Menuju Lembaga Kemahasiswaan yang Terbuka

Browse By

Pengunduran diri salah satu calon Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Yanuar Jaka Permana, menuai tanda tanya. Pasalnya,  pengunduran diri dilakukan sehari menjelang orasi terbuka calon Ketua Umum SMU, Selasa, 14 Juli 2015. Pemberitahuan dilakukan Yanuar lewat pesan seluler kepada  Aberson Cesar,  Koordinator Satuan Tugas (Satgas) pemilihan  Ketua Umum SMU periode 2015/2016.

Info dari Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas, alasan pengunduran diri Yanuar adalah pertimbangan keluarga. Selain itu, skripsinya diterima oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk mengembangkan daerah Parakan, Temanggung. Hal tersebut membuatnya berhalangan hadir dalam orasi karena harus menemui Bappeda.

Interupsi dari peserta sidang tetap | Dok.scientiarum.com/Alena Sabandar

Malinton Fauly Tampubolon, Ketua Umum BPMU 2015-2016, mengungkapkan kekecewaan mengenai pengunduran diri Yanuar pada. “Kami (BPMU-red) merasa kecewa dengan hal itu. Seolah-olah dalam hal ini Lembaga Kemahasiswaan sebagai mainan. Namun, kami kembali pada kebijaksanaan bersama, jika dipaksakan itu tidak baik. Kita harus menghargai hak dia untuk mengajukan dan menarik diri. Dan, ini merupakan sejarah baru, semoga untuk ke depan tidak ditemui kejadian yang demikian,” kata Malinton usai orasi terbuka. (Baca juga: Menuju SMU yang Sinergis)

Penarikan Berkas

Yanuar resmi tidak menjadi fungsionaris BPMU untuk periode depan karena berkasnya sudah ditarik. Setelah itu, ia mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Umum SMU.

“Kalau di BPMU  berkasnya sudah ditarik. Sebelum dia mendaftar di SMU, sudah ada surat penarikan dari angkatan dan dari Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas. Beberapa hari kemudian, saat hari-H bursa akan tutup, jam setengah tiga atau jam berapa saya lupa, dia memasukkan berkas, mendaftar menjadi Ketua Umum SMU,” ungkap Dianelia Reginanta Sembiring, Ketua Komisi B BPMU.

Sejak konfirmasi tanggal 15 Juli 2015 dengan Dian, surat penarikan berkas calon Ketua Umum SMU kepada BPMU oleh Yanuar belum diberikan. Secara resmi, berkas Yanuar masih ada di pihak BPMU, karena menunggu surat penarikan diri yang dititipkan di utusan Pertanian.

“Berkasnya masih ada kok. Karena kemarin dia bilang kan dia tidak jadi mencalonkan. Terus dia (Yanuar-red) mengatakan akan mengantarkan surat pengunduran dirinya yang sudah dititipkan di utusan Fakultas Pertanian dan Bisnis,” jelas Dian.

Alasan Pencalonan dan Pengunduran Diri

Sementara itu, keterangan dari Yanuar, pada 29 Juli 2015, melalui surat elektronik kepada Scientiarum telah memberi alasan pencalonan dan pengunduran dirinya pada pemilihan Ketua Umum SMU 2015/2016.

Dalam surat tersebut, ia mengatakan bahwa Malinton, Ketua Umum BPMU terpilih, menghubunginya melalui pesan seluler dan meminta pertemuan perdana dengan beberapa fungsionaris BPMU lain. Topik pembahasannya ialah pencalonan diri Yanuar menjadi Ketua Umum SMU 2015/2016.

“Saudara Malinton akan melobi saya menjadi calon Ketua Umum SMU. Saya rasa masuk akal karena pertama dengan keberadaan saya di BPMU cukup membuatnya gerah dan bisa membuat batu sandungan di kemudian hari. Membuat saya mencalonkan diri di SMU entah menang atau kalah, akan mendepak saya dari BPMU dan jelas akan merusak citra saya pribadi,” tulis Yanuar kepada Scientiarum.

Yanuar mengungkapkan bahwa Malinton mewanti-wanti kepadanya, agar tidak memberitahu Arron Daud Unas, Ketua Umum SMU periode 2014/2015, perihal pertemuan mereka. Ditambah, melalui Blackberry Messenger untuk tidak menemui Albert Karwur, Ketua Umum SMU yang kini sudah terpilih, sebelum memantapkan visi misi Yanuar.

Dalam pesan Blackberry Messenger yang dikirimkan kepadanya, Yanuar menceritakan bahwa Malinton menganggap Arron dan Albert memiliki skenario sendiri, sehingga Yanuar-lah yang lebih dipilih untuk menjadi rekannya di Lembaga Kemahasiswaan aras universitas.

“Dia menjatuhkan Abe (Albert-red) yang berpotensi akan menimbulkan konflik-konflik internal yang Malinton pandang sudah berseberangan dengannya, terutama masalah KUKM tentang ketua Kristen,” terang Yanuar pada Scientiarum.

Poster Orasi Terbuka Calon Ketum SMU 2015-2016. | doc.scientiarum.com/Pranazabdian Waskito

Poster Orasi Terbuka Calon Ketum SMU 2015-2016. | Dok.scientiarum.com/Pranazabdian Waskito

Yanuar mengasumsikan, jika ia terpilih sebagai Ketua Umum SMU, maka langkah Malinton dalam membuat SMU bersinergis dengan BPMU akan lebih mudah. “Mengangkat saya, dengan asumsi jika saya terpilihpun simpati mahasiswa dan fungsionaris pasti buruk tentang saya. Sehingga berdampak pada saya akan sulit bangun SMU yang solid, dan otomatis tidak ada waktu untuk mengancam BPMU dengan konflik-konflik internal. Dan itu akan memaksa saya dan SMU untuk searah dengan BPMU,” tulis orang nomor satu di Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Bisnis periode lalu.

Melalui pencalonan diri sebagai Ketum SMU, Yanuar berencana akan membeberkan permainan yang dilakukan Malinton ke hadapan publik pada saat orasi berlangsung. Diharapkan dengan melakukan hal ini akan memberi efek jera sehingga tidak terulang kembali pada periode berikutnya.

Namun pengunduran diri tiba-tiba dilakukan sehari sebelum orasi berlangsung dengan alasan adanya kehadiran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari Universitas Kristen Petra, Surabaya dan alasan utama yaitu, larangan dari pihak keluarga untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum SMU.

Sabtu, 11 Juli 2015, melalui pertemuan diskusi pencalonan Ketua Umum SMU yang direncakan oleh Malinton dan beberapa fungsionaris BPMU lainnya, Yanuar mengundurkan diri dari pencalonan.

Malinton: Tidak Ada Salahnya Saya Melobi

Di sisi lain, konfirmasi langsung dengan Malinton oleh Scientiarum, mengungkapkan bahwa tidak ada kerja sama di balik pemilihan ini. Posisinya sebagai pemimpin sidang tidak mempunyai kapasistas membuat keputusan akhir apapun. Malinton menilai bahwa tindakan melobi Yanuar tidak memiliki pengaruh apapun dengan hasil pemilihan nantinya.

“Menurut saya, tidak salah melobi. Dalam hal ini jelas, saya hanya sebagai pimpinan sidang,” ungkap Malinton pada Jumat, 31 Juli 2015.

Malinton mengakui memang menghubungi Yanuar melalui pesan seluler untuk memotivasinya mencalonkan diri. Meski aklamasi dinilai tidak bermasalah dalam pemilihan, namun diharapkan ada nilai persaingan tersendiri yang didapat jika ditambah satu calon lagi.

“Jika misalkan saya bekerjasama dengan  dia (Yanuar-red), buktinya apa? Jika dikatakan kerja sama, saya hanya pimpinan sidang, saya tidak punya hak apa-apa. Tujuan saya hanya untuk mempersuasif dia di SMU, sebab kompetensi dia sebagai eksekutor. Jadi tidak ada kerja sama dalam hal memenangkan Yanuar,” ungkap Malinton.

Bila menilik hasil musyawarah pada pemilihan di BPMU pada 26 Juli 2015, Malinton menilai bahwa pernyataan Yanuar, semata-mata ingin membuat nama Malinton jatuh. “Mungkin dia merasa dijebak atau apa, saya tidak mengerti. Karena dulu dia mencalonkan diri di BPMU, kalah dengan saya. Mungkin dengan itu cara dia membuat nama saya jatuh. Karena dia bilang dia belum bisa menerima kekalahannya di BPMU,” tegas Malinton. (Baca juga: Menuju BPMU yang Terbuka dan Pro Mahasiswa)

Malinton mengaku bahwa dirinya mendukung kedua calon secara penuh. “Bukan saya tidak suka dengan salah satu calon. Awal saya masuk saya sudah kenal dia (Albert Karwur-red). Kalau Albert saya kenal baik, kalau Yanuar saya baru-baru saja bertemu. Saya mendukung kedua belah pihak yang maju. Hanya memang yang satu sudah mempersiapkan sejak lama, sedang yang satu masih baru. Jadi mungkin hanya tanggapan orangnya (Yanuar-red) saja yang terlalu berlebihan. Memang saya di situ agak persuasif untuk mendukung dia (Yanuar-red),” tambah Malinton.

Cara mempersuasif menurut Malinton, hanya bertemu tatap muka sebanyak dua kali. Malinton mempersuasif  Yanuar dengan mengatakan bahwa Yanuar cocok menjabat di SMU.

“Karena hasil evaluasi kinerja kemarin, di eksekutor juga bagus. Saya tidak salah mempersuasif dia. Dia seperti pantas duduk di SMU. Karena dia punya kompetensi yang bagus,” tukas mahasiswa program studi Sosiologi ini.

Malinton juga menambahkan bahwa tidak ada ketakutan terjadi perpecahan di LK, meskipun Albert Karwur yang akan terpilih nantinya.

Malinton menekan kembali bahwa tindakan melobi bukan merupakan suatu kesalahan. Sebaliknya, apa yang dilakukannya justru membantu pengkaderan di LK ini berjalan lebih baik.

“Kami sebagai BPMU berpengaruh penting. Bagaimana kami mempersuasif orang  untuk membawa LK ke depannya lebih baik. Kami mempunyai fungsi salah satunya, rekrutmen. Bagaimana cara merekrut orang agar bisa masuk dan kami kembangkan di LK,”  jelas Malinton.

Malinton juga mengaku tidak pernah mengirimkan pesan seluler kepada fungsionaris manapun untuk bertemu, kecuali pada Yanuar.

“Saya sms memang untuk bertemu. Itu hanya murni biar tidak aklamasi. Tujuan ini ya baik. Kadang orang menganggap salah. Orang punya kebenaran masing-masing. Tergantung dia memandang dari persepsi apa.  Yang saya maksud bukan ke arah yang lain,” tutur Malinton menjelaskan.

Rut Christine, mahasiswa Fakultas Biologi, angkatan 2014. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Pranazabdian Waskito dan Arya Adikristya Nonoputra

2 thoughts on “Menuju Lembaga Kemahasiswaan yang Terbuka”

  1. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Yang bener yang mana?

  2. Sapa aja boleh says:

    ga tau pusingin amat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *