“Aji Mumpung” Renovasi Stasiun Tuntang

Browse By

Tuntang, merupakan sebuah kecamatan yang menjadi bagian dari Kabupaten Semarang. Jika dari Salatiga, perjalanan bisa ditempuh sekitar 10 hingga 15 menit. Di sebelah timur Jembatan Tuntang, terdapat sebuah stasiun kereta api tua yang baru saja direnovasi: Stasiun Tuntang.

Dari luar pagar, terlihat tumpukan beton beserta potongan besi. Bentuk beton itu seperti bantalan rel kereta api. Saat SA mendatangi tempat tersebut, pagarnya tertutup dan digembok. Stasiun ini terletak di sepanjang Jalan Tuntang-Beringin. Saat SA melewati jalan tersebut pada 12 November 2015, berseliweran truk molen di kedua sisi jalan, entah dari atau menuju ke mana.

Memang beberapa waktu belakangan ini, Kecamatan Tuntang sibuk dengan dua proyek pembangunan, yakni pembangunan jalan tol seksi Salatiga-Bawen, serta pengaktifan kembali jalur rel kereta api Kedung Jati-Tuntang.

Mengutip dari berbagai sumber, reaktivasi (penghidupan kembali—red) jalur kereta api Kedungjati-Tuntang, merupakan proyek yang digagas Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Jalur sepanjang 30 km tersebut sebenarnya sudah ada sejak pertengahan abad ke-19.

Dilansir dari cnnindonesia.com, jalur Kedungjati-Tuntang, merupakan proyek lanjutan yang dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Nederlansch Indische Spoorwegmaatschappij (NIS), dari jalur kereta api pertama di Indonesia, yakni Semarang-Grobogan. Saat itu, secara keseluruhan, jalur kereta itu membentang dari Semarang hingga Magelang.

Namun proyek reaktivasi ini menimbulkan masalah baru bagi warga yang daerahnya dilalui proyek tersebut. Mengutip dari suaramerdeka.com, warga mengeluhkan saluran air warga terganggu akibat pengurukan dan pengerasan lahan yang sedang digarap tersebut. Namun sayang, tak dijelaskan di mana lokasi detilnya.

Kamis, 12 November 2015, SA mencari letak lokasi yang dimaksud. Berkat informasi yang diperoleh dari warga sekitar, akhirnya SA menuju Desa Delik, Kecamatan Tuntang. Saat sampai di kantor desa, SA tak dapat menemui kepala desa. Kades sedang tak ada di tempat.

Namun, seorang pegawai di kantor desa tersebut mengarahkan untuk langsung menemui Marsono—yang merupakan Kepala Desa Delik—di kediamannya.

Lokasi Kantor Desa Delik dengan Rumah Marsono, kira-kira satu hingga dua kilometer jaraknya. Letaknya ada di dusun Toya Giri. Saat perjalanan ke sana, rutenya memotong area pengerjaan proyek tol Bawen-Salatiga. Alhasil, kami menjumpai banyak alat berat, dan juga truk molen “pengunyah” semen dan pasir.

Tiba di rumah Marsono. Ia menyambut dan mempersilakan masuk ke dalam rumahnya. Setelah mengutarakan maksud dan tujuan wawancara, SA menanyakan soal kabar terganggunya saluran air warga yang terganggu akibat pengerjaan proyek tersebut. “Soal saluran warga yang terganggu akibat proyek itu (reaktivasi rel-red), saya kira tidak ada. Jika pun ada, biasanya warga sudah melaporkan kepada kepala desa terlebih dahulu,” ujar Marsono, yang saat itu memakai pakaian berwarna gelap.

Marsono lalu menambahkan, saluran warga memang ada yang terganggu, namun hal itu sebelum dilakukan pengerjaan proyek reaktivasi rel. ”Justru kami mengirim proposal kepada PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk sekalian diperbaiki. Dan saat ini masih dalam pengerjaan,” tukasnya.

Setelah mewawancarai Marsono, SA lalu melihat lokasi pengerjaan proyek tersebut. Sekitar 200 meter dari rumah Marsono, terdapat pengerjaan peninggian tanah. Tingginya kira-kira sekitar tiga meter. Letak pengerjaan ini memotong dusun Toya Giri, dan jika ingin menuju sisi satunya, harus melewati kolong jembatan beton yang tersedia.

Di atas timbunan tanah tersebut, terdapat tiga alat berat yang letaknya saling berjauhan. Sesekali, truk pengangkut pasir padas berukuran besar melewati kawasan tersebut. Di kawasan proyek itu, belum ada tumpukan beton dan besi seperti yang terlihat di Stasiun Tuntang.

Untuk mendapatkan informasi yang lebih detil, SA lalu menemui Tukimin, Kepala Dusun Toya Giri, untuk menanyakan terkait hal tersebut. Saat ditemui di rumahnya, Tukimin mengungkapkan, memang benar ada beberapa warga yang mengeluh saluran itu. Keluhan warga ialah, saat turun hujan, beberapa sumur milik warga airnya menjadi keruh.

“Saat itu, kami lalu mengadakan musyawarah dengan warga untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. Akhirnya, kami minta PT KAI untuk memperbaiki saluran tersebut, dan awal Desember targetnya sudah selesai,” ujarnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, sebelum rel kereta tersebut dibangun kembali, tak pernah ada keluhan soal saluran air. Saluran air warga, pada akhirnya akan mengalir ke sungai Tuntang. Namun saat tahap pertama pengerjaan proyek itu pada Oktober silam, masalah itu mulai muncul.

Hingga berita ini diterbitkan, SA belum mendapatkan konfirmasi dari Dinas Perhubungan Jawa Tengah, maupun PT KAI Daerah Operasional IV wilayah Semarang.

Robertus Adi Nugroho, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi. Staf PSDM Litbang Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

One thought on ““Aji Mumpung” Renovasi Stasiun Tuntang”

  1. mebel jati says:

    sukses buat proyek jalanya semoga cepat kelar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *