Mpu Jaya Prema: Darah Wartawan, Jiwa Pendeta

Browse By

Mpu Jaya PremaWartawan pun bisa jadi pendeta, inilah sosok Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Dahulu memakai nama Putu Setia, saat menjadi jurnalis dan redaktur senior di Tempo Media Grup. Sejak 21 Agustus 2009, Mpu Jaya Prema menjadi pendeta Hindu dan tinggal di Pasraman Dharmasastra Manikgeni, Desa Pujungan, Kabupaten Tabanan, Bali.

Namun, tidaklah sosok Mpu Jaya Prema berhenti dari dunia jurnalistik. Sampai saat ini, Mpu Jaya Prema masih menulis di kelompok media Tempo. Tulisan rutinnya dapat dibaca di koran Tempo edisi Minggu. “Darah saya adalah wartawan sementara jiwa saya adalah pendeta,” tuturnya dalam blognya.

Mpu Jaya Prema juga rutin menulis di situs pribadinya: mpujayaprema.com. Berbagai rubrik tulisannya diantaranya Sosial Politik, Otobiografi Mpu Jaya Prema, Sarasamuccaya, Kulwit (kuliah lewat twitter), Bagawatgita, Manusayadnya, Renungan, Belajar Jurnalistik, Sosial Budaya, Pasraman, Manikgeni, Pujasatwa, Dharmawacana dan Cari Angin. Selain itu, juga terbuka bagi yang mau berdiskusi dengannya untuk membahas berbagai macam hal.

Perlu diketahui, berdasarkan buku “Cerita di Balik Dapur Tempo 15 Tahun (1971-1986)” Mpu Jaya Prema memulai kariernya dari bawah. Tahun 1975, ia hanya pembantu lepas Tempo di Bali. Berkat keuletannya ia dipromosikan menjadi Kepala Biro Tempo Yogyakarta, 1978. Mpu Jaya Prema ditarik ke pusat dan diserahi memegang rubrik paling populer di Tempo, yaitu Pokok & Tokoh pada tahun 1983.

Kehidupannya juga tak lepas dari seni, yaitu seni sastra. Ia juga telah menulis buku diantaranya Memuja Leluhur, Memuja Tuhan & Istadewata, Intel Dari Comberan (kumpulan cerpen), Surat Terbuka Untuk Umat Hindu, Cari Angin, Wartawan Jadi Pendeta: sebuah otobiografi, dan Lentera Lereng Batukaru. Bukunya yang terkenal adalah dalam Trilogi “Menggugat Bali”. Trilogi ini berisikan Bali Menggugat, Mendebat Bali dan Bali yang Meradang.

Kali ini, Sunny Batubara, alumni Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang tinggal di Denpasar berhasil mewawancarai orang yang dahulu pernah menjadi mahasiswa Publistik ini lewat surat elektronik, 9 Juni 2015 lalu.

Yang menjadi konteks dalam wawancara ini adalah tentang kondisi Bali saat ini, yang bisa dikatakan tidak seperti dulu lagi. Beginilah tanya jawab dengan Mpu Jaya Prema.

S: Apa yang Bapak rasakan 10 tahun terakhir tentang Bali, semenjak buku Bapak, “Menggugat Bali”  Pasti ada dinamika, baik di dalam kebudayaan dan agama, juga cara berpikir orang Bali yang dapat  direfleksikan?

MJP: Yang dirasakan 10 tahun terakhir tentang Bali adalah Bali semakin maju dan baik di bidang sosial budaya maupun keagamaan.

Ada satu tulisan Bapak dengan judul “Bali di Titik Nol” dalam buku “Bali yang Meradang”. Anda menyinggung tentang pendatang di pulau Bali dan bergesernya tentang etos kerja orang Bali itu sendiri. Apakah (maaf) Bapak anti dengan pendatang? Bagaimana seharusnya orang Bali itu sendiri bersikap mengenai hal itu?

Saya tidak anti pendatang, malah mengharapkan ada pendatang. Etos kerja orang Bali dipengaruhi oleh keadaan dan situasi dan ini normal di mana-mana. Orang Bali harus bersikap selektif untuk menghadapi kemajuan zaman ini.

Dalam beberapa kali pengamatan kami, pernah kami melihat tukang gorengan,  usaha potong rambut ada yang dikelola orang Bali sendiri. Mengapa sektor informal seperti ini jarang dimasuki oleh orang Bali. Apakah ada cara pandang, kebudayaan atau agama bahkan yang melarang memasuki sektor ini atau mungkin tidak punya cukup waktu?

Di desa-desa banyak sektor itu dipegang orang Bali. Bahkan, dominan orang Bali. Mungkin hanya di kota jarang orang Bali mengambil sektor itu, karena sudah punya penghasilan yang lebih baik. 

Mpu-Jaya-Prema

Sumber: balebengong.net

Naiknya Pariwisata sebagai komoditas pasca Bom Bali tidak saja berdampak pada lingkungan, tetapi juga memunculkan “raja–raja kecil” berbentuk organisasi masyarakat yang sering menggunakan isu keamanan dan “Ajeg Bali”. Dari serbuan ormas–ormas ke daerahan dari luar Bali yang sudah masuk  (biasanya menjaga tanah sengketa, diskotik, menjelang pemilu atau pilkada). Dan juga secara tersamar sering meminta pungli menjelang acara–acara mereka ke usaha–usaha kecil. Bagaimana pendapat Anda? Padahal, pelaku usaha tersebut sudah membayar iuran untuk Pura dan jasa sewa lahan ke pemerintahan Banjar setempat.

Bagaimana pendapat Bapak, tentang tingginya HIV/AIDS yang sudah bergeser di kalangan remaja Bali di Denpasar, Karangasem dan Buleleng? Dan bagaimana seharusnya? Jikalau dibaca di zaman lampau, endemik ini kan tidak ada di Bali. Mengapa sekarang sepertinya begitu menjamur?

HIV/AIDS ini penyakit sosial yang bisa melanda di mana saja. Harus diperangi. Zaman dulu tak ada, karena penyakit jenis itu kan baru saja ada virusnya.

Kami pernah mendengar cerita dari orang tua yang berprofesi sebagai petani di Bali. Anak perempuannya yang diharapkan bekerja di Denpasar, ketika pulang justru hamil dan fatalnya ditinggal oleh laki–lakinya. Hal ini sebagai akibat mahalnya biaya kos ditambah kurangnya Upah Minimum Rata-Rata kabupaten Badung, sehingga mereka memutuskan tinggal se-kos untuk menghemat biaya. Bagaimana pendapat Bapak?

Itu kasus bisa terjadi dimana saja. Di Yogya dulu ada penelitian banyak remaja yang hamil sebelum menikah. Ya kasus seperti ini terjadi dimana-mana.

Ada rumor yang mengatakan bahwa posisi perempuan di dalam kebudayaan Bali adalah lemah.  Hal ini yang terkadang menjadi pintu masuk bagi beberapa oknum untuk mengambil perempuan Bali sebagai istrinya, walaupun ada juga beberapa fenomena yang menunjukan sebaliknya. Bagaimana penjelasannya?

Dalam budaya kita di Indonesia dimana-mana perempuan itu lemah. Tetapi sekarang kan mulai ada gerakan emansipasi memperkuat martabat perempuan.

Apakah Bapak setuju dengan pergantian patung simbol Hindu yang digantikan dengan patung Soekarno di Tabanan? Mengapa seakan-akan orang Bali sendiri tidak sayang dengan simbolnya? Contohnya, banyak jalan-jalan dan pantai di Bali yang berbau kebaratan– baratan.

Di Tabanan itu kan cuma patung yang berbudaya Hindu yang diganti patung Sukarno. Ya sudah banyak yang protes, tetapi bupatinya mungkin berpendapat lain. Itu patung penghias jalanan jadi Bupatilah yang memiliki hak.

Apa yang Bapak lihat tentang tokoh Bali yang duduk di DPR-RI mengatakan bahwa isu reklamasi Tanjung Benoa bukan urusan mereka?

Wah, saya tak tahu siapa tokoh itu. Mungkin saja bukan bidang dia untuk bicara tentang reklamasi itu.

Apakah Bapak punya tato? Mengapa orang Bali dari  remaja sampai tua suka sekali dengan tato dan anting–anting bagi laki-laki? Dan fenomenanya sekarang mulai bergeser ke perempuan (untuk tato)? Apakah ini bagian dari adat di zaman dulu?

Saya tak punya tato dan anti tato. Tubuh manusia diciptakan sempurna oleh Tuhan mengapa harus ditato lagi. Lelaki pakai anting-anting itu mungkin orang iseng atau hanya seberapa saja di daerah turis dan mungkin juga hanya mengaku orang Bali. Kalau di desa, lelaki pakai anting-anting ya disebut gila.

Di zaman internet ini, semua orang boleh menulis dan berpendapat. Ada satu tulisan yang ditulis oleh Bapak dan Ayu Utami (dengan sudut pandang yang berbeda dan di tempat yang berbeda tentunya) tentang cewek dilarang berboncengan ngangkang di Aceh. Sesungguhnya ni tentang pluralisme. Apakah tulisan Bapak itu ditujukan terhadap agama tertentu? Dan bagaimana seharusnya posisi agama dan negara itu sendiri dalam bingkai Pancasila sehingga ketika seseorang berpendapat, hal itu tidak identik dengan agama yang dianut orang itu? Mengapa di Indonesia susah sekali memisahkan hal ini?

Saya lupa kapan saya menulis soal itu. Cewek berboncengan mengangkang kan bagus dari sisi keselamatan kalau dia pakai celana panjang. Kalau pakai kain (kamben) kan memang tak bisa mengangkang.

Mengenai pluralisme yang terjadi belakangan ini,  yang awalnya dimotori dengan terpilihnya Jokowi–Ahok sebagai pemimpin Jakarta. Bagaimana nasib pluralisme di masa depan? Apakah mungkin orang non-muslim, katakanlah itu berasal dari Aceh, Nias Padang atau Bali, misalnya, bisa menjadi presiden Indonesia. Bagaimana menurut Bapak?

Sepanjang tak dilarang undang-undang kan boleh saja. Masalahnya ada yang memilih apa tidak.

Hal apa saja yang sudah dibenahi dan masih kurang dari pemerintahan Jokowi–Jusuf Kalla ini? Dan apa yang harus dilakukan oleh politisi dari Bali atau remaja–remaja Bali agar dapat berpartisipasi?

Wah saya kurang tahu soal politik itu. Ya banyak yang perlu dibenahi. Kan masih banyak orang miskin, misalnya.

Apa yang papak harapkan bagi Bali di masa yang akan datang? Khususnya bagi  generasi muda di Bali?

Ya, semoga makin majulah dan generasi muda Bali makin pintar.

Jikala dilihat dari cerita–cerita di film dan sejarah digambarkan bahwa jatuhnya kerajaan–kerajaan Hindu di Nusantara dikarenakan faktor maraknya judi, minum–minuman keras yang membudaya, sehingga kerajaan tidak terkelola dengan baik. Mengapa jarang ada sanggahan berbentuk film atau pementasan drama yang melawan gambaran ini dari orang–orang Bali sendiri atau bahkan media–media asli dari Bali mengenai hal ini?

Mungkin orang Bali tak perlu menyanggahnya apalagi membuat film yang mahal.

Pengalaman seperti apa yang dapat direfleksikan dari kerja dan persahabatan di koran Tempo bagi Indonesia saat ini? Kami pernah baca di salah satu tulisan Bapak, bahwa Goenawan Mohamad pernah mempersilahkan Bapak memimpin doa syukuran dengan cara Hindu. Suatu keakraban yang agak jarang terjadi pada umumnya. Apa bapak dapat berbagi cerita mengenai hal ini atau mungkin ada cerita yang lain?

Di Tempo itu ada banyak orang yang beragam dari berbagai suku dan agama. Mereka tak pernah disekat oleh suku dan agama. Siapa pun yang berdoa dengan cara agama apa saja, ya silakan saja.

Mengapa penulis buku di Denpasar jarang sekali mensosialisasikan bukunya ketika akan terbit sehingga geliat sastrapun seakan mati suri?

Saya tak tahu mungkin penerbitnya tak punya modal mensosialisasikan. Tapi saya lihat banyak juga yang melakukan itu.

Apakah Bapak setuju dengan upaya pembangunan bandara di Tejakula Buleleng, sebagai upaya keseimbangan kesejahteraan Bali Utara dan Selatan? Bagaimana dengan daerah Negara?

Setuju jika ada bandara di Buleleng. Kalau sudah ada di Buleleng kenapa di Negara lagi? Kan Bali itu kecil.

Jika dilihat di daerah Medoyo, nuansa Bali-nya kurang terasa? Bagaimana sejarahnya?

Tempat tinggal saya jauh dari sana. Kan di sana banyak muslimnya, bagaimana orang muslim bernuansa Bali yang Hindu, kan tak mungkin.

Apakah boleh jika piodalan doa–doa dalam bahasa Sansekreta diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar orang awam pun juga tau apa artinya?

Di Bali pakai bahasa Bali. Kalau pakai bahasa Indonesia malah orang tua tak paham.

Sunny Batubara, alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW, sekarang tinggal di Denpasar.

Penyunting: Pranazabdian Waskito

2 thoughts on “Mpu Jaya Prema: Darah Wartawan, Jiwa Pendeta”

  1. sunny says:

    Kurang puas ak jawabannya. Mungkin karena beliau sudah mandeg pandita

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *