Peningkatan Mutu Guru SD Raja Ampat di UKSW

Browse By

Sebagai usaha peningkatan taraf pendidikan di Kabupaten Raja Ampat, Pemerintah Daerah Raja Ampat menjalin kerja sama dengan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana. Program pendidikan jarak jauh ini untuk memberikan kompetensi mengajar kepada para guru SD di kabupaten Raja Ampat.

Pemda Raja Ampat mengirim sebanyak  51 orang, terdiri dari 35 orang laki-laki  dan 16 guru perempuan untuk diwisuda 1 Agustus 2015 lalu, di UKSW. Para mahasiswa berangkat dari Papua pada 29 Juni 2015, dengan kapal laut selama tiga hari tiga malam, dan turun di Pelabuhan Tanjung perak Surabaya, pada 2 Juli di Surabaya.

Sesampainya di Tanjung Perak, rombongan langsung pihak UKSW dengan menggunakan bis. Mereka menuju Salatiga hari itu juga dan tiba pada malam 3 Juli. UKSW menyediakan tempat tinggal sementara di daerah Kemiri Candi.

Para mahasiswa sendiri merupakan para guru yang sudah bekerja di sekolah dasar selama kurang lebih 20 tahun. Rata-rata para mahasiswa sudah berusia 40 tahun ke atas dan telah berkeluarga. Mereka mengikuti program studi lanjut sebagai sebuah upaya peningkatan mutu guru sekolah dasar di kabupaten Raja Ampat.

Adapun, biaya  yang digelontorkan oleh pemerintah untuk memberi subsidi program ini berjumlah 1,4 milyar untuk dua gelombang kepada PGSD UKSW. Mahasiwa yang ada pada saat ini adalah mahasiswa studi lanjut gelombang kedua.

Para mahasiswa ini sudah pernah mengenyam pendidikan di Papua. Namun hanya sebatas SPG (Sekolah pendidikan guru) dan D3 saja. Mereka menempuh studi di Universitas Terbuka. Para mahasiswa dari Raja Ampat harus melakukan studi lanjut agar mendapat gelar S1, sejak dikeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 62 Tahun 2013 mengenai guru SD wajib memiliki gelar S1 sehingga mampu mendapatkan tunjangan profesi guru.

“Kegiatan studi lanjut yang telah dijalankan oleh pihak Raja Ampat dan UKSW merupakan program yang sangat membantu kami, dan kami merasa sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan. Kami bangga terhadap UKSW, karena dapat meluluskan S1 dari yang sebelumnya hanya lulusan SPG dan D2,” ujar Esau Kaihatu, Ketua rombongan studi lanjut mahasiswa Raja Ampat.

Esau mengatakan, bahwa di Salatiga mereka melanjutkan sisa studi yang pernah dilakukan di Raja Ampat. Mereka harus menyusun skripsi serta melakukan bimbingan untuk mengikuti wisuda pada tanggal 1 Agustus 2015. Dalam menyusun skripsi, mereka dibantu oleh dosen pembimbing berjumlah delapan orang dan beberapa mahasiswa himpunan mahasiswa Pascasarjana.

Bimbingan dilakukan secara intensif demi meningkatkan kualitas skripsi yang mereka buat. “Fasilitas serta bantuan pendidikan yang diberikan oleh UKSW sangat baik serta berkualitas. Sehingga kami merasakan ada pengingkatan mutu dari pihak mahasiswa Raja Ampat sendiri. Para mahasiswa yang membantu dalam penyusunan skripsi cukup berkompeten serta banyak membantu kami. Kami memiliki banyak keterbatasan yang sulit untuk ditanggulangi sendiri,” tambah mahasiswa yang mengajar di SD YPK Effata Mutus, distrik Waigeo Barat Daratan, Raja Ampat.

Esau mengungkapkan, ketika tiba di UKSW, mereka mendapatkan hal-hal baru yang belum pernah mereka rasakan di Papua. Mulai dari gedung perkuliahan yang lengkap serta memadai, dan kualitas dosen pembimbing yang berkompeten pada bidangnya.

Gedung FKIP, salah satu yang tertua di kampus UKSW. | Dok.scientiarum.com/Andreas Kristian Budiarto

Gedung FKIP, salah satu yang tertua di kampus UKSW. | Dok.scientiarum.com/Andreas Kristian Budiarto

Herry Sanoto, Kepala Program Studi PGSD, FKIP UKSW, menjelaskan bahwa program pendidikan jarak jauh yang telah berjalan sejak 2012 ini, memberi beragam fasilitas, berupa tempat tinggal sementara dan tunjangan tambahan. Tunjangan ini meliputi pelatihan International Trade Center ITC, studi banding, dan kursus-kursus tambahan yang diperlukan oleh para mahasiwa Raja Ampat.

“Selain itu, seusai wisuda, pihak PGSD sendiri juga akan melakukan kunjungan bersama para mahasiswa ke Candi Borobudur bersama untuk memperkenalkan kekayaan wisata di wilayah Jawa Tengah,” ujar Herry.

Untuk keseluruhan biaya penginapan sendiri, wisuda, kunjungan serta fasilitas tambahan dikenakan biaya sebesar Rp 3.300.000  per orang. “Biaya tersebut telah ditransparasikan kepada mahasiswa oleh pemerintah dan pihak PGSD,” tambah Herry.

Selain memberikan bantuan akademik, pihak PGSD juga mengirimkan koordinator yang mengunjungi tempat tinggal sementara para mahasiswa. “Ini dilakukan agar mampu menciptakan rasa nyaman bagi para mahasiswa dari Raja Ampat,” tambah Herry.

Jear  Niklas Dominggus Karniatu Nenohai, mahasiswa Fakultas Teologi, angkatan 2013. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Pranazabdian Waskito

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *