjut Teddy, bisa dilaksanakan jika anggaran APBD tidak mencukupi, tetapi dengan syarat saling menguntungkan, dan tidak menekan rakyat.

Nggak benar pasar rejosari digadaikan, apalagi monopoli,” jelas Teddy.

Terkait adanya intimidasi, ketua DPRD Salatiga itu mengatakan jika ada intimidasi seharusnya segera melapor ke  pihak keamanan.

“Mana intimidasi? Laporkan pihak keamanan kalau ada intimidasi sampai ada pedagang yang ketakutan!” tegas Teddy.

Teddy mengungkapkan adanya kesepakatan dalam sembilan catatan penting DPRD terkait pasar Rejosari. Salah satunya adalah penentuan los dan kios dilakukan subsidi silang dan harus terjangkau, serta wajib melibatkan pemkot dan paguyuban pedagang.

Budi Santoso, ketua Komisi B DPRD, yang membidangi pasar, juga menuturkan akan memberi solusi yang terbaik bagi pedagang.

“Percayakanlah kami, nanti akan diselesaikan, kami mencari solusi. Jika sudah ditemukan solusi, pemkot dan  paguyuban pedagang pastinya akan rembugan (diskusi) terlebih dahulu,” tambah Budi.

Teddy dan mahasiswa pun sempat berdiskusi sejenak. Teddy mengaku dirinya terbuka terhadap aspirasi-aspirasi yang datang dari rakyat. Maka dari itu, pihak DPRD pun mempersilakan jika mahasiswa ingin berdiskusi bersama secara lebih dalam di kantor DPRD.

Di penghujung aksi, mahasiswa menyerahkan spanduk kumpulan tanda tangan kepada ketua DPRD Salatiga. Ini sebagai wujud simbolik bahwa tidak akan ada pengosongan pasar Rejosari, sebelum ada kesepakatan pasti antara pemkot dan paguyuban pedagang.

Selanjutnya mahasiswa pun melangkahkan kaki meninggalkan kantor dengan yel-yel yang tak kencang seperti awal. Yel-yel ini diikuti pembubaran aparat keamanan.

Dari pihak pedagang, ada yang setuju dan yang ada pula yang tidak dengan rencana investasi pembangunan  pasar. Hal ini karena adanya tiga kubu dalam pedagang yaitu Persatuan Pedagang, Paguyuban Pedagang Pasar Rejosari, serta mereka yang menolak bergabung di antara dua kubu tersebut.

Sujini, pedagang sayur dan bumbu, menghendaki pasar dibangun oleh pemerintah dan berharap pasar dapat berjalan seperti dulu, sehingga tidak kesulitan dalam mencari nafkah.

Dinten niki lagi namung angsal selawe ewu (hari ini baru dapat 25 ribu),” jelas orang yang berjualan di los Tempat Penampungan Pedagang Sementara (TPPS).

Pendapat lain datang dari Banyu yang berjualan di kios dalam pasar. Pedagang yang berjualan sembako selama 30 tahun itu mengaku akan menuruti kehendak pemerintah. Banyu menginginkan tempat yang lebih bagus. Namun, belum tahu tentang harga pasti ke depannya.

Manut wae to mas, pahit, getir, legi (nurut aja mas, pahit, manis),” ungkap Banyu.

Pranazabdian Waskito, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, angkatan 2014. Wartawan aktif Scientiarum.

Penyunting: Ridwan Nur Martien

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *