Kode Etik Mahasiswa Fakultas Teologi, Kemajuan atau Kemunduran?

Browse By

Foto kode etik mahasiswaBaru-baru ini Fakultas Teologi meluncurkan kode etik mahasiswa yang dibuat oleh para dosen  yang kemudian dibicarakan bersama melalui beberapa utusan mahasiswa. Lalu dipublikasikan kepada mahasiswa melalui tiap-tiap angkatan. Tiap angkatan kemudian dimintai pendapatnya, oleh perwakilan BPMF. Hal ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan mahasiswa. Namun akhirnya kode etik tetap diterbitkan dan dimintai kesepakatan melalui dosen-dosen wali.

Mahasiswa diberikan buku tipis berisi 10 halaman yang berisikan mengenai tataran normatif yang harus ditaati oleh mahasiswanya dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Secara praksis aturan tersebut dapat dibagi menjadi dua: yakni tindakan yang harus dilakukan di dalam kampus dan di luar kampus. Kode etik tersebut juga berisi mengenai cara berpakaian serta tindakan yang harus dilakukan mahasiswa terhadap dosen dan sesama mahasiswa, dengan sanksi-sanksi yang telah ditetapkan apabila terjadi pelanggaran. Hal ini tentu saja baik untuk mahasiswa serta juga bersifat mengikat. Layaknya hukum yang ditetapkan negara bagi rakyatnya.

Hal ini menjadi perenungan serta diskusi saya bersama teman saya Yunus Demianus Djabumona, mahasiswa Fakultas Teologi angkatan 2013. Aturan ini dibuat seakan membatasi ruang gerak mahasiswa di dalam maupun di luar kampus, bila kita memahami maksud dan tujuan dari etika itu sendiri. Tentu kode etik tersebut dibuat dengan maksud agar mahasiswa memiliki panduan etis, dan menjadi mahasiswa-mahasiswa yang berkarakter. Bila kita mencoba menghubungkan dengan identitas fakultas sendiri, maka fakultas ingin mendidik para mahasiswa yang berkarakter dalam nilai-nilai Kristiani.

Bila menilik zaman Yunani kuno, etika telah menjadi suatu hal penting karena berkaitan dengan kehidupan banyak orang. Aristoteles merupakan salah seorang filsuf Yunani kuno yang pertama kali membahas mengenai hal ini, sehingga ia disebut sebagai “bapak etika” dan menjadi filsuf etika pertama di dunia.

Dalam mendefinisikan etika, Aristoteles membedakan antara manusia dengan binatang. Menurutnya etika hanya ditemukan pada manusia, karena hanya manusialah yang mampu merefleksikan hal tersebut melalui kemampuan rasio yang ia miliki.

Menurutnya manusia adalah animal rationale (binatang yang berakal budi). Lewat akal budi manusia mampu mempertimbangkan apa yang baik dan buruk. Pertimbangan mengenai nilai-nilai etis adalah khas manusia. Sedangkan binatang dalam bertindak hanya mengikuti instingnya semata. Karena etika adalah khas manusia, maka tentu perbincangan mengenai etika hanya ada di dalam dunia manusia. Binatang tidak perlu berbicara mengenai etika karena mereka tidak memerlukan hal tersebut.

Etika kemudian menjadi pedoman manusia dalam mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Etika kemudian juga menjadi pedoman dalam relasi kehidupan manusia dengan manusia lain. Etika erat kaitannya dengan moralitas, yakni  perihal baik dan buruk, benar dan salahnya suatu tindakan. Dalam bertindak secara etis, kita sudah selalu diperhadapkan dengan moralitas.

Franz Magnis Suseno, salah seorang rohaniawan Katolik mengatakan bahwa moralitas adalah keseluruhan norma-norma, nilai-nilai dan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat. Moralitas adalah sikap hati yang terungkap dalam perbuatan lahiriah (mengingat bahwa tindakan adalah bentuk ungkapan hati). Moralitas sendiri terdapat apabila orang mengambil sikap yang baik karena ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawab dan bukan mencari keuntungan. Moralitas adalah sikap yang tidak bersifat legal (perbuatan yang didasari pada rasa pamrih).

Bila ditinjau ulang, kode etik mahasiswa Fakultas Teologi juga menjadi masalah baru di kalangan mahasiswa. Sebuah tindakan yang didasarkan kepada aturan menjadi tindakan yang tidak bersifat moral namun hanya menjadi legal semata? Bukankah tindakan etis menjadi bernilai etis apabila tindakan tersebut didasarkan kepada dorongan hati dan bukan karena dorongan di luar dirinya? Hal ini tentu akan menjadi bersifat legalitas semata.

Secara mendasar tanpa aturan pun setiap orang memiliki kemampuan untuk menentukan nilai-nilai kebaikan yang dapat ia wujudnyatakan dalam tindakan. Setiap orang memiliki hati nurani yang menjadi obor dalam menuntunnya untuk melakukan hal-hal yang memiliki nilai moral. Franz Magnis pernah mengatakan dalam bukunya Iman dan hati nurani bahwa dalam teologi Kristiani, diyakini bahwa Allah telah bekerja di dalam hati setiap orang lewat bisikan Roh kudus yang telah dikaruniakan-Nya. Sehingga setiap orang dimungkinkan untuk dapat berbuat baik dan mampu merasakan karya Allah di dalam dirinya. Hal ini juga memungkinkan kebaikan menjadi nilai yang mampu dimiliki dan dikerjakan oleh tiap-tiap orang.

Persoalan mengenai ia mau melakukannya atau tidak, itu menjadi tanggung jawab ia sendiri kepada Allah yang telah mengaruniakan hal tersebut. Pembatasan-pembatasan yang diwajibkan melalui kode etik secara tidak langsung telah membatasi setiap orang (dalam hal ini juga termasuk pengaturan kehidupan pribadi mahasiswa) sebagai makhluk yang bebas. Kebebasan merupakan salah satu prinsip yang menekankan bahwa manusia adalah mahluk imago dei yakni diciptakan serupa dan segambar dengan Allah.

Kode etik dapat dilihat sebagai rambu-rambu mahasiswa yang wajib ditaati mahasiswa Teologi. Namun apakah hal ini merupakan sinyal bahwa selama ini apa yang dilakukan mahasiwa itu buruk sehingga harus dibatasi? Hal ini tentu menjadi pertanyaan bagi kami, mahasiswa yang dididik Fakultas Teologi. Bila ditaati secara tertib, hal ini tentu akan membawa dampak baik serta kemajuan dalam kehidupan mahasiswa. Namun secara mendasar, tentu juga akan membawa kemunduran mahasiswa untuk  dapat hidup otonom dan dalam mewujudkan diri  sebagai mahluk imago dei yang memiliki kehendak bebas (free will).

Sebagai tatanan normatif, kode etik dibuat dalam kerangka etis dalam prinsip etika. Tetapi tidak hanya berhenti di situ saja, esensi dari “etika” sendiri juga harus dicerna secara baik dan direfleksikan secara mendalam. Aturan tentu dirancang untuk kepentingan hajat hidup orang banyak. Namun pada saat yang sama, aturan tersebut juga jangan hanya ditetapkan untuk satu pihak saja (baca: mahasiswa) tetapi untuk segala pihak (baca: dosen dan karyawan fakultas) yang turut mengambil bagian dalam  membangun Fakultas Teologi.

Saya kira dalam hal ini penting bagi kita untuk berpikir secara kritis konsekuensi jauh dari segala aturan yang telah dirancang dan ditetapkan. Sehingga tidak muncul ketimpangan serta beragam kemunduran pada beberapa sisi, yang justru harusnya mengedepankan kebebasan bertindak dan kreatif berdayacipta.

Jear Niklas Dominggus Karniatu Nenohai, mahasiswa Fakultas Teologi, angkatan 2013. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

6 thoughts on “Kode Etik Mahasiswa Fakultas Teologi, Kemajuan atau Kemunduran?”

  1. Sadrah says:

    Jear setuju gak adanya penerbitan kode etik di kalangan mahasiswa teologi??
    menurut Jear sendiri apa yang menjadi ukuran bahwa sesuatu itu dibatasin??
    Menurut hemat jear apa itu “aturan”?
    terima kasih 🙂

  2. baskara says:

    sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang muncul dibenak saya berkaitan dengan buku ini.
    1. isi bukunya seperti apa (krn saya belum baca)
    2. seberapa dalam kode etik tsb “mengatur” teman teman mahasiswa teologi dalam beraktivitas?
    3. ada pertanyaan yang menarik dr artikel tsb krn penulis mengatakan (jk tdk salah) “jika fakultas membuat peraturan yang tujuannya meluruskan dan membenarkan apa yg dilakukan oleh mahasiswanya, seberapa jelek mahasiswa dimata fakultas?” nah dari situ menurut saya ada benarnya karena kebanyakan peraturan (yang saya temui) berasal dari pelanggaran yang terjadi di masyarakat. jika dikatakan sebagai obat, saya kurang setuju, tp jika dikatakan sebagai rambu rambu, malah lebih tepat menurut saya. dan ada baiknya kita berpandangan positif bahwa ini sebuah langkah maju dari fakultas teologi agar dapat membentuk mahasiswa yang baik dan sesuai dengan harapan fakultas.

  3. Jear Nenohai says:

    (1) Pada awalnya, saya menyanjung niat fakultas Teologi untuk menerbitkan kode etik yang tentu bertujuan baik. Tetapi ketika melihat isi kode etik dan realitas yang terjadi maka saya tidak setuju dengan penerbitan kode etik. (2) Menurut saya kode etik ini adalah batasan, karena kode etik sendiri merupakan sebuah cerminan aturan etis yang diwajibkan sehingga kode etika tentulah bersifat mengikat dan membatasi. Tidak hanya itu saja, namun kode etik juga di berikan sanksi2. (3) Aturan merupakan ketetapan yang dibuat atas dasar pertimbangan2 tertentu yang bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan.
    Saudara Baskara,(1). Bila anda ingin mengetahui isinya anda bisa meminjam kepada mahasiswa fakultas Teologi yang anda kenal. (2). lumayan dalam. (3).Kode etik dibuat untuk membentuk moral komunitas yang ada didalam komunitas tersebut. Fakultas membuat kode etik yang diarahkan kepada mahasiswa tetapi kdoe etik dosen dan staf memang ada. Namun tidak disebarkan ke mahasiswa dan dibicirakan bersama mahasiswa. Maka pada titik ini menurut pendapat saya, tidak terjadi kesetaraan antara mahasiswa dan dosen sebagai bagian dari fakultas Teologi, yang mempunyai tanggung jawab yang sama dalam membangun fakultas teologi.Jika memang ingin membangun fakultas, maka harus dikerjakan bersama. Sehingga menurut saya, dengan penerbitan kode etik yang tidak terdapat kesetaraan, hanya akan menciptakan “penindasan” terhadap mahasiswa.

  4. Adi Todo says:

    Bisa di share disini nggak? Pdf nya aja

    1. Arya Adikristya Nonoputra says:

      Terkait dengan opini Jear Nenohai berjudul “Kode Etik Mahasiswa Fakultas Teologi, Kemajuan atau Kemunduran?” ada beberapa permintaan pembaca untuk membagikan softfile isi keseluruhan buku tersebut. Tautan tulisan dapat diakses di: http://scientiarum.com/2015/07/23/kode-etik-mahasiswa-fakultas-teologi-kemajuan-atau-kemunduran/

      Maka dari itu Scientiarum membagikan tautan yang menyediakan softfile (PDF dan PNG) Buku Kode Etik Mahasiswa Fakultas Teologi UKSW. Semuanya dapat diunduh pada tautan berikut: https://drive.google.com/folderview?id=0B0_Ff6tWev61fnZCYlZqcXFuM1dZUGFza1NqM0UwZG80Nmw3b0t4VVhSVWE4SlVaVTJZRmM&usp=sharing

      Kiranya dapat menjadi bahan diskusi yang sehat. Tetap kritis!

  5. Evan says:

    Perenungan yang baik, Jear.
    Mari kita kembalikan pada dasar kehidupan kita: apakah hidup kita berlandaskan Alkitab, atau kepada para filsuf Yunani yang dikatakan orang “berhasil” menemukan tujuan hidupnya? Apakah hidup kita sudah benar-benar mencerminkan Kristus, atau sekadar memahaminya secara akal? Mari kita renungkan bersama. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *