Melihat Perspektif Orang Gangguan Jiwa

Browse By

posterJudul : Shutter Island
Produser : Mike Medavoy, Arnold W. Messer, Bradley J. Fischer, Martin Scorsese
Sutradara : Martin Scorsese
Pemain : Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Michelle Williams
Durasi : 138 menit

Anda penggemar film-film dengan plot twist (baca: alur cerita yang tidak terduga) yang membingungkan? Filem yang membutuhkan interpretasi dan kejelian saat menontonnya? Kalau ya, meski filem ini sudah rilis sejak 2010, namun masih wajib ditonton: Shutter Island.

Film ini bergenre thriler psikologi, tetapi ceritanya tentang detektif yang sedang menginvestigasi suatu kasus. Cerita berawal dari dipanggilnya dua detektif U.S. Marshal Edward “Teddy” Daniels (Leonardo DiCaprio) dan rekan barunya Chuck Aule (Mark Ruffalo) ke sebuah pulau kecil, tempat sebuah rumah sakit jiwa untuk tahanan yang dinyatakan gila.

Mereka dipanggil “hanya” untuk menginvestigasi hilangnya seorang pasien (atau tahanan) bernama Rachel Solando (Emily Mortimer). Rachel adalah pasien yang berbahaya, dia dikirim ke Shutter Island karena menenggelamkan tiga anaknya di danau belakang rumahnya. Tidak ada petunjuk apapun mengenai menghilangnya si pasien ini.

Saat melakukan investigasi, Teddy mencurigai pihak rumah sakit tersebut menyembunyikan sesuatu karena dia menyadari bahwa mereka tidak bekerjasama dengannya. Dr. Jeremiah Naehring (Max von Sydow) contohnya, dia tidak mau memperlihatkan arsip data pegawai rumah sakit tersebut. Lalu Dr. Lester Sheehan, dokter utama Rachel malah pergi berlibur setelah hilangnya Rachel. Teddy dan rekanya tidak diperbolehkan masuk ke bangsal C, di mana penjahat yang berbahaya ditempatkan. Petugas sudah mencari ke seluruh wilayah pulau tetapi tidak menemukan tanda apapun tentang keberadaan Rachel. Satu-satunya petunjuk yang ditemukan Teddy adalah secarik kertas di bawah lapisan kayu kamar Rachel bertuliskan “The law of 4; who is 67?”. Apa arti kalimat tersebut? Lebih baik anda menonton sendiri.

Sejak menginjakkan kaki di pulau itu Teddy jadi sering migrain. Teddy juga sering teringat “kenangan” saat dia menjadi salah satu tentara Amerika yang  membunuh tentara nazi di kamp konsentrasi Nazi. Dia juga sering bermimpi tentang istrinya yang bernama Dolores Chanal, yang terbunuh karena apartemen mereka dibakar dengan sengaja. Ini adalah beberapa hal yang aneh terjadi yang dialami Teddy. Mulai dari sini penonton sebenarnya bisa membuat beberapa asumsi tentang hubungan apa yang dialami protagonis.

Dan tanpa disangka-sangka Rachel kembali ke rumah sakit keesokan harinya. Namun Teddy tidak bisa mendapat informasi apa pun darinya. Didorong motif untuk menemukan pembunuh isterinya yang kabarnya direhabilitasi di rumah sakit tersebut serta mengungkap rahasia dibalik rumah sakit ini, Teddy melanjutkan investigasinya. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Lagi, silakan tonton sendiri.

Saat seseorang mengalami musibah sehingga orang tersebut depresi dan trauma berat, lalu timbul halusinasi dan delusi maka dia bisa dinyatakan tidak waras (ini adalah contoh kasus). Biasanya orang tersebut akan menarik diri dari masyarakat, penurunan fungsi fisik dan pikiran, serta menjadi apatis dan seterusnya. Akibatnya, saat orang lain mencap seseorang gila, penyangkalan bahwa dirinya tidak gila hanya akan membenarkan atau menguatkan cap tersebut. Secara otomatis juga orang beranggapan bahwa trauma tersebut yang menjadi alasan orang tersebut gila. Orang mungkin berpikir “tidaklah mustahil kalau  dia menjadi gila karena musibah yang dialaminya”. Inilah salah satu pembahasan dalam Shutter Island, bagaimana cara mengetahui seseorang benar-benar gila (gangguan jiwa).

Jalan pikiran tokoh utama filem ini mungkin sulit dipahami. Sebenarnya tujuan utama Teddy adalah menemukan Rachel, sedangkan Rachel sendiri kembali sehari setelah hilang, jadi bisa dikatakan kasus tersebut telah selesai. Lalu Teddy berniat untuk menemukan pembunuh isterinya, lalu berganti motif lagi untuk membongkar praktik rahasia yang dilakukan pihak rumah sakit kepada pasiennya. Sedangkan “jembatan” untuk menyambung motif Teddy tersebut adalah sebuah badai yang jelas sebuah kebetulan dalam film. Jika tidak ada badai tersebut maka sebenarnya cerita berakhir.

Scene-from-Shutter-Island-001Kualitas akting Leonardo DiCaprio memang tidak pernah diragukan, buktinya dia mampu memerankan tokoh Teddy dengan sempurna. Teddy digambarkan sebagai detektif yang jenius, berintelek, dan mempunyai mekanisme pertahanan ego yang kuat. Saat menginterogasi beberapa pasien, dia tahu bahwa mereka sudah dilatih berbohong dari kata yang digunakan dan gerak-gerik tubuh mereka.

Transformasi akting tokoh lain juga terlihat sangat halus. Ben Kingsley contohnya, dia bisa menjelaskan apa yang terjadi layaknya seorang psikiater secara konstan dari awal hingga akhir filem. Satu-satunya tokoh yang kontroversi di sini adalah Chuck. Perpindahannya yang ekstrim dari teman protagonis menjadi antagonis, sangat terasa membingungkan.

Filem ini sudah cukup menampilkan kesan horor, dengan pengambilan gambar, close up dan sinematografi yang baik. Delusi yang sering dialami Teddy dieksekusi dengan baik oleh Martin Scorsese. Dia tidak melebih-lebihkanya dengan efek yang lebay yang kadang membuat filem triler kehilangan esensinya. Latar suara yang diputar juga mampu memperkuat atmosfer yang suram.

Buntut filem ini menimbulkan debat para penonton awam yang pasti geleng-geleng kepala saat pertama kali menonton. Apa yang sebenarnya terjadi?

Paling tidak anda harus menontonya dua kali untuk mengerti secara keseluruhan filem ini. Karena terdapat plot twist yang besar di akhir. Filem dengan biaya produksi 80 juta dollar ini sangat pas untuk dibahas dari perspektif ilmu psikologi. Maka dari itu, Shutter Island menimbulkan debat dan diskusi antara penonton: apakah protagonis sebenarnya gila atau tidak?

Martin Scorsese bukanlah tipe sutradara yang membeberkan seluruh penjelasan di akhir filem seperti kebanyakan di Hollywood dengan plot twist. Dia berasumsi bahwa penonton sekarang lebih cerdas dalam memahami apa inti cerita dari filemnya. Menurut dia, ini juga suatu trik agar filemnya lebih laku, karena penonton harus menonton untuk kedua kalinya (atau lebih) agar dapat menjelaskan kebingungan saat menonton perdana.

Yoel Bastian, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra, angkatan 2013. Jurnalis Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *