Kurangnya Tenaga Pendidik di Fakultas Teologi UKSW

Browse By

Dunia akademik di bangku perguruan tinggi secara umum adalah tahap tertinggi dari strata pendidikan di belahan dunia manapun. Para akademisi yang begelut di dunia perguruan tinggi disebut sebagai mahasiswa.

Sebutan mahasiswa ini adalah gelar khusus yang membuat sepintas membedakan mahasiswa dari pelajar SD, SMP, maupun SMA. Kualitas pendidikan yang ditawarkan pun berbeda dalam hal-hal tertentu. Selain itu, para pengajar di perguruan tinggi pun tentulah berbeda.

Secara khusus kelompok saya ingin menyorot Universitas Kristen Satya Wacana sebagai perguruan tinggi tempat kami belajar, yang merupakan salah satu perguruan tinggi di Salatiga, sekaligus salah satu universitas terbaik di Indonesia. Pendidikan dan akademisi adalah dua komponen penting dalam kehidupan dan keberlangsungan kegiatan akademis di bangku perguruan tinggi. Klasifikasi dan perbedaan dengan bangku pendidikan lain merupakan segelintir hal yang lumrah dan sah-sah saja.

Dalam dunia pendidikan SMA maupun pendidikan lain dibawahnya, pendidik haruslah memiliki kecakapan dalam bidang ilmu tertentu, sehingga mampu mendidik dan menumbuhkan benih-benih pengetahuan bagi pelajarnya. Seorang guru biologi harus mengajar biologi karena ia diakui memiliki kompetensi dalam bidang tersebut, sehingga ilmu yang ia ajarkan dapat tersalurkan dengan baik.

Di perguruan tinggi, hal demikian pun terjadi. Namun menurut peraturan menteri pendidikan, pendidik dalam dunia universitas haruslah memiliki gelar akademik yang lebih tinggi dari para pelajarnya sehingga dalam hal ini pendidik haruslah memiliki kecapakan pengetahuan yang memadai untuk diajarkan.

Seorang pendidik S1 sekurang-kurangnya sudah bergelar S2 atau S3. Hal ini secara nalar dapat diterima dikarenakan alasan kecapakan akademis tadi. Hal ini terjadi dengan baik dalam fakultas kami. Namun dalam beberapa hal terjadi permasalahan yang terjadi dalam fakultas kami yang memiliki akibat buruk terhadap para mahasiswa. Jumlah dosen yang tidak setara dengan jumlah mahasiswa yang ada menciptakan beragam masalah lain. Jumlah mahasiswa di Fakultas Teologi UKSW berjumlah 300 lebih, sedangkan jumlah dosen yang bertugas hanya berjumlah 11 orang.

Di sisi lain, jumlah mata kuliah yang harus diambil seorang mahasiswa untuk dapat lulus ialah 144 SKS, termasuk Mata Kuliah Dasar Umum. Hal ini mengakibatkan mata kuliah yang diampu dosen terlampau banyak dan terkadang dosen tidak mengajar sesuai dengan disiplin ilmu yang dikuasai dan gelar yang dikenakan.

Seorang dosen konseling pastoral mengajar mata kuliah yang berbeda dengan kompetensi yang ia miliki. Hal ini terpaksa ia lakukan karena tidak ada dosen lain yang memiliki kompetensi dalam bidang tersebut. Secara sadar hal ini mengakibatkan “penyesatan” secara gila-gilaan karena dosen tersebut mengajar bidang yang bukan keahliannya.

fakultas teologi

Tenaga pendidik di Fakultas Teologi UKSW berjumlah 11 orang.

Bayangkan saja seorang dosen biologi dituntut untuk dapat mengajarkan matematika kepada para muridnya. Hal ini mungkin bisa saja, namun punya kecenderungan pada kekeliruan transfer ilmu. Dan akar dari semua permasalahan yang terjadi dikarenakan jumlah dosen yang tidak memadai untuk dapat mengampu jumlah mata kuliah yang super banyak itu.

Sebagai mahasiswa tentu mahasiswa berhak mendapatkan asupan ilmu yang sehat sebagai bekal bagi masa depan. Dan untuk mendapatkan hal tersebut, mahasiswa haruslah mendapatkan asupan dari dosen yang sehat. Hal ini dimungkinkan apabila dosen tersebut mengajar dengan kompetensi yang ia bentuk sesuai dengan gizi yang didapat dari dunia pendidikan yang digeluti sebelumnya.

Namun kenyataan yang terjadi ialah dosen mengajarkan mata kuliah yang bukan seharusnya ia ajarkan. Jika ditinggalkan begitu saja para mahasiswa akan terus disuntikkan dengan bermacam kekeliruan. Akar penyakit ini karena rasio dosen dan mahasiswa yang tidak seimbang, serta pendidikan yang tidak berjalan semestinya.

Minimnya tenaga pendidik juga menciptakan masalah baru bagi mahasiswa yang ingin memilih dosen pembimbing skripsi, tesis maupun disertasi. Karena kurangnya dosen ahli yang menangani mata kuliah atau disiplin ilmu yang ingin diambil oleh mahasiswa, maka mahasiswa harus menerima resiko dibimbing oleh dosen yang tidak berkompeten. Tentu secara logis hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas skripsi yang diampu.

Misalkan saja saya yang memiliki minat dalam studi ilmu filsafat dan sejarah gereja. Saya tidak bisa meminta dosen yang ada di fakultas saya, karena tidak tersedianya dosen khusus yang menangani bidang yang saya minati. Apakah saya harus memilih dosen  secara sembarangan untuk menjadi pembimbing? Hal ini tentu akan membebani saya sebagai mahasiswa.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Hal demikian pasti juga akan membebani dosen yang bersangkutan, karena mereka dituntut membimbing skripsi mahasiswa yang bukan bidang mereka. Kecuali dosen tersebut ingin menjadi penyesat, hal tersebut tidak akan menjadi beban baginya. Problematika ini tentu juga akan dirasakan oleh semua mahasiswa yang ada.

Kurangnya jumlah dosen di Fakultas Teologi akan menjadi momok bagi mahasiswa baru yang akan masuk ke UKSW, apabila tidak ditanggapi lebih lanjut. Untuk menangani mahasiswa yang berjumlah 300 lebih (belum termasuk angkatan 2015 yang akan datang), sekurang-kurangnya fakultas ini membutuhkan 25 orang dosen tetap dengan kompetensi di masing-masing bidang. Dosen yang dibutuhkan F.Teol sekarang adalah dosen khusus ahli sejarah gereja, filsafat, studi gender, pendidikan agama kristen (PAK), etika Kristen, agama dan sains, serta masih banyak lagi.

Bila tidak disikapi secara serius, maka Fakultas Teologi UKSW harus bersiap-siap mengawali kemerosotan intelektual. Baik dari pihak mahasiswa maupun dosen sendiri.

Jear Niklas Dominggus Karniatu Nenohai, mahasiswa Fakultas Teologi, angkatan 2013. Mempunyai minat pada filsafat dan sejarah gereja. Pecinta musik klasik.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

7 thoughts on “Kurangnya Tenaga Pendidik di Fakultas Teologi UKSW”

  1. Diane Elizabeth Nuhamara says:

    Saya rasa kata “penyesatan” adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan fenomena ‘kapitalisasi pendidikan’ yang sedang mewabah di UKSW. Terimakasih, Scientiarum. Tetap berkarya dan wartakan kebenaran. Tuhan memberkati pelayanan kita bersama.

  2. Mas Timo Roessan says:

    Kalau ini sih isu lama.. dan saya sepakat kalo ini termasuk fenomena kapitalisasi pendidikan.. termasuk sistem pendidikan yang diterapkan oleh UKSW sendiri.. cuma mahasiswa Teologi belum mengetahui akar permasalahannya.. terimakasih.. semoga generasi penerus bangsa ini tidak menjadi generasi yang buruk..

  3. Ribka says:

    Ini yg saya ketahui dan alami dalam rapat kerja fakultas teologi: Sejak Raker 2013-2014 di Banaran hingga raker 2014-2015 di Jepara, agenda perekrutan dosen F.Teol UKSW senantiasa dibahas, ini berarti F.Teol (dan juga UKSW krn Rektor juga hadir pada kedua raker tsb) juga memiliki konsentrasi pada peningkatan kuantitas dan kualitas pengajar. Namun yg perlu diketahui oelh smeua mahasiswa, bukan hal yang mudah utk merekrut dosen “TEOLOGI”, jgn disamakan dgn fakultas lain. Bagi yg menulis juga bisa lebih lega krn dosen filsafat merupakan salah satu agenda penting mengingat nama Progdi Teologi akan segera berubah menjadi progdi Filsafat Keilahian (http://dikti.go.id/…/Lampiran-2-Nomenklatur-4-Februari…). Benar bhw konseling pastoral diampu olh dosen dgn latar pendidikan yg tdk murni konseling pastoral ttp mmg beliaulah yg paling dekat bidangnya, mengingat dosen yg membidangi konseling pastoral msh dalam proses penyelesaian studi doktoral di luar negeri. Semua sekolah teologi di Indonesia pernah dalam tahap dimana rasio tenaga pengajar (1:30) tidak terpenuhi. Puji Tuhan akreditasi kita masih A. Harapan kita adalah akreditasi ini dapat dipertahankan (reakreditasi selanjutnya sedang dipersiapkan). Dalam rangka itu, perekrutan dosen yg diutamakan melalui jalur kerjasama dgn gereja-gereja pendukung (pendiri) UKSW terus dilakukan dan tentunya menuntut kesabaran dari semua pihak

  4. geritz says:

    mantap, tapi ada beberapa Komentar, jadi no offense ya, hanya berbagi opini:
    ? tulisan ini kurang faktanya
    ? perlu tambahan tentang berapa ideal dosen, bisa dari buku atau wawancara ahli
    ? bukan bidang keahlian, blm tentu bisa mengajar. mis, dosen dengan keahlian hukum perdata, blm tentu tidak bisa mengajar hukum pidana, jadi perlu catatan/pendapat orng yg kompeten atau kutipan dari buku untuk menguatkan opini.

  5. Diane Elizabeth Nuhamara says:

    Terimakasih komen-komen dan usaha untuk mengklarifikasi tulisan ini dengan pemaparan fakta-fakta yang sangat-sangat mendetil. Saya hanya ingin menambahkan bahwa kita perlu menyadari bahwa “fenomena” ini merupakan “pengulangan sejarah” yang bahkan sudah terjadi 12 tahun yang lalu. Pertama, saran saya (hanya saran ya, monggo direnungkan, disanggah, atau sekedar dibaca iseng-iseng), kita bukan keledai yang “harus” jatuh ke lubang yang sama berulang-ulang. Jika bahkan dalam kurun waktu 12 tahun masalah yang sama MASIH belum dapat dipecahkan atau bahkan diselesaikan, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kedua, “kritikan” adalah sarana pembelajaran. Respons seperti apa yang seharusnya kita berikan kepada “kritikan” konstruktif? Kritikan yang konstruktif yang sudah berulang kali diberikan telah ditolak. Lalu yang bisa saya harapkan adalah pengertian yang mendalam apabila para mahasiswa merasa “jenuh” dengan ini semua sehingga muncullah tulisan ini. Mari kita sikapi kritikan dengan bijaksana dan dewasa, bukan mencari pembelaan diri, tetapi betul-betul dipahami “need analysis” atau analisa kebutuhannya, sehingga metode atau upaya pendekatan yang dilakukan kiranya boleh betul-betul mendukung eksistensi sumber daya yang diharapkan, yang bisa mencurahkan ilmunya bagi para mahasiswa yang haus akan ilmu tersebut.
    Untuk Geritz, tulisan ini berada di bawah tajuk opini, yang saya rasa esensinya adalah memberi curahan hati (curhat) mengenai pergumulan / dilema yang dihadapi para mahasiswa. Adapun jika faktanya kurang ,hali ini dapat disikapi dengan melihat kembali kode etik jurnalsime yang juga perlu diterapkan karena “fakta” yang subyektif (dengan mencantumkan nama pihak yang menjadi subyek berita) akan menjadi isu yang sangat sensitif. Mungkin “fakta” yang dimaksudkan di sini adalah “data”. Jika demikian, fakta yang mendetil seperti yang dipaparkan Ribka merupakan jawabannya. Ini untuk pembelajaran bersama. Sekali lagi terimakasih.
    Hormat saya, seseorang yang sangat berterimakasih dan mengapresiasi usaha-usaha SA untuk melaksanakan tanggung jawab mereka sebagai Pers UKSW yang esensinya berkarya untuk menjalankan “kontrol sosial” di kampus kita tercinta ini. Tuhan memberkati pelayan kita bersama.

  6. James Dof says:

    Dari yang saudara tulis, saya menyimpulkan bahwa generesi OUKUMENIS menambah beban jika dosen-dosen yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Tetapi tidak juga dipermasalahkan kuantitas dosennya justru kualitasnya yang terlihat dari dasar doktrinnya yang benar kepada Alkitab adalah Firman Allah.
    Dari saya angkatan 2012 fakultas Theologi kaum EVANGELIS.

  7. John Taek says:

    Sederhana aja… Bila telah terbit BUKU ETIKA MAHASISWA FAKULTAS TEOLOGI (http://scientiarum.com/2015/07/23/kode-etik-mahasiswa-fakultas-teologi-kemajuan-atau-kemunduran/), maka sudah saatnya segera diterbitkan BUKU ETIKA DOSEN FAKULTAS TEOLOGI, agar praktek dosen mengajar tidak sesuai dengan kompetensinya, atau mengajar melampaui kapasitasnya tidak terulang lagi. Kalau perlu ditentukan sanksi-sanksi secara jelas dan tegas! Tetapi siapa yg berhak dan berani menandatangani BUKU ETIKA tersebut? Apa perlu dibangkitkan ulang Aristoteles, Bapak Etika Yunani Kuno, untuk tandatangani BUKU tersebut?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *