Perintah Dor Sang Jenderal!

Browse By

“Dor!”, harusnya seperti itulah akhir cerpen pertama dalam Penembak Misterius oleh Seno Gumira Ajidarma. Pembaca dibuat jengkel karena cerpen tersebut dibuat tanggung. Pembaca dipaksa untuk menerka-nerka dan membayangkan apa yang akan terjadi. Cerpen pertama tersebut berjudul Keroncong Pembunuhan, menceritakan mengenai seorang penembak jitu bayaran yang diminta untuk menembak mati seseorang. Sang penembak menyangka bahwa targetnya kali ini tidak pantas untuk ditembak. Akhirnya, ia mengarahkan laras senapannya ke seorang wanita yang menyuruhnya.

“Apa-apaan ini?”

Dalam teleskop kulihat wajahnya mendongak ke arahku dengan kaget.

“Katakan padaku,” kataku lagi, “apa kesalahan orang itu?”

Sang penembak meminta wanita itu untuk menunjukan siapa yang menyuruhnya. Karena ketakutan, wanita itu akhirnya mengatakan bahwa yang menyuruhnya adalah orang yang berada di depan target. Sudah. Seno tidak menceritakan lagi akhir cerita. Ia menulis inilah keroncong fantasiii.

Judul: Penembak Misterius Penulis: Seno Gumira Ajidarma Penerbit: Galang Press, Yogyakarta (2007)

Judul: Penembak Misterius
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Galang Press, Yogyakarta (2007)

Ada 15 cerpen dalam buku ini. Sebagian besar berkaitan dengan situasi sosial-politik pada masa orde baru. Misalnya Keroncong Pembunuhan, Bunyi Hujan di Atas Genting, dan Grhhh!. Trilogi cerpen tersebut menjadi pengingat kembali ketika isu “petrus” dihapus dari memori masyarakat.

Buku Penembak Misterius ini memiliki daya gugat terhadap apa yang dibentuk oleh orde baru, yaitu militerisme. Bunyi Hujan di Atas Genting misalnya, menceritakan mengenai pembunuhan orang-orang bertato oleh orang-orang yang tidak dikenal. Sawitri, tokoh utama dalam cerpen ini adalah saksi dari pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di dekat rumahnya, terutama ketika hujan tiba. Setiap pembunuhan terjadi, ia berharap agar Pamuji, lelaki yang dicintainya tidak menjadi korban.

Sementara itu cerpen berjudul Grhhh! Menceritakan mengenai bangkitnya mayat-mayat hidup yang marah karena telah menjadi korban pembunuhan. Mereka adalah korban-korban yang hilang pada masa orde baru. Pada akhir cerita, diceritakan bahwa Bintara Sarman, menggunakan Handy Talky berkata kepada atasannya, “Pembantaian itu kesalahan besar pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!” Bintara Sarman kemudian digigit mayat hidup sambil berteriak minta tolong pada komandannya.

Ada beberapa cerpen lagi di dalam antologi ini, misalnya Semangkin (d/h Semakin), Srengenge, dan Bayi Siapa Menangis di Semak-Semak? Semuanya bercerita mengenai geliat kehidupan masyarakat akar rumput di tengah kehidupan sosial-politik yang represif pada masa orde baru. Saya tidak akan membahas semuanya, namun buku Seno ini bisa jadi gambaran bagi kaum muda yang hidup pada masa reformasi untuk merefleksikan kembali kehidupan masa kini, agar seharusnya menghargai setiap detiknya untuk memberikan kontribusi yang positif kepada masyarakat. Saya tidak menyarankan buku ini kepada pembaca sastra yang lebih menyenangi tema-tema percintaan.

Bima Satria Putra, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi, angkatan 2013. Pemimpin Redaksi LPM Lentera Fiskom. Juga alumni Scientiarum.

Penyunting: Pranazabdian Waskito

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *