Tinjau Bersama Fungsi Legislatif di Tubuh LK

Browse By

Dari tulisan yang dibuat oleh Joy Tarigan (selanjutnya akan saya sebut JT), saya melihat bahwa ia berusaha membawa pembaca memahami peran legislatif dengan membukanya dengan judul besar berupa sebuah pertanyaan. JT mengutip definisi legislatif  dari KBBI sebagai pendasaran idenya. JT kemudian mendeskripsikan pendasaran kehadiran badan legislatif di UKSW melalui KUKM.

Hal itu kemudian diikuti oleh penjelasan dari JT mengenai tugas dan peran dari legislatif dengan melakukan sedikit pembandingan dengan eksekutif. Entah tulisan ini ditulis atas hasil refleksi pribadi atas kineja BPMF dari pandangannya sendiri, ataupun karena kritik dari pihak luar yang ia tampung. Dari tulisan yang disuguhkan JT, saya melihat bahwa JT memiliki visi sendiri untuk merubah pandangan mahasiswa secara umum mengenai legislatif. (Baca juga: Pentingkah Lembaga Legislatif di UKSW?)

Mula-mula, ada baiknya kita berenang di permukaan lebih dulu. Terdapat dua jenis bentuk pemerintahan yang dimiliki oleh Lembaga Kemahasiswaa di UKSW. Yaitu Senat sebagai lembaga eksekutif dan BPM sebagai lembaga legislatif. Jika kita simak secara teliti, jenis pemerintahan ini mirip dengan gaya pemerintahan trias politica yang diusung oleh seorang filsuf politik Perancis bernama Montesquieu, dalam bukunya berjudul “The Spirit of Law”. Hanya saja, di UKSW minus yudikatif.

Lebih dalam, teori politik yang diusung oleh Montesqieu yakni adanya pembagian kekuasaan menjadi tiga: pertama, legislatif sebagai penyusun undang-undang, eksekutif sebagai pelaksanaan undang-undang, dan yudikatif  sebagai pengawas berjalannya undang-undang. Ide tersebut bertujuan meminimalisir penyelewengan kekuasaan yang terjadi di tataran pemerintah, serta terjadi keseimbangan kekuasaan. Montesquieu menuntut agar kekuasaan harus dibagi, serta dipegang oleh tangan-tangan yang berbeda, dan kekuasaan-kekuasaan ini diharapkan saling mengontrol guna mengimbangi satu sama lain.

Montesquieu  juga menegaskan bahwa dengan meletakkan setiap kategori fungsional pada lembaga pemerintah, monopoli otoritas oleh satu orang atau satu kelompok bisa dihindari. Dengan kata lain, kondisi kebebasan politik bisa dijamin lebih baik. Ide ini berpengaruh luas sampai ke berbagai belahan dunia. Termasuk Indonesia.

almamaterJika benar demikian, bahwa gaya pemerintahan Lembaga kemahasiswaan dirancang atas ide dari Montesqiue, maka tentu sistem pemerintahan yang dibangun tentu persis sama. Tetapi sedikit diberikan modifikasi sesuai dengan konteks yang berada di UKSW. Hal ini wajar-wajar saja karena LK sendiri pun juga dapat dikatakan lembaga politik. Karena semestinya LK bekerja untuk kepentingan mahasiswa UKSW sendiri.

Dari tulisan yang disajikan oleh JT, saya melihat bahwa ia kurang menggali secara mendalam esensi dari BPMF atau BPMU sebagai badan legislatif di UKSW. Serta, ia cenderung terjebak di dalam paradigma pembandingan tugas serta tanggung jawab terhadap eksekutif. Meski demikian, menurut pandangan JT, baik eksekutif dan legislatif memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama. Tetapi menurut JT, ‘mahasiswa pasif’—yang tidak pernah terjun ke dalam dunia LK—cenderung hanya menilai kinerja LK dari jam tayangnya saja. Sehingga dampak dari hal itu ialah, mahasiswa acap menilai eksekutif lebih bekerja ketimbang legislatif.  Hal ini wajar saja, sebab fungsi SMF maupun SMU ya memang tampil di depan layar.

Kendati demikian,  JT menegaskan bahwa legislatif sendiri memiliki tugas yang sama beratnya dengan eksekutif. Tetapi untuk hal ini terdapat beberapa hal yang membuat saya tidak sependapat dengan pemikiran JT. Karena menurut saya, caranya dalam membandingkan legislatif dengan eksekutif kurang bijak, serta menunjukan ketidakpahaman JT terhadap esensi dari badan legislatif itu sendiri.

Suatu ukuran apakah sebuah badan organisasi berhasil atau tidak, bukan diukur dari jam tayang. Tetapi diukur dari tercapai tidaknya visi yang dibangun organisasi tersebut. Sejauh manakah sebuah badan menjalankan fungsinya secara efektif, sesuai dengan visi yang dibangun. Bukan juga diukur dari banyaknya agenda dan program yang dirancang, tetapi seberapa mendalam dan terpenuhikah, pelayanan yang diwujudkan bagi khalayak mahasiswa.

Selain itu, hadirnya legislatif di tubuh LK juga bukan hanya sekedar menjadi penyalur aspirasi mahasiswa serta menyusun GBHPLK dan tetek bengeknya. Tetapi juga bertugas mengawal kestabilan politik agar terhindar dari praktik korupsi kekuasaan. Sesuai dengan pemahaman Montesquei tadi.

Kehadiran legislatif, berfungsi sebagai perancang norma tertinggi bagi mahasiswa. Hal ini memungkinkan arus politik berjalan dengan memiliki batasan-batasan tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Karena jika sebuah badan organisasi bekerja tanpa batasan, maka dimungkinkan terjadi penyelewengan kekuasaan dan fungsi. Yang tentunya juga, akan berpengaruh buruk kepada khalayak mahasiswa sendiri. Dengan kata lain, dapat kita katakan legislatif sebagai pembuat pagar dalam sebuah sistem politik.

Mahasiswa pun dimungkinkan untuk dapat berpartisipasi langsung dalam pengambilan-pengambilan keputusan yang terkait dengan kepentingan mereka. Misalnya dalam pemilihan ketua Senat, dipilih oleh BPM yang notabene adalah utusan mahasiswa sendiri. Ide dalam perancangan program pun juga datang dari suara mahasiswa melalui kuesioner. Legislatif juga memiliki hak khusus yang tidak dimiliki oleh eksekutif yang tentu hanya ada di dalam koridor mereka. Saya kira hal tersebut sudah dijelaskan oleh JT dalam tulisan yang dibuatnya, walaupun tidak dituliskan secara lengkap, sehingga menimbulkan kekaburan.

Baik eksekutif maupun legislatif, memiliki keistimewannya masing-masing. Ragam keistimewaan tersebutlah yang menjadi gaya bekerja dari kedua badan tersebut. Saya kira ini merupakah salah satu hal yang penting untuk menjadi perhatian kita. Serta kekonsistenan untuk bekerja sesuai dengan esensi dan keinginan untuk memperjuangkan kepentingan seluruh mahasiswa di UKSW.

Pada akhirnya, jika sebuah sebuah badan organisasi kehilangan esensi dan tidak bekerja sesuai dengan fungsinya, maka badan organisasi tersebut tidak akan berumur panjang.

Jear Niklas Dominggus Karniatu Nenohai, mahasiswa Fakultas Teologi, angkatan 2013. Jurnalis Scientiarum, sekaligus fungsionaris Senat Mahasiswa Universitas periode 2015-2016.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *