Studium Generale Fak.Teologi: Jangan Jauhi LGBT

Browse By

Dok. panitia

Mr.Bee sedang menyampaikan materi (Dok. panitia)

Salatiga, 14/11 Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana mengadakan Studium Generale tentang Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) menurut tinjauan dari perspektif agama di Gedung Pertemuan Daerah (GPD) Salatiga.

Kegiatan yang dihadiri oleh mahasiswa UKSW, sebagian besar merupakan mahasiswa yang mengambil mata kuliah agama pada semester ganjil 2015/2016, mengusung tujuan kegiatan yaitu bagaimana agama dapat berperan di dalam permasalahan sosial, salah satunya adalah LGBT. “Kita mau menampilkan pemahaman dari masing-masing agama yang ada di Indonesia dan bagaimana pendapatnya mengenai LGBT,“ jelas David S, Ketua Panitia Studium Generale mengenai LGBT.

Studium Generale yang berlangsung hingga pukul 12 siang menghadirkan beberapa pembicara diantaranya Ira Mangililo, Dosen Fakultas Teologi UKSW, Rm. Fransiskus Iwan Yamrewav MSF, Suranto dan Inayah Rahmaniyah, Dosen UIN Sunan Kalijaga, serta Js. Thung Heryanto. Selain tinjauan dari perspektif agama, hadir juga sebagai pembicara dari  Balai Litbang Agama Semarang, Koeswinarno.

Mengacu pada tema Studium Generale, para pembicara membahas bagaimana mahasiswa dapat memberi ruang dan menerima para LGBT. Mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mendengarkan cerita dari Mr. Bee (nama disamarkan) yang telah menjalani kehidupan sebagai seorang gay sejak lama, sehinggga mahasiswa diajak untuk peduli terhadap kaum LGBT. “Untuk teman-teman yang memiliki teman atau saudara yang sama seperti saya, tolong jangan jauhi dia,” tutur Mr.Bee.

Elsa Santiago, mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, angkatan 2014. Jurnalis Scientiarum

Penyunting: Fajar Ardiansah

2 thoughts on “Studium Generale Fak.Teologi: Jangan Jauhi LGBT”

  1. Evan Adiananta says:

    Eman-eman. Acara sebagus ini cuma jadi berita biasa yang tidak memberikan informasi baru bagi pembaca. Kenapa tidak coba gali dari sudut pandang isi materi (apa saja pandangan para pembicara), atau dari sudut pandang dinamika acara itu (biasanya acara macam begini banyak perdebatannya). Sayang, banyak sudut pandang yang bagus tapi kurang tereksplorasi dengan baik.

  2. Evan Adiananta says:

    Jadi begini, minimalnya dari sebuah berita itu bisa menjawab kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ada di pembaca. Contoh, judul tulisan ini “Studium Generale Fak.Teologi: Jangan Jauhi LGBT”

    Kalau ada pertanyaan “kenapa jangan jauhi LGBT?” Sudah bisakah tulisan ini menjawab pertanyaan itu dengan sendirinya? Kalau belum, berarti tulisan itu masih kurang data.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *