Perempuan, Penjaga Rumah Tangga

Browse By

Sudah dua minggu masa Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) UKSW 2015 berjalan, ada satu hal yang membuat saya bertanya-bertanya, mengapa beberapa ibu paruh baya, mau menunggui anaknya mengikuti kegiatan di kampus. Sejenak saya berpikir dan menjawabnya di dalam hati, mungkin karena anaknya belum terbiasa dengan keadaan baru di Salatiga, jadi perlu ditemani.

Akan tetapi hal ini tidak terjawab begitu saja. Seminggu yang lalu, tidak sengaja saya bertemu dengan seorang ibu asal Jayapura yang sedang menunggui anak laki-lakinya mengikuti kegiatan OMB sejak pagi hingga sore, di depan gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom). Ketika itu saya mengajak berbincang dan bertanya tentang tempat asal dan sedang apa dia duduk sendiri. Ibu itu bercerita tentang kedatangannya ke Salatiga untuk mengantar dan menemani anaknya selama beberapa minggu.

Selanjutnya, dia mulai bercerita tentang bagaimana tanggung jawab seorang perempuan yang sudah berkeluarga, dengan harapan-harapan yang indah akan masa depan anak-anak yang lebih baik. Saya mulai sadar tentang arti pengorbanan kaum perempuan bagi keluarga, ketika dia menceritakan harapan dan doa seorang ibu kepada anaknya yang bersekolah jauh dari rumah.

 Saya menulis ini untuk menunjukan hal yang kita pahami dalam studi gender, atau masalah feminisme dan pembangunan, tetapi kita belum bisa menunjukan kesederhanaan perjuangan kaum perempuan di dalam rumah tangga yang telah melahirkan generasi bangsa yang besar.

Pada umumnya studi pembangunan menafsirkan beberapa prespektif, yaitu lingkungan, sosial, dan politik. Ketiga hal ini tidak terlepas dari masalah perempuan dalam pembangunan. Dari beberapa literatur yang saya baca tentang kaum perempuan, ada hal menarik ketika penulis tentang perempuan seperti Vandana Shiva, memperjuangkan hak-hak perempuan di beberapa negara kawasan selatan.

Shiva membahas tentang ekologi dan perjuangan hidup perempuan yang selama ini tidak diperhitungkan bangsa sebagai pembangunan yang mutlak. Saya mengartikan hal ini sebagai perempuan penjaga rumah tangga dengan pengorbanan diri. Sulit memang ketika memaknai pengorbanan diri kaum perempuan bagi keluarganya.

Mengapa saya mengatakan hal ini? Karena sistem masyarakat kita, telah memunculkan pemahaman, hal itu sudah menjadi kodrat kaum perempuan yang menikah, yang berjanji sehidup semati, susah dan senang bersama pasangan yang dipilih.

Akan tetapi saya mau menunjukan arti perempuan sebagai penjaga rumah tangga yang sebenarnya. Berbicara tentang arti pengorbanan diri seorang perempuan untuk keluarga, awalnya terlintas bagi saya, sebagai seorang perempuan, mungkin itu sudah menjadi kodratnya. Akan tetapi, melihat harapan dan tujuan dari contoh ibu tadi, kita tidak akan bisa berpikir sederhana tentang waktu dan tenaga yang diberikannya bagi keluarga. Selama ini kita berpikir, sudah selayaknya perempuan yang sudah menikah, otomatis lebih konsentrasi kepada keluarganya. Apakah kita pernah berpikir nilai pengorbanan itu telah melahirkan pembangunan bangsa yang besar?

ocd4Kerja perempuan dalam rumah tangga, selama ini hanya dilihat sebagai hal sekunder dan bagian “alami” dari peran biologisnya, dan pandangan ini juga telah menentukan sifat perencanaan pembangunan bangsa. Awal gagasan Eropa tentang laki-laki sebagai pencari nafkah, (breadwinner) dan perempuan sebagai ibu rumah tangga (housewife) merupakan “beton bertulang” bagi kebanyakan proyek pembangunan.

Mereka percaya, jika laki-laki diberi keuntungan, hal itu juga akan menetes kepada anggota keluarga lainnya, dan keluarga itu akan lebih baik (Maria Mies 1986). Bayangkan saja, pemahaman sederhana ini telah mengkonstruksi begitu banyak orang di dunia dalam melihat perempuan dalam rumah tangga.

Seperti halnya kaum perempuan di Afrika dan India, kehidupan mereka yang keras karena sistem patriarki dan kasta, menjadikan mereka kaum termiskin. Padahal kemajuan bangsa mereka, tak lepas dari pengorbanan para perempuan di dalam rumah tangga. Kegagalan kita mengenali dan menghargai kerja produktif perempuan dalam rumah tangga, menghalangi pengakuan atas kerja perempuan yang lain.

Setelah cucumu lahir aku lebih paham

betapa beratnya membesarkan dan setia melindungi semua anak-anakmu

kita yang s’lalu hidup sederhana

kau sanggup mengasuh hingga kami dewasa

dengarkanlah nyanyian yang aku peruntukkan buatmu, ibu.

Itulah sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Ebiet G Ade “ Lagu Rindu untuk Ibu”,  mengisahkan pengorbanan seorang perempuan bagi anak-anaknya. Ketidakpedulian kita terhadap kerja perempuan yang membangun bangsa, juga terjadi pada bangsa Indonesia.

Pengorbanan diri seorang ibu yang disajikan dalam lagu ini, begitu dalam. ketika saya kembali mendengarnya, saya berpikir, membesarkan anak-anak yang tumbuh dewasa dan menjadi tonggak pembangunan itulah hal yang paling penting. Hal sederhana dari pengorbanan diri kaum perempuan yang saya maksudkan ialah, bertanggung jawab memberi makan, pakaian, bahkan mendidik anak-anak sekalipun sumber daya dan persaingan hidup yang semakin sulit seperti sekarang.

Apakah kita sadar, bangsa kita tak lepas dari pengorbanan perempuan yang berada pada pusat reproduksi kehidupan dan masyarakat. Tidak hanya dalam pengertian biologis, tetapi melalui peran mereka dalam berbagai sektor. Sekalipun pembagian kerja dalam kancah global telah berubah karena kritikan kaum feminis dan sejumlah negara berkembang, mempekerjakan kaum perempuan dalam tenaga kerja industri bisa dibilang menjadi sektor kerja yang baru. Akan tetapi apakah kita sadar, perempuan akan selalu menjadi penjaga rumah tangga untuk anak dan suami?

Permasalahannya adalah, masyarakat kita tidak melihat semua tugas perempuan di dalam rumah tangga. Semisal memberi makan, pakaian, bahkan mendidik anak-anak, bukan kualitas kerja yang sesungguhnya. Padahal semua perempuan melakukan ini untuk keuntungan anggota keluarga.

Hal ini tidak dianggap sebagai kerja. kegiatan semacam itu bukan sasaran yang sah bagi pembangunan bangsa. Bahkan, perempuan Indonesia harus bekerja keras untuk menyekolakan anaknya. Tanggung jawab mengasuh anak, dan bahkan setelah anak-anak berhenti menyusui, hanya dilihat sebagai tugas utama perempuan. Apakah kita tahu, bahwa satu kegelisahan perempuan yang tidak pernah kita sadari adalah, kaum perempuan selalu memikirkan bagaimana ketidakberdayaan mereka memenuhi tugasnya sebagai seorang ibu?

Apakah menjadi ibu itu alami? Alam telah melengkapi perempuan untuk melahirkan. Artinya hanya perempuan yang bisa mengandung, memiliki anak, dan menyusui. Apakah kita tahu, bahwa istilah “ibu” merupakan istilah sosial? nama itu milik bahasa yang dikonstruksi oleh manusia ( Maria mies 1986). Saat perempuan melahirkan, resiko atas keselamatan nyawanya juga dipertaruhkan. Tetapi hal ini dianggap masyarakat wajar dan biasa bagi perempuan. Padahal tingkat kematian ibu melahirkan sangat tinggi. Akan tetapi kematian ini sama sekali bukan hal yang wajar, tetapi konsekuensi dari sistem sosial dan ekonomi perempuan memiliki sedikit kontrol atas diri mereka karena itu harus dianggap penting.

Kita perlu melihat pengorbanan kaum perempuan yang membesarkan bangsa. Generasi bangsa yang lahir, tidak lepas dari peran perempuan dalam rumah tangga. Sebuah pendapat menarik dari teori feminis yang dikembangkan oleh sosiolog Kanada Dorothy Smith. Smith (2002), mengamati kesenjangan yang tumbuh antara orang yang bertanggung jawab sebagai seorang istri, dan ibu yang diharapkan sebagai wanita terpelajar.

Smith menegaskan bahwa sudut pandang perempuan yang didasarkan pada pengalaman sehari-hari, adalah titik awal untuk pendekatan yang berbeda, untuk mengetahui secara penuh dan dapat dipercaya. Kemudian Smith mengatakan hal ini sangat berperan dalam membentuk pendekatan yang disebut etnografi kelembagaan, yang menekankan hubungan kehidupan sehari-hari, praktek profesional, dan lingkaran pembuat kebijakan bagi perempuan.

Saya setuju dengan pendapat ini, yakni memahami kaum perempuan haruslah mulai dari pengalaman sehari-hari mereka. Melihat kepedulian dan pekerjaan mereka dari keluarganya sampai di dalam masyarakat, maka kita akan lebih memahami peran kaum perempuan. Nyatanya, sekalipun ada lembaga yang menampung segala aspirasi dan inspirasi perempuan bangsa ini, akan tetapi belum mampu melihat kaum perempuan dari pengalaman hidup mereka, dan menempatkan perempuan dalam rumah tangga sebagai pekerjaan dimulainya pembangunan sebuah bangsa.

Teori modernisasi Scott (1995: 5), menjelaskan sulitnya suatu bangsa melihat perempuan dan rumah tangga, yang digambarkan sebagai pandangan alam terhadap perempuan tidak dapat dirubah, dan orang-orang tidak berdaya untuk mengendalikannya.

Saya setuju dengan pemikiran ini, bangsa ini belum mampu melihat perempuan sebagai pembangun. Pandangan alam terhadap kaum perempuan seolah-olah tidak dapat dirubah. Seperti pernyataan sebuah surat di India oleh Muthulakshmi Reddi, di dalam buku berjudul “Kaum Perempuan dan Ketidakadilan Sosial” yang ditulis oleh Mahatma Ghandi (2011), yang menarik perhatian saya untuk kembali merefleksikan diri, memahami peran perempuan di dalam rumah tangga.

Satu kutipan menarik yang bisa saya jadikan kesimpulan tulisan ini, “Satu alasan mendasar sebagai kejatuhan bangsa anda secara drastis adalah, anda tidak memiliki rasa hormat kepada kehidupan perempuan yang dilukiskan sebagai Shakti (istri). Jika anda tidak membangkitkan kaum perempuan yang merupakan perwujudan dari Ibu Pertiwi, apakah anda pikir bahwa anda memiliki cara lain untuk bangkit?”

Jeane Fransina Diana Talakua, mahasiswi program magister pada Studi Pembangunan UKSW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *