Rancang Ulang Gerakan Mahasiswa

Browse By

Seberapa jauh mahasiswa bergerak? Dalam konteks gerakan mahasiswa, pertanyaan tersebut terjawab dengan memberikan contoh aksi demontrasi besar seperti yang terjadi pada 1998. Kala itu mahasiswa menyerukan adanya reformasi pemerintahan akibat resesi ekonomi, represi aparat terhadap berbagai kegiatan massa, serta absolutisme kepemimpinan Soeharto. Sekonyong-konyong terjadi regenerasi kepemimpinan nasional, namun tidak terjadi perubahan signifikan pada rakyat kecil. Mahasiswa kembali masuk ke kampus.

Pasca 1998, berbagai aksi demonstrasi mahasiswa menjadi seolah-olah menjadi menu wajib bagi mahasiswa yang disebut sebagai aktifis. Hampir di semua kampus yang sebelum 1998 tidak mengenal demonstrasi, kini sudah mengenal demonstrasi. Tidak ada isu sentral yang diusung, masih seputar penolakan terhadap berbagai kenaikan harga, serta kebijakan pemerintah lokal. Meski demikian setidaknya hal ini menjadi indikasi kebebasan berserikat dan berkumpul serta mengeluarkan pendapat dan pikiran yang lebih longgar.

Begitu bebasnya, ormas-ormas sektarian mulai bermunculan menghembuskan alternatif sistem pemerintahan berbasis agama. Di beberapa tempat mulai banyak terjadi demonstrasi dengan isu-isu sektarian misalnya penolakan terhadap pemimpin dari minoritas, walaupun hal ini justru menjadi antitesis terhadap nasionalisme. Bahkan belakangan kampanye tersebut menjadi lebih gencar seiring perkembangan teknologi informasi. Isu-isu politik kini ramai dibicarakan oleh hampir semua kalangan masyarakat melalui jejaring media sosial, tidak secara elit di kalangan aktifis saja.

Demikian derasnya perubahan tatanan berdemokrasi di seluruh penjuru Nusantara yang berjalan seiring dengan regenerasi pemerintahan lokal dan nasional, menjadikan cerminan bagi gerakan mahasiswa di Salatiga, khususnya Satya Wacana. Namun beberapa tahun belakangan, jarang lagi terdengar adanya aksi demonstrasi mahasiswa Satya Wacana. Hal ini menjadi tanda tanya besar? Apakah semua baik-baik saja, atau justru sebaliknya?

Sempat terdengar frasa sumbang bahwa “demonstrasi tidaklah kristiani”. Bahkan secara tegas dituduhkan bahwa menjadi aktifis hanya merupakan pelarian karena ketidakmampuan di bidang akademis. Realitas ini tidak bisa dinafikan begitu saja, hal ini sepatutnya menjadi bahan instrospeksi diri bagi para aktfis.

Mengembangkan bidang akademis melalui berbagai risetnya, itulah tanggung jawab Satya Wacana. Namun bagaimana membangun mentalitas lulusan yang “ber-Satya Wacana” bukanlah tanggung jawab yang mudah, karena hal ini tidak serta-merta disematkan dalam berbagai mata kuliah. “Ber-Satya Wacana” itu mungkin terjadi dari kultur akademis yang terjadi tidak hanya di ruang-ruang kuliah.

Sikap pemimpin yang anti-kritik dan dominan, tidak memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berpikir dan bertindak kritis. Pemimpin yang dimaksud bukan hanya pemimpin Universitas ataupun Fakultas tapi juga Dosen. Situasi yang mana mahasiswa diam—tanpa adanya kritik dan demonstrasi—barangkali dianggap sebagai suatu citra positif bagi universitas sebagai kampanye untuk meningkatkan jumlah peserta didik yang masuk. Namun ketika nalar dan sikap kritis ini tidak dikembangkan, maka bagaimana mereka akan bersikap demikian setelah masuk dalam dunia kerja?

Apakah lulusan Satya Wacana hanya akan menjadi salah satu sarjana dari sekian banyak sarjana dari perguruan tinggi lainnya? Jika demikian apakah makna kehadiran Satya Wacana?

Berdasarkan pertanyaan mendasar tersebut, patut kita berpikir untuk merancang ulang gerakan mahasiswa di Satya Wacana. Apakah gerakan mahasiswa hanya berhenti pada isu-isu politik? Apakah gerakan mahasiwa hanya mewujud dalam aksi-aksi demonstrasi?

Pertama dan terutama adalah membangun pemikiran kritis. Hal ini saya rasa bukan hal baru, berbagai diskusi yang secara rutin diadakan perlu mendapat dukungan lebih serius. Tempat dan kesempatan untuk berdiskusi diperluas, hasil-hasil diskusi difasilitasi untuk menjadi tulisan yang dipublikasikan. Sebagai tindak lanjut perlu juga untuk diselenggarakan secara lebih terarah dengan topik-topik tertentu, sehingga dapat dihasilkan alternatif-alternatif pemikiran dan solusi baru.

Kedua, merupakan variasi lebih lanjut adalah diskusi ataupun sarasehan lintas budaya. Suatu kekayaan yang dimiliki Satya Wacana adalah keragaman etnis yang dimilikinya. Perjumpaan lintas komunitas budaya sejauh pengamatan saya baru terjadi secara intensif dalam pentas budaya, selebihnya merupakan kebetulan saja. Potensi ini perlu untuk dikembangkan untuk memperkuat jalinan nasionalisme dan kebanggaan sebagai anak bangsa sembari membangun pemikiran kritis.

Ketiga, proyek berbasis komunitas, dengan tujuan untuk interaksi mendalam mahasiswa dan masyarakat Salatiga. Kegiatan bersama berbasis komunitas lokal misalnya di tiap RT, perlu ditingkatkan. Kegiatan tersebut tidak hanya sebatas perayaan 17 Agustus saja, lebih jauh misalnya dalam aksi bersih-bersih lingkungan, posyandu, karang taruna ataupun kegiatan usaha bersama dan lain sebagainya. Jika perlu, mahasiswa perlu bertindak sebagai inisiator. Universitas perlu memberikan dukungan dan apresiasi, kepada mahasiswa yang berpartisipasi proyek ini.

Gerakan mahasiswa tidak berarti melulu demonstrasi turun ke jalan, namun sesekali jika perlu.

Slamet Haryono, alumni Fakultas Biologi UKSW, angkatan 2000.

Penyunting: Fajar Ardiansah

One thought on “Rancang Ulang Gerakan Mahasiswa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *