Drumblek, Hiburan Ekonomis untuk Rakyat

Browse By

Sabtu 5 September 2015, Kota Salatiga dimeriahkan oleh penampilan pawai dari para Mahasiswa baru yang berasal dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Para mahasiswa baru menampilkan kreatifitas dalam bentuk kostum, tarian bendera dan drum blek.

Kegiatan ini dimulai pada pukul 13.00 WIB dengan titik mulai di pagar depan UKSW. Kemudian para mahasiswa berjalan ke arah depan Mal Taman Sari dan menuju ke arah Pasar Raya. Tepat di depan Pasar raya, para rombongan pawai kemudian berbelok dan menuju ke arah Selasar Kartini sebagai lokasi ketiga yang mereka lewati.

Saat berjalannya pawai, ada sekitar dua sampai empat peserta pawai yang pingsan karena kelelahan, sehingga harus dilarikan ke Poliklinik oleh petugas keamanan UKSW yang ada di lapangan. Terdengar juga bunyi sirine ambulan yang membongkar keramaian masyarakat yang pada saat itu ikut menonton, untuk mengangkut peserta pawai yang pingsan. Perjalanan pun mendekati akhir ketika para rombongan pawai berjalan mengikuti jalur Monginsidi. Kemudian berbelok kiri di persimpangan lampu merah, lalu berjalan menuju kembali ke kampus Diponegoro.

Pawai tahun ini dibuat berbeda dengan tahun kemarin. Para peserta diberikan tugas untuk membuat kostum dengan tema “Avatar: The Legend of Aang”. Nuansa kosmik terlihat dari kostum yang mereka buat, karena mewakili empat elemen penting di muka bumi: yaitu air, api, tanah dan udara. (Baca juga: Harmoni “Avatar” dari Tangan Para Pemula)

Hal kedua yang menarik pada tahun ini ialah, penampilan drumblek yang ditampilkan oleh maba. Kehadiran drumblek menambahkan unsur seni dalam pawai. Suara gemuruh tong, balera (xylophone), dan kentongan bambu menambah kemeriahan acara melalui corak bunyi. Seperti biasa, warga Salatiga yang kebetulan memadati jalur pawai, menonton sambil berdesak-desakan. Bahkan ada warga yang menonton dari atas ketinggian karena tidak kebagian tempat.

Beberapa jalan protokol di Salatiga sempat ditutup sementara, sempat barisan ditahan sementara untuk memberi ruang kepada pengendara umum yang ingin lewat. Hal ini memberikan kesibukan tersendiri kepada aparat kota yang bertugas menata lalu lintas. Kejadian tersebut memberi kesempatan kepada para peserta pawai buat rehat sejenak dan minum untuk mengusir dahaga sekaligus menambah energi.

Ada juga warga Salatiga yang memanfaatkan waktu rehat itu, untuk berfoto dengan para peserta pawai yang menggunakan kostum empat elemen tadi. Baik orang tua maupun anak-anak menghampiri para peserta kostum untuk berfoto bersama.

Drumblek Sebagai “Ide Gila” untuk OMB

Dari deretan panjang barisan pawai dan para instruktur drumblek yang ikut serta, terselip para pemain drumblek yang berperan sebagai modifikasi marchingband dengan memainkan peralatan perkusi ekonomis. Tim yang memainkan alat-alat musik ramah harga tersebut pun akrab dikenal dengan nama drumblek atau marchingblek. “Tim drumblek merupakan suatu usaha untuk memperkenalkan budaya Salatiga kepada para mahasiswa baru. Tim ini dikelola mahasiswa UKSW sendiri, di bawah naungan Pembantu Rektor III. Drumblek pertama kali dilibatkan di OMB pada 2011, dan berdiri pada tanggal 2 Agustus 2011,” ujar Adya Nadira Arzak, Ketua CS Marchingblek.

Marchingblek sendiri merupakan bentuk “imitasi” dari marchingband, tetapi kemudian ditambahkan kentongan (alat musik pukul dari bambu) yang asli Salatiga. Drumblek pun menjadi salah satu inovasi pada tataran hiburan rakyat, terkhusus bagi masyarakat kota Salatiga hingga saat ini. Drumblek masih dipelihara dengan baik, dan dimainkan pada acara tertentu di kota Salatiga. Bahkan ada beberapa tempat di sekitar Salatiga yang memiliki drumblek sendiri, seperti: Drumblek kampung Pancuran, Gareng12 Ngaglik, dan Drumblek Anak Cengek (DAC) asli daerah Cengek.

Bila menilik sejarahnya, konon drumblek pertama kali dimainkan oleh warga desa kampung Pancuran di Jalan Jenderal Sudirman pada tahun 1986. Pada saat itu kampung Pancuran diminta untuk berparitipasi dalam Karnaval HUT RI. Namun karena  keterbatasan dana, mereka menginisiasinya dengan memainkan drumblek dari alat-alat bekas, misalnya bambu, seng, drum, jerigen. Kehadiran jerigen kecil untuk menghasilkan suara alto, serta ember besar untuk suara bass. Drumblek merupakan imitasi dari drumband, hanya saja alatnya yang “lebih merakyat”.

Komunitas drumblek di UKSW pertama kali dicetus oleh Girindra Abhiyoga (Fiskom), Dwi Kukuh akrab dipanggil Kimpul (Pertanian), Yakub Adi Krisanto (Dosen Fakultas Hukum). Mereka ingin menciptakan sebuah inovasi baru terhadap acara OMB sekaligus memperkenalkan budaya kota Salatiga. Nuansa etnis dalam wujud alat musik tradisional kian mempertegas identitas UKSW sebagai kampus Indonesia Mini.

“Ide ini merupakan ‘ide gila’ untuk acara OMB. Sejak 2011 tim drumblek mahasiswa UKSW selalu mengisi acara pawai untuk para mahasiswa baru. Tahun lalu memang sempat tidak tampil dan akhirnya memakai tim drumblek dari luar. Tapi tahun ini kami berhasil menampilkan kembali berkat bantuan para mahasiswa baru,” tukas Adya.

Lagu yang dimainkan CS Marchingblek juga merupakan lagu-lagu rakyat. Misalnya Gundhul-gundhul Pacul, Cublak-cublak Suweng, dan Mars Satya Wacana yang telah diaransemen. Meski usianya sudah cukup lama, drumblek masih tetap terus berkibar sebagai aliran musik rakyat yang berada di kota Salatiga. Dan tentu, memberikan warna tersendiri terhadap acara penyambutan mahasiswa baru di UKSW.

Jear  Niklas Dominggus Karniatu Nenohai, mahasiswa Fakultas Teologi, angkatan 2013. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

One thought on “Drumblek, Hiburan Ekonomis untuk Rakyat”

  1. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Semangat CS Marchingblek!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *