Tanggapan Winisuda atas Wisuda Tanpa BU

Browse By

Sejak wisuda periode I 2015/2016, acara wisuda yang sedianya dilaksanakan di BU (Balairung Universitas) kini dialihkan ke Lapangan Sepakbola UKSW. Ini disebabkan adanya renovasi BU. Wisuda periode II 2015/2016 yang dilaksanakan Sabtu, 24 Oktober 2015 pun dilaksanakan di lapangan.

Scientiarum telah mewawancarai tiga winisuda dalam beberapa kesempatan sebelum wisuda. Mereka adalah Hezky Charisma Budiono, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra; Fendy Antonius Kurniawan, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi; dan Efenetus, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Menurut Hezky, dia sebenarnya tidak rela jika wisuda diadakan di lapangan. Dia mengatakan seharusnya pihak kampus bisa memberikan tempat tertutup lain yang sepadan. “Untuk masalah tempat itu berharapnya paling tidak misal di GKJ, kan biasanya ibadah Senin di situ. Yang masih tertutup gitu lho, masih enak dibuat acara wisuda,” katanya.

Mengenai biaya, Hezky tahu wisuda angkatan sebelumnya membayar Rp 600 ribu untuk biaya wisuda. Dia menyadari kenaikan biaya wisuda menjadi 750 ribu. Saat ditanya bagaimana rincian biaya itu, dirinya mengatakan tidak tahu. Dia tidak mempermasalahkan kenaikan biaya tersebut, namun meminta timbal balik yang jelas dari pihak kampus.

Hal yang sama disampaikan oleh Fendy, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi. Fendy mengutarakan bahwa dia merasa kecewa dengan pihak kampus yang tidak memberi kompensasi yang sepadan dengan fasilitas indoor. Dia mengusulkan jika memang tidak ada alternatif lain, seharusnya wisuda kali ini tidak perlu dikenakan biaya penuh.

Menanggapi biaya wisuda yang naik menjadi Rp 750 ribu, Fendy mengatakan bahwa winisuda seharusnya mendapat fasilitas yang sama seperti di BU. “Nah, ini kok harga tetap, tetapi kok fasilitasnya saya bilang malah lebih turun,” tambahnya. Fendy mengetahui tentang AC (Air Conditioner) portabel yang akan dipasang saat wisuda, namun menurutnya itu tidak setimpal.

Fendy tidak ambil pusing dengan biaya 750 ribu tersebut, dia melihat dari sisi lain bahwa yang penting dia segera lulus dari UKSW. “Yang penting orang tua saya bisa melihat saya wisuda, selesai,” katanya dengan mantap.

Efenetus memiliki pendapat yang berbeda dengan dua narasumber sebelumnya. Walaupun sebenarnya juga kecewa, dia tidak mempermasalahkan tentang wisuda di lapangan. Mahasiswa yang berasal dari Purwokerto ini menuturkan bahwa tempat diselenggarakanya wisuda tidak terlalu penting baginya karena itu hanya sebuah acara seremonial. “Bagiku mau wisuda di manapun gak masalah, karena itu cuma acara seremonial saja,” tegasnya.

Saat ditanya mengenai rincian biaya wisuda, Efen—begitu ia biasa dipanggil—mengatakan biaya tersebut antara lain untuk toga, foto, undangan untuk orang tua, konsumsi, dan masuk ke uang saku pribadi dari staf UKSW. Walaupun begitu, dia menyarankan pihak kampus untuk bisa menekan biaya wisuda. “Cukuplah 500 ribu per orang,” tambahnya.

Renovasi BU Berhenti

ugRenovasiBU5

Dari atas tribun.

Renovasi BU yang dimulai pertengahan Juni 2015 dijadwalkan akan selesai Oktober ini, namun sejak September tidak ada tukang yang menggarap renovasi tersebut. Renovasi BU yang tak kunjung usai membuat semua kegiatan yang biasanya digelar di BU harus dialihkan ke tempat lain, salah satunya adalah acara wisuda. (Baca juga: Renovasi BU, Wisuda Terpaksa di Lapangan)

Efen menyampaikan bahwa BU memang harus direnovasi, terutama plafonnya. “Kalau kita flashback sebelum BU direnovasi itu sudah banyak plafon yang bolong. Ya kurang lebih lebih sekitar empat tahunan,” katanya.

Efen tidak mengetahui mengapa renovasi BU berhenti, ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam proses renovasi BU ini.

Sama seperti Efen, Hezky tidak tahu pasti mengapa renovasi BU berhenti, dia hanya mendengar desas-desus seputar berita itu. “Aku banyak dengar desas-desus sih, cuma aku tidak tahu yang pasti yang bener yang mana,” katanya.

Hezky sebenarnya berharap renovasi cepat selesai sehingga wisuda bisa kembali diadakan di BU. “Kemarin saya juga berharap lulus Oktober tidak apa, toh wisudanya malah di BU. Eh, ternyata kok mundur,” keluhnya.

Dia menyayangkan transparansi yang kurang dari pihak kampus. Dia mengusulkan bahwa pihak kampus lebih memperluas pemberitaan seperti di media sosial. “Kalau sudah diberitahu di Buletin Senin, menurutku gak semua mahasiswa baca. Ada baiknya diunggah ke sosial media yang mahasiswa lebih aktif di sana,” tutup Hezky.

Fendy mengatakan hal yang senada, dia mengawali wawancara dengan rasa heran. “Pertama ya heran karena akhirnya seperti Alfa Omega buat saya. Jadi (ketika) saya masuk 2008, BU sedang direnovasi. Dan akhirnya saya lulus tahun ini BU pun dalam kondisi sedang direnovasi juga. Jadi ya heran, maksudnya bangunan sebesar itu kok bisa hanya dalam waktu tujuh tahun sudah masuk masa renovasi lagi,” jelasnya.

Saat dimintai saran tentang renovasi BU ini Fendy menyatakan tidak tahu saran yang tepat karena tidak tahu pasti masalah BU ini. Namun dirinya yakin bahwa pihak kampus pasti bisa menyelesaikanya. “Apapun masalahnya saya pikir kampus cukup pintar untuk menjadikan ini pembelajaran,” katanya.

Fendy sangat berharap renovasi BU cepat rampung. Fendy sempat berpikir jika wisuda Oktober digelar di lapangan, ia akan menunda sampai renovasi BU selesai. “Wah males banget nih wisudanya kok di lapangan,” keluhnya. Tetapi mendengar desas-desus dari teman-temannya bahwa renovasi akan berhenti lama, dia akhirnya ambil keputusan untuk segera wisuda.

Yoel Bastian, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra, angkatan 2013. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Stephen Kevin Giovanni

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *