Dishub Tutup ‘Halte Mubadzir’

Browse By

Jumat (9/10), sekitar pukul 19.00, Dishubkombudpar Kota Salatiga memasang marka pembatas jalan di sepanjang Halte Angkutan Kota di depan kampus UKSW. Sebelumnya, halte tersebut  digunakan untuk lahan parkir oleh sekelompok pengelola parkir.

Ari Harsodi, Kepala Pengamanan dan Pengendalian Lalu Lintas Dishubkombudpar Kota Salatiga, menerangkan bahwa pemasangan marka itu sebagai peringatan karena halte tersebut telah dialihfungsikan menjadi lahan parkir. Padahal halte itu semestinya digunakan untuk  menaikkan dan menurunkan penumpang. Pun, di sana juga terpasang plang “dilarang parkir”.

Namun sampai saat ini, halte tersebut tidak pernah difungsikan, karena angkot biasanya menaikkan dan menurunkan penumpang di depan gerbang UKSW.

Ari juga menambahkan, lahan parkir tersebut merupakan ‘lahan liar’ karena tidak adanya kesepakatan antara pihak pengelola dengan Dishubkombudpar. “Hasil dari parkir di sana apakah masuk ke kas negara?” tanya Ari.

Mengacu pada pemberitaan Scientiarum sepanjang 2009-2012, Dishubkombudpar telah melakukan berbagai penertiban di tempat tersebut, salah satunya pemasangan portal besi. Namun, menurut Ari, portal tersebut digeser dan dihilangkan oleh oknum.

Tindakan terakhir dari Dishubkombudpar adalah penggembosan ban para pengguna parkir dan penilangan, yang bekerja sama dengan kepolisian. Namun, ‘parkir liar’ tersebut masih dilakukan hingga sore, 9 Oktober 2015.

“Sudah beberapa kali kami melakukan operasi dan kenyataannya masih difungsikan sebagai lahan parkir. Dan ternyata, kami harus bertindak,” tegas Ari.

Rencananya halte akan terus ditutup hingga ada rencana kerja sama dengan pihak yang mampu mengelola halte. “Mungkin dari tempat panjenengan mau bertanggungjawab, akan kami buka. Tapi tidak boleh untuk parkir,” tutur Ari.

Elsa Santiago, mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, angkatan 2014. Liputan ini dikerjakan bersama Agne Yulya Christiany dan Yoel Bastian. Ketiganya wartawan Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

2 thoughts on “Dishub Tutup ‘Halte Mubadzir’”

  1. Mahmud Al Salatigi says:

    menurut saya, pengembangan kampus UKSW harus dibarengi jumlah lahan parkir agar tidak menimbulkan hal tersebut terjadi ( parkir liar ). kampus hijau yang ramah terhadap lingkungan dan perparkiran juga.

  2. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Mahmud, sebenarnya lahan parkir UKSW itu ada dua: pertama, parkiran sebelah Kafe Satya. Kedua, Parkiran Cungkup. Parkir Cungkup ini masih luas, cuman sepengamatan saya parkir itu jarang digunakan sebagai alternatif. Bagi saya pribadi, kendalanya ada pada jarak yang cukup jauh. Ini hanya satu pendapat kecil mengenai parkiran di UKSW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *