Perihal Toleransi, Belajarlah ke Salatiga

Browse By

Rasanya bukan sebuah kebetulan jika Salatiga menjadi satu-satunya kota di pulau Jawa yang berhasil menduduki peringkat ke-2 kota paling toleran di Indonesia. Kota mungil dengan hiruk pikuk yang tak seriuh rendah kota tetangga ternyata mampu menjadi contoh nyata dalam hal bertoleransi antar umat beragama. (Baca juga: 10 Kota Toleran di Indonesia)

Di tengah kemelut umat beragama di Indonesia yang akhir-akhir ini meraung di media massa, Salatiga justru mempersiapkan sebuah misi menolak disintegrasi. Sebagai sikap toleransi dengan bukti yang nyata, digelarlah sebuah konser lintas iman yang menyuarakan semangat pluralisme pada Sabtu malam pukul 18:30, 23 Januari 2016, di IAIN Salatiga.

Dua orang naik ke panggung. Mereka pembawa acara. Yang perempuan memakai pakaian adat Bali, yang laki-laki berpakaian merah khas Imlek. Hal tersebut menambah getaran nuansa Bhinneka Tunggal Ika semakin kental dan terasa.

Setelahnya, acara dimulai dengan doa bersama. Empat orang berbeda agama berdiri di altar. Mereka menggilir kesempatan untuk tunduk merangkum doa. Lalu dilanjutkan dengan ragam sambutan dan beberapa penampilan dari berbagai agama di Salatiga: paduan suara dari gereja, karawitan hingga drama lima agama.

Boneka Indonesia

Di atas panggung sudah berdiri Tungtung dan seorang perempuan. Mereka angkat suara memberi sambutan, sekaligus wanti-wanti kepada hadirin.

“Harus diingat! Agama itu paling mudah bikin konflik di Indonesia. Dari dulu sampai sekarang,” seru Tungtung sambil mengangkat jari telunjuknya, bak Bung Tomo sewaktu pidato jelang perang.

Setelah kedua orang itu turun panggung, lampu meredup sesaat. Lalu menyala lagi. Menyorot ke atas panggung. Tanda drama dimulai.

Alkisah, seorang pengusaha topeng mengalami mandegnya pemasukan. Topengnya tak lagi laku. Untuk menyiasatinya, ia merubah haluan jenis usahanya dari pengrajin topeng menjadi pengrajin boneka.

Melihat peluang bisnis boneka lebih laku, ia meminta salah satu karyawan andalannya untuk membikin boneka khas Indonesia. Karyawannya manut.

Ragam agam lebur jadi satu penampilan drama.

Ragam agam lebur jadi satu penampilan drama.

Setelah beberapa waktu produksi boneka khas Indonesia, pengusaha itu menilik hasil kerja karyawannya. Ia kecewa. Tak lain gegara boneka yang dibikin semacam boneka koruptor, boneka pengidap phedophil, boneka korban kekerasan, pokoknya serba buruk!

“Tapi kan Indonesia memang begini, pak?” bantah karyawan kepada pengusaha.

“Pokoknya ganti!”

Usut punya usut, ternyata yang dimau si pengusaha adalah boneka Kristen, Islam, Hindu, Budha, Katholik, dan Konghucu yang hidup rukun. Bila Kristen dan Katholik sedang paduan suara lagu gereja, biarlah bernyanyi. Bila Islam sedang mengaji biarlah mengaji. Bila Hindu dan Budha sedang sembahyang, biarlah sembahyang. Bila Konghucu sedang Imlek-an, biarlah merayakannya. Salah satu pesan yang nendang ialah lakukan semaumu, tanpa melarang orang lain atau agama lain untuk melakukan semaunya juga. Bukan saling larang, apalagi sampai saling ‘menghilangkan’.

Konser ini tergolong jarang ditemui. Jika melihat penontonnya, mereka berbalutkan busana khas agamanya masing-masing, sembari duduk berdampingan tanpa menimbulkan penyimpangan.

Mulanya konsep acara ini digagas oleh Pendeta Eben dari GKJ Sidomukti lalu dikoordinasi oleh Sobat Muda, hingga akhirnya berhasil terselenggara, kendati sebelumnya sempat tertunda beberapa kali. Sobat Muda merupakan komunitas lintas iman, terinspirasi oleh Forum Sobat yang diprakarsai oleh Lembaga Percik Salatiga, Sinode GKJ dan Pondok Pesantren Adimancoro sejak 2002.

“Kami ingin promosi terutama untuk perdamaian dan toleransi di Salatiga dan sekitarnya, karena kami berpikir bahwa jika itu tidak dipelihara, kemungkinan konflik juga bisa terjadi seperti beberapa kota di Indonesia” ujar Ambar Istiyani, salah satu anggota Sobat Muda.

Acara yang menonjolkan nuansa persaudaraan ini mendapat dukungan beberapa pemuka agama Hindu, Kristen, Budha, Islam, Katholik, dan Konghucu di Salatiga. Pun, juga dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk Yulianto, Walikota Salatiga.

Pandita Novella, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra. Wartawan Scientiarum. Menulis juga di panditart.wordpress.com. Liputan ini dikerjakan bersama Arya Adikristya.

5 thoughts on “Perihal Toleransi, Belajarlah ke Salatiga”

  1. STR says:

    Coba kalo nggak ada agama, orang-orang ini mau berkonflik seperti apa?

    Baca lagi pernyataan Ambar Istiyani di atas. Dia bilang, “Kami ingin promosi perdamaian dan toleransi di Salatiga.” Mengapa? “Karena jika itu tidak dipelihara, kemungkinan konflik juga bisa terjadi seperti di beberapa kota di Indonesia.”

    Dengan kata lain: orang-orang ini takut akan konflik, tapi tidak takut memelihara sumber konflik mereka, yakni agama.

    Coba kalo nggak ada agama, orang-orang ini mau berkonflik seperti apa?

    Tanpa agama, sudah banyak konflik soal politik, ekonomi, hukum, lahan, dst. Dan ketika agama ada, konflik jadi makin banyak aja.

    Ketika konflik agama makin marak, orang buru-buru ngoceh soal toleransi. Buat apa? Toleransi sudah terbukti mandul sejak adanya konflik agama. Kalo toleransi memang mujarab, mana mungkin ada konflik agama?

    Daripada buang-buang energi ngomongin toleransi, kenapa nggak buang agama aja? Itung-itung mengurangi sumber konflik.

    Buanglah agama pada tempatnya.

  2. yog says:

    agama adalah budaya. dan diindonesia 90% warganya beragama, jadi tidak mungkin membuang agama, dan agama memang bisa mjdi alat pemecah jika salah mengartikannya, tp agama jga isa menjadi jawaban atas tantangan yg dihadami manusia…

  3. TH says:

    Agama itu ibarat orang mau pergi ke Jakarta, mau naik pesawat, mau naik kereta atau naik mobil ga masalah. Mau naik apa saja boleh. Jadi untuk tujuan yang sama sarananya (agama) bisa berbeda.

  4. Pandita Novella says:

    Menanggapi komentar dari STR,
    dengan atau tanpa label agama, manusia tetaplah memiliki sisi busuk yang berbahaya, tamak dan ingin berkuasa.

    Memang, agama adalah alat pamungkas yang terbukti selalu berhasil memperkeruh keragaman hidup manusia. Namun rasanya sesumbar sekali kalau berpikir : agama dibuang konflik akan berkurang.

    Karena kelak, jika agama dirasa sudah kuno dan tak lagi relevan lagi untuk merusak peradaban, manusia-manusia pemegang kuasa akan menemukan alat lain untuk menciptakan konflik demi kepentingannya. Sifat manusia yang tak pernah puas akan melahirkan perang demi perang.

    Di Indonesia, toleransi memang tampak mandul karena realitanya doktrin untuk saling menghancurkan lebih nyaring disuarakan secara sangat sistematis sampai mengalahkan nurani untuk bertoleran. Pada dasarnya toleransi digaungkan bukan hanya untuk pemeluk agama saja, tapi untuk memanusiakan manusia yang masih beranggapan dirinyalah yang paling sempurna.

    Konflik agama tercipta bukan karena ajaran agama itu sendiri, melainkan pola pikir pemeluk agama yang masih “kekanak-kanakan” serta salah kaprah dalam menyikapi perbedaan. Atau jangan2 memang tunduk untuk dicerai berai? Haha

    Perihal beragama itu menyangkut hak asasi, perihal toleransi adalah demi kehidupan bersama.

  5. STR says:

    Pemeluk agama memang kekanak-kanakan. Dan sayangnya, mereka tidak akan tumbuh dewasa sebelum agamanya dibuang.

    Gak ada ceritanya orang jadi tambah dewasa setelah memeluk agama. Mereka justru tambah kekanak-kanakan karena otaknya dijejali dongeng-dongeng soal nabi dan Tuhan. Akal sehatnya gak pernah dipake, makanya gampang diprovokasi kanan-kiri.

    Bego kok dipelihara.

    Baca lagi komentarku di atas. Aku gak pernah ngomong: agama dibuang konflik akan berkurang. Yang aku bilang: agama dibuang sumber konflik berkurang.

    Apakah setelah sumber konflik berkurang, maka konflik juga akan berkurang? Ya meneketehe, liat aja nanti. Yang jelas: dengan tidak mengurangi sumber konflik, jangan harap konflik akan berkurang. Goblok banget soalnya.

    Ide tentang toleransi itu sendiri sudah menyiratkan anggapan bahwa agama adalah sumber konflik. Mudeng gak? Karena setiap agama mengandung potensi untuk berkonflik, maka orang ribut-ribut soal toleransi untuk meredam potensi itu. Coba kalo agama itu 100% cinta damai, tanpa potensi konflik sedikitpun, gak usah ngomong soal toleransi juga dunia damai-damai aja.

    Toleransi itu cuma peredam. Dan sumber konflik yang diredam, cuma jadi bom waktu yang meledak sebelum orang-orang sadar. Habis meledak, baru tanya: kenapa? Tanya sama Tuhan sana! Paling Tuhan cuma ketawa sampe keluar air mata.

    Karena ada makin banyak konflik, orang jadi belajar soal perdamaian. Jurusan peace studies mulai banyak di mana-mana. Meskipun ini bukan hal yang salah, tapi lumayan menggelikan. Orang lupa kalo perdamaian itu bukan untuk dipelajari, tapi untuk dilakukan. Tapi orang selalu punya alasan untuk tidak melakukan. Orang selalu punya alasan buat menunda. Lagi belajar, salah satunya.

    Padahal mereka tidak akan pernah belajar apapun, sebelum melakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *