Menuju BPMU yang Terbuka dan Pro-Mahasiswa

Browse By

Jumat, 26 Juni 2015, jelang pukul 09.00, sidang terbuka pemilihan Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana belum terlaksana. Para peserta sidang tetap, yaitu fungsionaris BPMU, utusan dari tiap fakultas belum memasuki ruangan F114.

Satu per satu peserta berdatangan setelah 30 menit berlalu dari waktu yang ditentukan. Beberapa peserta sidang tetap dengan membawa jas berwarna gading putih datang terlambat dan mengambil tempat di kursi belakang, sejajar dengan peserta sidang tidak tetap yaitu mahasiswa bukan fungsionaris.

Sidang terbuka ini seharusnya dilaksanakan tanggal 3 Juni lalu. Namun, keterlambatan pengiriman usulan nama fungsionaris dari tiap fakultas membuat sidang baru terlaksana.

Suasana Sidang Pemilihan Ketua Umum PBMU 2015/2016. | Dok.scientiarum.com/Alena Sabandar

Suasana Sidang Pemilihan Ketua Umum BPMU 2015/2016. | Dok.scientiarum.com/Alena Sabandar

“Mereka (fakultas-red) jika disuruh mengirimkan fungsionaris tidak langsung dikirimkan. Sampai tanggal 3 Juni saja baru tiga orang yang masuk. Karena kita sudah tidak bisa sabar dengan waktu, sudah mendekati demisioner, akhirnya kita tetapkan kemarin baru dua puluh orang, langsung kita adakan sidangnya. Akhirnya setelah diumumkan tanggal 26 ini baru  masuk semua,” kata Rudy Hermawan, konvokator sidang pemilihan BPMU.

Kekecewaan keterlambatan acara diungkapkan Christian Mensana, peserta sidang tidak tetap dari Fakultas Teknologi Informasi, “Sidang memang cukup mengecewakan. Sesuai yang disosialisasikan jam sembilan, tetapi mulainya sampai jam 10. Itu pun menunggu peserta sidang tetap. Peserta sidang tetap pun pada jam sembilan bisa dihitung dengan jari.”

Beberapa menit kemudian, setelah Arief Sadjiarto, Pembantu Rektor III memasuki ruangan, sidang pun dimulai. Sidang diawali dengan ritual doa pembuka dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Himne Satya Wacana, Mars Satya Wacana lalu sambutan dari Arief.

Interupsi dan Keluar Masuk Peserta Warnai Jalannya Sidang

Setelah pembacaan hasil sidang istimewa I dari Robertus Wahyudi, pemimpin sidang, tampil dua mahasiswa berjas putih gading dan satu peserta tidak tetap, melakukan interupsi. Interupsi pertama mengkoreksi Robertus yang belum mengketok palu sebagai tanda sah mulainya sidang. Interupsi lain meminta roll call (absensi peserta sidang-red) terlebih dahulu untuk mengetahui kuorumnya sidang, sehingga dianggap layak untuk memulai sidang.

Interupsi dari peserta sidang tetap (foto oleh Alena Sabandar)

Beberapa interupsi dari peserta sidang tetap.

Interupsi lanjutan dari peserta tidak tetap datang dari Richard Dharma Anggada, mahasiswa Fakultas Biologi. Richard meminta pemimpin sidang menegur para peserta tetap yang kurang rapi memakai jas almamater UKSW.

Roll call dibacakan, jumlah peserta tetap sebanyak 20 orang hadir dari 32 peserta dalam daftar yang lolos verifikasi data, sidang dianggap kuorum dan dapat dilanjutkan. Aturan dari pemimpin sidang, peserta diharapkan tidak keluar masuk selama sidang. Namun, di tengah orasi ini, masih ada peserta tetap yang keluar masuk, entah mereka yang baru datang  atau yang keluar ijin ke toilet.

“Untuk taraf pemilihan ketua umum BPMU sidangnya jauh dari kata layak. Peserta tetap bisa keluar masuk seenaknya, padahal di awal sudah di-roll call dan itu tidak dilakukan roll call kembali. Lalu fungsinya roll call di awal untuk apa?” ungkap Richard.

Richard menilai sikap dari peserta sidang tetap saat itu tidak layak. “BPMU itu lembaga legislatif tertinggi di UKSW. Tetapi peserta sidang tidak menunjukan bahwa mereka itu layak disitu. Contoh kecilnya, mereka datang terlambat tetapi mereka keluar masuk seenaknya. Mungkin mereka sudah ijin pemimpin sidang. Tetapi,  menurut saya, bagaimana mereka bisa menghargai kedua calon yang memaparkan dan menilai calon-calon itu, kalau seandainya mereka saja keluar ke toilet melulu. Padahal mereka yang akan memilih kedua orang itu,” sesal Richard.

BPMU Sebagai Radar

Yanuar Jaka Permana, calon Ketua Umum BPMU, dari Fakultas Pertanian dan Bisnis memaparkan visi-misinya.

“BPMU saya jadikan sebagai radar terhadap perubahan-perubahan yang ada di dalam universitas, gereja dan bangsa. Selanjutnya, segera menciptakan iklim yang mendorong Lembaga Kemahasiswaan untuk mengabdikan diri sebagai penentu arah dalam perubahan-perubahan tersebut, tentunya target positif sesuai nilai-nilai kristiani,”  ucap Yanuar.

Pemaparan orasi oleh Yanuar

Yanuar memaparkan visi-misinya.

Di sisi lain, Malinton Tampubolon,  calon Ketua Umum BPMU dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi, mengungkapkan tiga visinya: menyuarakan hak mahasiswa, menjadikan BPMU sebagai rumah mahasiswa, dan menjadi radar bagi mahasiswa serta masyarakat Salatiga.

Satu per satu pertanyaan dalam dua termin yang diberikan dari peserta tetap dan satu termin dari peserta tidak tetap. Kedua calon memiliki pemikiran sendiri dalam menghadapi pertanyaan dari tiap peserta. Dari jalannya sidang, terlihat masih banyak pertanyaan yang belum sempat diajukan oleh peserta kepada calon. Jawaban-jawaban dari tiap calon kepada peserta dianggap belum dapat memuaskan karena waktu orasi yang diberikan terbatas.

Salah satu interupsi yang memicu situasi memanas datang dari Priska Christina, peserta sidang tetap dari Fakultas Psikologi. Menurutnya, calon selalu memberikan jawaban teknis yang dirasa tidak perlu dijawab pada saat persidangan, hingga membuat waktu persidangan tidak tepat waktu dan peserta tidak tetap lainnya belum mendapat giliran bertanya.

Mery Enjelica Stephany Gumenggilung, peserta sidang tetap dari Fakultas Hukum menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pembatasan jawaban-jawaban pertanyaan dari Yanuar.

“Saya juga punya hak apakah itu di luar konteks pertanyaan saya atau tidak. Selama saya tidak potong itu berarti masih bisa menjawab pertanyaan saya. Saya juga tidak bodoh, kalau itu tidak menjawab pertanyaan saya, tentu saya cut (potong-red),” ungkap Mery Enjel.

Penonton di kursi belakang bersorak tanda sependapat. Pada saat itu pihak peserta tidak tetap juga belum mendapat kesempatan bertanya.  Sementara itu Rudy, koordinator konvokator mengharapkan sidang selesai sebelum pukul 14.00.

Akhirnya pemimpin sidang pun memutuskan acara tetap dilaksanakan sampai batas maksimal pukul 14.00. Tanggapan-tanggapan dari peserta tetap akan dilanjutkan pada sidang tertutup, siang berikutnya. Maka, termin terakhir dibuka untuk peserta sidang tidak tetap yang dari awal termin belum mendapat kesempatan bertanya.

Malinton berorasi.

Malinton berorasi.

Situasi sidang yang cukup menyita waktu, membuat kejenuhan bagi kedua calon beberapa kali meminta pengulangan pertanyaan ke notulen. Sepanjang sidang, pertanyaan-pertanyaan yang telah dilontarkan, baik dari peserta sidang tetap dan peserta sidang tidak tetap, cukup menguji pengetahuan dan wawasan dari kedua calon. Jawaban-jawaban mereka nantinya akan menentukan kelayakan untuk dipilih sebagai ketum oleh para peserta sidang tetap.

Pengungkapan mengenai visi “menjadi radar” oleh kedua calon mendapat tanggapan dari salah satu peserta tidak tetap Anasthasya Fielia Litelnoni, dari Fakultas Psikologi.

“Dari tadi anda bilang ‘menjadi radar’ bagi masyarakat. Mungkin pertanyaan ini agak teknis, namun, dari pertanyaan teknis ini akan menjadi pertimbangan bagi teman-teman semua, calon mana yang memiliki pengetahuan mengenai apa yang harus diperhatikan di masyarakat sebagai radar?” ucapnya.

Jawaban yang diungkapan dalam hal radar bagi masyarakat Salatiga, selalu dihubungkan dengan kasus Pasar Rejosari Salatiga alias Pasar Sapi. Dua bulan lalu, topik ini sempat menjadi pembicaraan di kalangan kampus terkait bagaimana peran LK UKSW dalam polemik pembangunan pasar tradisional ini.

Penanggap terakhir,  Gusti Agung Mahendra dari Fakultas Ilmu Komunikasi mengharapkan eksistensi nyata BPMU di masyarakat, jangan hanya menjadi latah terhadap isu-isu yang ada di masyarakat seperti pada kasus Pasar Rejosari.

Saat sidang memasuki masa istirahat, Scientiarum berkesempatan berbincang dengan dua calon Ketua Umum BPMU yang baru. Yanuar, yang kami temui di tangga belakang lantai 2 gedung F sedang bercengkerama dengan seorang temannya.

“Bagaimana kita bisa menangkap aspirasi mahasiswa dengan baik? Dan berikutnya, bersama BPMU, kita bisa menjawab aspirasi tersebut. Selain itu kita juga harus bisa menangkap isu-isu lokal, regional dan nasional,” tutur Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Bisnis 2014/2015 itu.

Sedangkan Malinton yang kami temui sedang duduk di kursi panjang di depan gedung F, mengatakan bahwa fokus dari visi dan misinya adalah menyampaikan aspirasi mahasiswa.

“Menyuarakan hak mahasiswa, semisal tentang fasilitas kampus dan dalam proses belajar mengajar. Kita juga bertanggung jawab  dengan mahasiswa kita sendiri jika terjadi konflik dengan masyarakat sekitar, bukannya ketua etnis,” tambah mahasiswa yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum BPMU 2014/2015 ini.

Ia juga menambahkan, bahwa ia ingin mengajak lembaga-lembaga kemahasiswaan di UKSW untuk bekerja sama. “Saya akan mengajak aktivis-aktivis kampus, semisal Senat Mahasiswa Fakultas dan tentunya Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum. Karena dalam hal ini. UKSW sudah mempunyai sub sub sistemnya semisal pers dan LK. Saya berharap dapat merangkul keduanya.”

Musyawarah Kerucutkan Satu Calon

Sidang terbuka dilanjutkan dengan sidang tertutup yang hanya dapat dihadiri oleh fungsionaris BPMU 2015/2016 yang diutus dari fakultas. Tata cara pemilihan dalam sidang tertutup sesuai dengan Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa 2011, dipilih melalui musyawarah mufakat. Jika tidak tercapai maka akan dilakukan lobi. Namun jika masih tidak ada kesepakatan, maka dilakukan pemungutan suara.

Setelah melalui musyawarah panjang, akhirnya pilihan mengerucut pada salah satu calon. Namun, sempat ada perbedaan pendapat dari tiga fungsionaris yang kukuh mempertahankan pendapat mereka yang berbeda dari fungsionaris lain. Akhirnya, tiga fungsionaris mengalah dan mengikuti hasil pilihan musyawarah dari sebagian besar fungsionaris, yaitu usulan Malinton sebagai Ketua Umum BPMU periode 2015/2016.

Rut Christin, mahasiswa Fakultas Biologi, angkatan 2014. Wartawan Scientiarum. Liputan ini dikerjakan bersama Fajar Ardiansah.

Penyunting: Pranazabdian Waskito dan Arya Adikristya Nonoputra

One thought on “Menuju BPMU yang Terbuka dan Pro-Mahasiswa”

  1. Evan Adiananta says:

    Betul kata Mahe, jangan cuma bisa latah terhadap isu-isu di masyarakat, apalagi kalau gak pernah terjun sama sekali ke masyarakat untuk melihat langsung permasalahannya. *Cuih!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *