Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Harmoni “Avatar” dari Tangan Para Pemula

Rubrik Kampus oleh

Sabtu siang itu, tepatnya 5 September 2015, punya cerita sendiri untuk menutup rangkaian kegiatan orientasi mahasiswa baru 2015. Seperti biasa, pawai selalu jadi puncak acara yang ditunggu-tunggu. Tidak hanya drumblek, iring-iringan model dengan berbagai desain kostum hasil karya mahasiswa baru jadi sorotan tersendiri untuk penonton pawai. Kostum pawai hasil buatan sendiri ini, mengusung tema serial Avatar: The Legend of Aang, yang menceritakan empat unsur elemen kehidupan: air, api, tanah, dan udara.

Empat elemen ini merupakan penggambaran dari unsur-unsur pembentuk bumi. Tiap elemen juga memiliki filosofinya masing-masing. Tema ini tidak sekedar diambil agar pawai kali ini lebih keren dari tahun lalu. Tema ini juga mau mengingatkan kepada kita, penghuni-penghuni Nusantara, agar kembali pada alam. Menjaga dan melestarikan bumi yang kita tinggali ini.

Sekarang, mari kita lihat satu persatu-satu filosofis tersembunyi yang terkandung di balik tiap elemen. Tidak hanya menggambarkan soal bumi, namun juga sifat-sifat manusia itu sendiri.

Api menggambarkan semangat. Kegairahan dalam meraih cita-cita dan keinginan untuk mencapai yang terbaik. Api yang selalu naik ke atas bermakna rasa antusiasme dan kekuatan kreativitas dalam diri manusia. Api juga menggambarkan luapan emosi negatif seperti dendam, marah, dan dengki. Seringkali luapan emosi yang ada dalam diri kita, dapat membakar kebahagiaan dan cinta kasih yang kita miliki, mengontrol kita, dan menjadi kendali atas diri kita. Padahal kita memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menundukkan luapan itu, mengendalikannya dalam jangkauan pemikiran kita. Sehingga bukan kerugian yang ditimbulkan dari amarah, tapi kebaikan bagi orang di sekeliling kita.

Sedangkan udara memenuhi kebutuhan setiap orang, setiap saat tanpa mengenal waktu. Dalam pemahaman klasikal Jepang, udara digambarkan sebagai langit yang merupakan tempat tinggal para penguasa alam. Udara menggambarkan sifat cinta kasih, kebebasan, kepercayaan diri, kebahagiaan, dan kemandirian. Udara yang selalu kita hirup dari Sang Mahakuasa, harusnya dapat kita kembalikan dalam bentuk kebaikan dan kebahagiaan bagi setiap orang di sekitar kita. Sehingga kita menjadi pembawa kesejukan bagi siapapun yang datang pada kita.

Lalu unsur air. Air yang mengalir tenang, akan tetap sampai ke tujuan meskipun ada batu yang menghalang, lama-kelamaan batu itu akan tergerus dengan sendirinya. Air melambangkan bentuk kerendahan hati dan ketenangan. Dalam keadaan tertentu air dapat meluluh lantahkan semua yang ada di sekitarnya. Namun ia juga dapat membawa kehidupan bagi siapapun yang dilaluinya. Bagaikan air, manusia memiliki ketenangan dan kerendahan hati di dalam dirinya. Sifat tenang ini akan menghantarkan manusia menuju kebahagiaan dan perdamaian dengan sesama.

Dan elemen terakhir adalah tanah. Tanah adalah sumber dari kehidupan tempat tumbuhan hidup. Tanah memiliki sifat kesuburan, namun juga bersifat tandus. Tanah menggambarkan emosi ketenangan, kesabaran, dan ketegasan. Di dalam dirinya, manusia selalu memiliki prinsip hidup yang mendasarkan dirinya dalam melakukan sesuatu. Keteguhan dan ketegasan pada prinsip yang dianutnya, seharusnya akan menghantarkan manusia pada keadaan yang kokoh dan tak mudah terombang-ambingkan oleh pilihan-pilihan yang merugikan dalam hidupnya.

Untuk merealisasikan makna-makna filosofis dari setiap elemen, persiapan dalam pembuatan kostum menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Tidak heran sejak awal OMB dimulai, tepatnya tanggal 23 Agustus 2015, para maba sudah dijelaskan perihal acara pawai ini.

Sekitar delapan fakultas terpilih, dilibatkan dalam acara pawai kostum kali ini. Fakultas tersebut adalah Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Bahasa dan Sastra, Fakultas Hukum, Fakultas Teologi, Fakultas Sains dan Matematika, Fakultas Biologi, Fakultas Teknik Elektro, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Total kostum yang harus dibuat oleh delapan fakultas ini sebanyak 50 kostum. Tidak terbayang, berapa banyak hal yang harus dipersiapkan untuk mengejar target 50 kostum dalam waktu kurang lebih dua minggu.

Kesulitan tidak hanya datang dari maba yang mungkin terkesan awam dalam pembuatan kostum. Koordinator dan LO yang mendampingi tiap kelompok kostum juga sudah pasti harus berpikir keras untuk membuat satu karya yang harmonis pada pawai kali ini. Tiap fakultas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing diberi tenggat waktu. Kostum sendiri pun terbagi menjadi beberapa bagian (mahkota, sayap, badan, dan ekor) yang harus dikumpulkan sesuai batas akhir.

Prasetya mengungkapkan, sering kali yang jadi masalah adalah koordinasi tiap kelompok. “Kita menghadapi banyak orang dengan kepala yang berbeda-beda. Ketika deadline ada yang tidak mengumpulkan, ada yang tidak datang,” tutur Prasetya.

Batas waktu dari panitia mungkin dianggap momok oleh kelompok. Ada saja kelompok yang belum dapat menyanggupi batas pengumpulan salah satu bagian kostum sehingga sengaja tidak datang atau tidak membawa bagian kostum yang harus dikumpulkan. Padahal kostum tersebut harus diperiksa oleh koordinator untuk diketahui kekurangan dan perbaikan yang harus dilakukan. Maklum, mungkin takut dimarahi oleh koordinator maka sengaja berlaku seperti itu.

Salah satu kostum elemen tanah milik Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) cukup menarik perhatian. Bagian terbesar dari kostum milik fakultas ini adalah sayap berukuran sepanjang kurang lebih 1,5 meter. Bagian-bagian lain dengan warna hijau senada seperti mahkota, baju perisai, ikat pinggang, dan setelan bawahan tampak diletakan terpisah dari bagian sayap.

Peter Hartanto, Liasion Officer (LO) dari FBS, bercerita tentang pengalaman pertama menangani pembuatan kostum untuk acara pawai. FBS menyumbang tiga kostum dari total 50 kostum yang digunakan dalam pameran. Kendala-kendala utama yang dirasa oleh Peter adalah keterbatasan waktu, dana, dan sulitnya menentukan desain kostum. “Kita baru pertama kali mengalami ini. Tahun kemarin kan tidak ada. Jadi benar-benar kita mulai dari nol. Dana dan deadline itu kendala yang paling berat,” keluh Peter.

Dengan dana subsidi dari universitas sebesar 500.000 rupiah sudah dirasakan cukup berat untuk menanggung pembuatan kostum. Mahasiswa baru (maba) pun terpaksa harus ikut menyumbang dalam pembuatan kostum ini. Total kocek yang dikeluarkan untuk pembuatan satu buah kostum lengkap dalam satu kelompok kurang lebih menghabiskan 900.000 rupiah.

Dana tersebut bisa jadi berbeda untuk kelompok lainnya. Peter menuturkan, “Kalau kelompok lain di FBS dengar-dengar sudah satu juta lebih sih, tapi kalau fakultas lain ada yang lebih besar lagi.”

Dari sisi penetuan desain ada masalah tersendiri yang dialami fakultas ini. “Pertama kita sudah gambar desain bagus, tapi kita bingung cara eksekusinya. Misalkan kita mau buat mahkota ada tempelan besar di kepala, bingungnya cara buat tempelannya mau dipasang di kepala gimana,” cerita Peter.

Maba diberi tuntutan oleh koordinator untuk menjadi kreatif. Setiap kostum harus murni dibuat langsung oleh maba. Jika ada yang ketahuan meminta bantuan dari pihak luar, maka akan dikenakan denda oleh koordinator kostumnya.

Dalam waktu kurang lebih satu setengah minggu ini, Peter merasa tidak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan satu buah kostum utuh.  Walau telah diberi jangka waktu dari awal OMB sampai hari terakhir sebelum pawai, tetap ada kesulitan yang datang dari maba sendiri.

Karena harus mengejar target waktu, para maba yang bertugas dalam pembuatan kostum sampai harus menginap semalaman di hall Stiba. “Bahkan kita tidur di sana melanjutkan trus pagi nya pulang. Ada tiga orang yang tidak tidur untuk menyelesaikan. Padahal jam tujuh pagi ada kuliah. Jadi kita jam enam pagi pulang,” ungkap Peter menceritakan suka duka yang dialami bersama maba.

Hasil karya kostum yang sudah dibuat, tidak akan disia-siakan begitu saja. Kostum yang telah selesai digunakan akan dititipkan untuk disimpan dan dirawat oleh koordinator. Rencananya sepuluh kostum terbaik juga akan dipamerkan.

Tidak mudah memang menghasilkan kostum yang baik dalam waktu yang singkat. Namun siapa yang menyangka para maba yang notabenenya adalah pemula dalam pembuatan kostum ini, sanggup memberikan yang terbaik. Hasilnya tidak sia-sia. Tiap pengorbanan yang sudah dilakukan, cukup memuaskan koordinator.

Prasetya mengatakan sangat bangga melihat hasil karya maba 2015 kali ini. “Melihat hasil yang sudah dibuat oleh mahasiswa 2015, saya speechless, bagus banget. Ternyata realitanya mereka sanggup walaupun dengan jarak (waktu-red) sedekat itu. Kalau tahun 2012 itu kan ada waktu sekitar 3 bulan. Ini hanya dua minggu dan mereka mampu menyamai hasil 2012. Ini yang membuat saya lebih bangga,” jelasnya.

Mungkin seperti inilah suka duka pembuatan kostum oleh maba 2015. Untuk mewujudkan empat elemen unsur itu menjadi hidup, dalam pembuatannya tidak hanya dibutuhkan kreativitas. Perlu penerapan dari keempat elemen tersebut. Seseorang harus mampu mengontrol api amarahnya, agar mampu bekerja sama dengan anggota lain. Ia juga harus mampu bekerja dengan rasa sukacita, tanpa merasa terbebani, memiliki ketenangan dan kesabaran agar ide dan proses pembuatannya berjalan dengan lancar. Harus ada keseimbangan dari ketiap unsur untuk menciptakan harmoni karya yang indah. Itulah Avatar: The Legend of Aang.

Rut Christine, mahasiswi Fakultas Biologi, angkatan 2014. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Evan Adiananta Nonoputra

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas