Tertipu Media Sosial

Browse By

Babak baru perkembangan media sosial di Indonesia dimulai sekitar tahun 90-an. Kemunculan Mirc sebagai sarana sosialisasi dan komunikasi antar individu via jaringan internet, tak disangka membawa dampak besar.

Di Indonesia yang notabene negara yang terdiri dari bermacam etnis mengalami satu gerakan masif menerima perubahan budaya. Budaya komunikasi yang dibangun dalam tatap muka mulai tergerus dengan budaya komunikasi instan via media sosial. Selain sarana komunikasi, ragam motivasi dari pengguna media sosial pun sangat variatif: ajang mencari relasi, pasangan hidup, hingga sarana mendulang uang.

Hal ini hampir mirip dengan Yunani abad keenam, pada waktu ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat. Segala jenis ilmu pengetahuan yang muncul dan berkembang (media sosial) seakan mendapatkan nafas kehidupan dengan lingkungan social polis. Pada tataran inilah lingkungan baru mulai terbentuk, bentuk sosial yang serasi dimana ilmu pengetahuan berkembang dengan semestinya (tampaknya).

Media sosial yang berkembang menjadi ajang manusia yang jika ditilik dari hierarki kebutuhan Maslow berada pada puncak piramida kebutuhan manusia. Pencarian jati diri dan pencarian akan eksistensi diri mulai tampak dalam media sosial.

Namun ironisnya, fungsi positif dari media sosial sebagai sarana sosialisasi, komunikasi serta informasi telah melenceng sangat jauh. Pola komunikasi yang telah berubah tanpa perlu adanya tatap muka memudahkan terjadinya pemalsuan (faking) dalam hubungan. Orang dengan mudah memalsukan identitas, tanpa perlu takut diketahui orang lain. Pemalsuan identitas orang lain sudah menjadi hal yang biasa dalam aktivitas media sosial. Berbagai akun palsu bertebaran di hampir semua jenis media sosial.

v_for_awesome___1024x768_by_insomniahedgehog

Tokoh “V” dalam filem V for Vendetta menyembunyikan identitasnya, kala memeberantas rezim otoriter di Inggris.

Pemalsuan identitas dalam dunia maya yang terus terjadi, membuat orang lain bisa dengan mudah memberi pendapat atau argumen dalam setiap forum. Etika-etika dalam komunikasi pun mulai mengalami perubahan, kebebasan berbicara dilampaui melalui media sosial.

Batasan-batasan etis dan tidaknya dalam berkomunikasi di media sosial berada dalam zona abu-abu. Zona di mana kebenaran selalu menjadi nilai yang relatif tanpa ada konstituen. Belakangan ini Florence, mahasiswi program pascasarjana yang mencela dan memaki-maki (melalui media sosial) kota serta warga Yogyakarta, yang kemudian menjadi sorotan hampir seluruh mata di Nusantara. Dari subyektifitas pelaku, kita bisa menemukan kebenaran karena pelaku melihat dari sudut pandang pribadi. Namun tentu saja dalam ruang lingkup kemasyarakatan hal ini belum tentu bisa dibenarkan. Penghinaan terhadap sebuah budaya dan masyarakat pastinya tidak akan bisa dibenarkan oleh masyarakat yang bersangkutan.

Hakikat perkembangan keilmuan dan teknologi merupakan sebuah keindahan yang menggambarkan kapasitas manusia yang terus berkembang, menggambarkan keindahan manusia sebagai satu-satunya mahkluk superior yang berada di alam. Manusia mampu mengembangkan setiap potensi dalam dirinya. Superioritas manusia yang terbangun karena akal sehat yang dimilikinya mencerminkan kreatifitas manusia dalam memperluas wilayah kesadarannya. Pengembangan wilayah kesadaran, mengembangkan hampir semua aspek kehidupannya. Ironisnya adalah, bahwa batasan estetika dan segala macam faktor pendukung keindahannya melampaui etika dan moral atau norma yang disepakati oleh lingkungan.

Suatu ketika ada seorang fotografer yang mengunggah foto milik orang lain, kemudian mengklaim foto tersebut adalah hasil fotonya. Dari masalah ini bisa disimpulkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan akan pengakuan dalam berkarya, manusia dapat melampaui batasan etika yang ada. Ironisnya (lagi), bahwa pengakuan yang dicari merupakan pengakuan yang berasal dari dunia maya di media sosial.

Perdebatan-perdebatan dalam ruang diskusi yang dibentuk dalam sebuah forum juga menjadi hal yang biasa ditemui sehari-hari dalam aktifitas dunia maya. Para Netizen (sebutan bagi pengguna internet) menganggap diskusi Tuhan bisa dipersempit dalam dialektika simpel dalam sebuah forum di dunia maya. Padahal Tuhan selayaknya bukan menjadi konsumsi khalayak di dunia maya. Biarkan Tuhan tetap berada dalam wilayahnya (pribadi) dan dunia maya tetap menjadi sarana komunikasi kita.

Fenomena menarik dari ironi media sosial lainnya adalah kasus pelaporan seorang Jonru karena merasa difitnah oleh Ahmad Sahal dan Rivan Heriyad karena memunculkan namanya sebagai kosakata baru sebagai padanan kata dari “memfitnah”. Bila ditilik dari awal mula masalahnya, semuanya bermula dari Jonru yang sering sekali mengkritisi pemerintahan yang dipimpin oleh Jokowi kemudian sempat terlibat debat melalui media sosial dan berakhir dengan pelaporan oleh Jonru. Contoh lainnya adalah akun twitter @triomacan2000 yang menyerang banyak tokoh masyarakat, hal ini mengindikasikan terjadi pergeseran nilai-nilai moral dan sosial. Kebebasan berbicara yang kebablasan menunjukan kemerosotan moral bangsa kita.

Seiring perkembangan media sosial sampai saat ini bisa ditemukan berbagai macam ironi. Setiap perkembangan pasti punya sisi negatif dan kemampuan menilai inilah yang sebenarnya perlu ditekankan dalam pranata sosial kita. Kemanusiaan pasti akan hidup bila setiap insan di dunia nyata bahkan maya memiliki konsep untuk saling menghidupkan dan bukan saling menjatuhkan. Homo Homini Lupus menjadi fenomena umum di dunia maya. Semakin umum maka semakin biasa dan orang-orang akan menganggapnya sebuah kelumrahan.

Dunia maya dan media sosial yang seharusnya menjadi proyeksi diri kita, malah menjadi topeng untuk menutupi diri. Kasus penipuan dan penyimpangan dalam konteks media sosial ini menampilkan kontrasnya dunia maya bila dibandingkan dengan dunia nyata.

Dunia nyata menjadi tempat pelarian paling umum, pelarian diri dari masalah, pelampiasan kekesalan, dan bahkan sarana kebencian. Ironis sekali bahwa media sosial yang seharusnya menjadi sarana membantu manusia berkomunikasi, malah jadi sarana untuk saling menjatuhkan.  Manusia menipu manusia lain di media sosial, ataukah media sosial menipu manusia? Ironis sekali.

Great Erick Kaumbur, alumni Fakultas Psikologi UKSW. Pernah menggeluti dunia pers mahasiswa bersama Scientiarum. Tengah menempuh studi pascasarjana di Universitas Tujuhbelas Agustus, Surabaya.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *