Hakuna Matata:  Menuju Puncak Mahameru

Browse By

Hakuna Matata! What a wonderful phrase

Hakuna Matata! Ain’t no passing craze

It means no worries for the rest of your days

It’s our problem-free philosophy

Itulah sepenggal bait lirik lagu “Hakuna Matata” dari film The Lion King. Judul ini juga menjadi tema perjalanan Eco Traveler saya dengan teman-teman dari Komisi Pemuda Remaja (KPR) GKI Bondowoso. Hakuna Matata, dapat diartikan ke dalam dua frasa “jangan khawatir”. Saya rasa tema ini cukup pas dengan perjalanan kami menuju Mahameru, sebutan untuk puncak Gunung Semeru. Jangan khawatir, daki terus menuju puncak. Dua hari satu malam saya dan teman-teman bersama mencoba menelusuri seni “berjalan kaki” menuju puncak Mahameru.

Minggu, 28 Juni 2015, perjalanan dimulai. Saya berangkat sendiri dari Salatiga menuju kota Bondowoso untuk menemui teman-teman KPR yang menyelenggarakan acara pendakian ini. Saya yang benar-benar buta dengan wilayah Jawa Timur, memberanikan diri untuk berangkat melewati perjalanan jauh berkilo-kilometer hanya untuk memenuhi rasa penasaran saya akan Mahameru. Kurang lebih saya harus menghabiskan waktu selama 14 jam dari Salatiga menuju Bondowoso dengan kereta api.

Sebelum memulai pendakian ada beberapa administrasi yang harus dilengkapi para calon pendaki. Di antaranya yaitu surat keterangan sehat, fotokopi KTP dan meterai enam ribu rupiah. Biaya tiket masuk per orang dikenakan sebesar Rp 17.500 di hari kerja dan Rp 22.500 pada hari libur. Untuk biaya sewa porter (warga sekitar yang menjadi pemandu sekaligus pembawa barang para pendaki-red) dikenakan Rp 150.00 per hari plus Rp 150.000 lagi jika sampai ke puncak.

Tanggal 29 malam kami memulai perjalanan menuju Ranu Pani. Saya dan teman-teman menaiki Elf dari Bondowoso menuju Ranu Pani pukul 22.30. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih 5-6 jam. Rute perjalanan yang kami lewati yaitu Senduro-Lumajang-Ranu Pani. Sepanjang jalan menuju desa Ranu Pani, kami harus melewati jalanan satu jalur yang cukup rusak. Kami melewati jalan satu arah yang berbatu-batu dan terdapat jurang di satu sisinya. Cukup menegangkan perjalanan malam itu, karena hari sangat gelap dan sepi.

Sekitar pukul 04.00, kami akhirnya sampai di desa Ranu Pani. Kami singgah di sebuah gereja kecil. Cuaca saat itu sangat dingin, bahkan jaket tebal dan seperangkat penutup tubuh dari ujung kepala sampai kaki yang sudah kami kenakan pun terasa tembus. Suhu di sana mencapai 0 derajat. Titik beku yang dapat membuat kami menjadi es. Saat berbicara pun kami seperti sedang merokok, terus menerus mengeluarkan gumpalan asap dari mulut. Benar-benar udara yang kelewat dingin.

Setelah menaruh barang bawaan kami di gereja, kami pun bergegas menuju danau Ranu Pani untuk melihat matahari terbit. Danau Ranu Pani terletak di depan posko masuk pendaftaran para pendaki yang ingin menuju Semeru.

Beberapa saat setelah menunggu, akhirnya sang mentari tampak memancarkan sinarnya. Perlahan-lahan sinarnya muncul dari balik pepohonan dan bukit di seberang danau. Sungguh kenikmatan alam yang jarang sekali dapat saya nikmati di kota-kota besar.

Sekitar pukul 10.00 kami telah berkumpul di depan gerbang pendakian menuju Semeru. Terdapat dua jalur pendakian menuju Semeru yaitu via Watu Rejeng dan Gunung Ayek-ayek. Rombongan kami berangkat melalui jalur Watu Rejeng, jalur umum yang biasa dilewati para pendaki. Kami menggunakan porter untuk membantu selama perjalanan sampai ke puncak. Kira-kira jumlah porter yang kami sewa sebanyak 7 orang untuk membantu panitia membawa barang dan teman-teman lain yang tidak kuat mendaki sampai ke puncak.

Perjalanan dari Ranu Pani sampai ke Ranu Kumbolo dapat ditempuh dalam waktu 5 jam. Kami harus berjalan melewati Landengan Dowo, menuju Watu Rejeng untuk sampai ke Ranu Kumbolo. Trek perjalanan menuju Ranu Kumbolo panjang dan menanjak, dengan jarak yang harus dilalui sebesar 10,5 kilometer. Ada empat pos yang harus dilalui sebelum mencapai danau Ranu Kumbolo. Di tiap pos terdapat sebuah saung yang dapat digunakan untuk beristirahat. Hanya pada Pos 1 ada penjaja kudapan tahu dan tempe goreng, buah semangka dan madu sachet untuk menambah energi para pendaki.

Jarak antar pos tidaklah sama. Oleh karena itu diharapkan berlatih sebelum memulai pendakian dengan trek yang panjang dan menanjak. Jika tidak, akan cepat kehabisan tenaga dalam perjalanan. Diusahakan untuk tidak berhenti terlalu sering selama berjalan. Frekuensi jalan yang lambat namun terus-menerus lebih baik dibandingkan jika berjalan terlalu cepat dan sering berhenti. Rasa lelah akan lebih cepat terasa jika kita terus menerus berhenti di sepanjang jalan.

Tepat di depan Pos 3, kami menaiki tanjakan panjang yang cukup terkenal. Namanya tanjakan Bakrie. Tanjakan ini seperti anak tangga namun terjal dan panjang. Rasa letih kala perjalanan menanjak sangat terasa. Tak jarang saya meminta teman di depan saya untuk menarik tangan saya agar mampu menanjak ke atas.

Setelah melewati setiap pos pemberhentian, sekitar 2 km masih harus kami lewati. Begitu melihat puncak gunung Semeru dari kejauhan, rasa lelah seakan menghilang dan langkah kaki kami pun menjadi lebih ringan dan cepat. Mungkin karena perasaan akan segera sampai di dalam pikiran kami yang terlintas, sehingga membuat kami mempercepat langkah kaki.

Sedikit demi sedikit, pinggiran danau mulai terlihat. Pantulan cahaya matahari yang mengenai danau sempat membuat kami terkesima. Kami pun sejenak berfoto dari atas seolah-olah sudah berada di tepi danau. Padahal masih sekitar 2 km lagi jalan yang harus kami lewati. Mendekati danau ada jalur turunan panjang yang harus dilewati lagi. Seolah lomba lari jarak jauh membuat saya ingin sekali menggelinding dari atas tanjakan menuju tepian danau. Benar-benar lega ketika kaki kami semua sudah melangkah menuju tepian.

Setelah beristirahat sejenak, kami meminta porter untuk membuat tenda bagi rombongan kami. Ternyata tempat memasang tenda masih jauh dari lokasi danau yang kami capai pertama. Kami masih harus berjalan sekitar 2 km lagi, menaiki bukit untuk sampai ke lokasi perkemahan yang diijinkan. Kami diharapkan tidak membuat api unggun, tidak mandi di danau atau kegiatan cuci muka dan sikat gigi dan membuang sabun dan pasta gigi ke danau. Air di sini masih murni, dipakai penduduk sekitar desa di Ranu Pani untuk mandi, memasak, dan minum. Beberapa teman mencoba mengambil sebotol air dari danau untuk diminum. Saya pun ikut mencoba airnya. Rasanya sungguh segar. Air minum murni tanpa perlu pengolahan lagi.

Menjelang pukul 17.00, rombongan kami yang ingin naik ke puncak mulai diberangkatkan menuju Kalimati dan sisanya tinggal berkemah di tepi danau. Perlu waktu sekitar 3-4 jam dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati. Meninggalkan danau Ranu Kumbolo, kami harus melewati sebuah tanjakan yang cukup fenomenal. Apalagi kalau bukan tanjakan cinta. Setiap orang yang melewati tanjakan ini dilarang untuk menengok ke belakang sampai berhasil naik ke puncak, sambil memikirkan nama orang yang dikasihi. Jika tidak, keinginan untuk bersama dengan orang yang dicintai tidak akan tercapai.

Terlepas dari tanjakan cinta, kami menemui padang rumput yang luas bernama Oro-oro Ombo. Oro-oro Ombo dikelilingi bukit dan gunung yang indah. Jalur di sini relatif lebih datar dan singkat. Hanya sekitar sepuluh menit untuk melaluinya.

Tujuan kami  berikutnya adalah Cemoro Kandang. Dinamakan Cemoro Kandang karena tempat ini berupa jalur kecil menanjak yang semuanya dikelilingi pohon cemara, persis seperti sebuah kandang ketika masuk ke dalam jalurnya. Di Cemoro Kandang-lah saya terpisah dengan rombongan. Saat itu hari sudah mulai gelap. Banyak cerita dari porter, bahwa di tempat inilah banyak pendaki yang tersesat dan akhirnya meninggal karena tidak diketemukan. Jujur, saya sempat membayangkan nama saya muncul dalam berita di televisi jika saat itu saya tidak menemukan rombongan kembali. Ini merupakan pengalaman pertama saya mendaki dan saya harus menghadapi kenyataan terpisah dari rombongan. Dengan memberanikan diri saya berjalan mengikuti naluri alamiah. Untunglah saya dapat bertemu dengan rombongan kembali.

Setelah hampir tiga jam melewati jalur Cemoro Kandang yang terus menanjak kami sampai di Kalimati. Di sini terdapat perpaduan sabana dan stepa dengan vegetasi padang rumput yang cukup luas. Kami pun mendirikan kemah untuk beristirahat sebelum siap memulai perjalanan ke puncak. Udara di sini lebih dingin dibanding dengan di Ranu Pani. Kalimati dengan ketinggian 2.700 mdpl dan  suhu sekitar minus 20 derajat lebih. Dari Kalimati perjalanan menuju puncak dapat dilewati selama 5-6 jam jika cepat bisa 3-4 jam saja.

Karena belum dapat beradaptasi dengan dinginnya udara malam itu, akhirnya saya dan beberapa teman memutuskan pendakian sampai di Kalimati saja. Udara di atas puncak tentunya lebih dingin dari Kalimati. Beberapa teman pria yang mampu melanjutkan sampai ke puncak dan berangkat sekitar pukul 12 dini hari.

Jalur yang harus dilalui dari Kalimati menuju puncak adalah sebagai berikut, Kalimati-Arcopodo-Cemoro Tunggal-Mahameru (Puncak Semeru). Kemiringan lahannya sekitar 45°. Dari sekitar 40 orang yang pergi mendaki, hanya tersisa 4 orang laki-laki yang naik ke puncak. Untuk berhasil sampai ke Mahameru, mereka harus melewati jalur bebatuan dan udara yang lebih dingin dibanding Kalimati.  Seorang teman bercerita bahwa mereka harus melewati bebatuan dan pasir yang cukup tebal, bahkan sampai merangkak agar tidak terjatuh. Tangan seperti seolah membeku dan mati rasa ketika sampai di puncak.

Keesokan harinya, saya dan beberapa teman lainnya memutuskan untuk pergi ke puncak, namun hanya sampai di kaki gunungnya saja. Ternyata jalur menuju Mahameru cukup sulit dilalui. Jalurnya menanjak,  meski matahari sudah naik cukup tinggi, dingin masih mendaulat. Apalagi jika mendaki pada saat subuh, tidak terbayangkan betapa besarnya usaha yang dikeluarkan untuk sampai ke puncak. Di sepanjang jalur Arcopodo terdapat vegetasi hutan pinus, rerumputan, dan bunga liar lainnya. Di kanan kirinya dikelilingi oleh jurang yang sangat dalam.

Kami harus berhati-hati melangkah saat itu, berpegangan pada pohon dan bebatuan juga tidak boleh sembarangan. Ada pohon yang sekilas kuat namun ternyata rapuh jika digenggam. Salah memilih pegangan bisa berakibat fatal. Pilihan hanya dua, jatuh ke jurang atau selamat sampai di puncak.

Walaupun hanya dapat sampai ke Cemoro Tunggal saja, pemandangan yang dapat kami lihat juga tidak kalah menariknya dengan di puncak. Saya dapat melihat samudera di atas awan saat itu. Dahulu di Cemoro Tunggal terdapat sebuah pohon cemara, namun pohon tersebut sudah tidak ada lagi. Yang terlihat hanya beberapa batu nisan dan lahan kecil untuk berkemah di Arcopodo. Batu ini sebagai kenangan bagi para pendaki yang mengalami naas sebelum sampai ke puncak atau setelah turun dari puncak.

Setelah puas menikmati samudera di atas awan, kami turun kembali menuju Kalimati. Waktu turun tidak sesulit ketika naik. Waktu yang dibutuhkan hanya kurang dari 1 jam. Kami berkemas dan mengucapkan selamat tinggal pada Kalimati.

Sekitar pukul 13.00 kami turun. Sepanjang jalan kami diwajibkan melakukan sapu jagad untuk menjaga kebersihan jalur pendakian. Perjalanan pulang kami memerlukan waktu yang lebih singkat. Dari Kalimati menuju Ranu Kumbolo kurang lebih hanya 2,5 jam saja dan dari Ranu Kumbolo sekitar 4 jam. Sesampainya di Ranu Kumbolo, kami beristirahat sejenak, memuaskan diri menikmati perjumpaan terakhir dengan suasana danau yang menyejukkan. Hari kian sore dan kami memutuskan untuk kembali memulai perjalanan pulang. 1 Juli 2015, pukul 19.00 selesailah sudah ekspedisi kami menjelajahi Mahameru.

Sebelum perjalanan pulang dari Kalimati, terdengar kabar salah seorang pendaki bernama Budiawan hilang. Saat itu, penyintas (survivor) ini turun sekitar pukul 06.00 pagi, bersamaan dengan dua orang teman kami yang juga turun dan tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak. Karena kabar tersebut, sekitar tanggal 3 Juli 2015 pendakian sempat ditutup untuk melakukan proses pencarian. Untunglah kurang lebih pukul 15.00 kami mendapat kabar bahwa Budiawan dapat ditemukan, meski dalam keadaan luka.

Perjalanan mungkin berakhir, namun kenangan akan keindahan dan perjuangan menuju Mahameru tetap terpatri dalam  hati kami. Kenangan yang membawa semangat kebersamaan dan satu hati dalam menjalani tiap langkah. Mungkin tidak cukup waktu untuk saling mengenal tiap anggota rombongan yang baru ditemui pada saat itu. Namun pertemuan singkat ini, dapat menciptakan rasa memiliki dan saling memperhatikan satu dengan yang lain. Hakuna Matata: Jangan khawatir, jangan menyerah, ada aku, kau dan mereka.

Rut Christine, mahasiswa Fakultas Biologi, angkatan 2014. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

2 thoughts on “Hakuna Matata:  Menuju Puncak Mahameru”

  1. febby says:

    Wew.. Mantap kak cristine.. (Y)

Tinggalkan Balasan ke febby Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *