Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Rotan Tak Ada, Sampahpun Bisa

Rubrik Salatiga oleh

Salatiga, Minggu, 7 Februari 2016. Sejak pagi tadi matahari terselimuti gumpalan mega mendung, dengan diiringi gemuruh geledek yang bersenandung. Silaunya pucat, langitpun pekat. Banyak orang mengumpat soal hujan yang tak kunjung tersendat. Di saat yang hampir sama, saya percaya jika curah hujan yang padat bisa saja adalah berkat yang tak perlu dihujat sekalipun lebat dan aktivitas terhambat.

Sesaat sebelum senja, hujan tetap ngeyel menolak reda. Akhirnya tak perlu manja, saya nekad menuju ujung sebelah barat kota Salatiga yang lembab, dengan menyimpan harapan agar masih sempat waktu untuk meliput lokakarya polietilena dan sablon. Kedua lokakarya tersebut merupakan bagian dari rangkaian pra acara Festival Mata Air 2016 gelaran Komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK).

Karena selama perjalanan saya memang tak sempat ngiup, praktis baju sedikit kuyup. Sesampai di Sitinggil, lokakarya sedang berlangsung di ruang yang nampak usang tepat di samping griya berkonsep joglo. Lengkap dengan bunga beragam warna di sekitarnya. Di dalam ruangan hadir pula seorang penyair, pendongeng sekaligus penggiat teater: Buyung Mentari; dan istrinya, Hepi HK yang sedang mengukir sebuah barang berbentuk kotak. Saya belum tahu itu apa. Sepertinya saya terlambat cukup lama, lalu seorang pria jangkung menyambut saya dengan hangat. Rambutnya gondrong seperti Seno Gumira, garis wajahnya terlihat bijak bak Yudistira, sepertinya seorang seniman. Yoga Priatama namanya. Akrabnya, Tomo.

Setelah saya merespon uluran tangannya untuk saling berjabat, sambil tersenyum ia berkata, “Selamat datang, masnya dari mana ini?”

Setelah basa-basi dirasa cukup, ia mengarahkan saya untuk menyimak lokakarya tersebut.

Sama seperti Hepi HK, nyaris seluruh orang dalam ruangan menggenggam materi yang sama. Membuat benak saya bertanya-tanya apakah benda kotak itu yang dimaksud polietilena. Tomo menjawab rasa penasaran saya, ia menerangkan polietilena adalah jenis plastik yang sering digunakan untuk bahan pembungkus makanan atau benda tertentu yang biasanya hanya sekali pakai. Namun kini bersama teman-teman TUK disulap menjadi lilin untuk dikaryakan.

Mayoritas dari mereka yang berpartisipasi di lokakarya polietilena adalah remaja Karang Taruna Desa Rowoboni, pun begitu ada juga beberapa mahasiswa yang ikut serta.

Seorang pria paruh baya melangkah wara-wiri di dalam ruangan, melihat proses peserta seraya memberi arahan. Saya tak asing dengan pria berkucir bercelana kusam penuh bercak cat itu. Setelah langkah kakinya membawanya ke cahaya yang lebih terang, raut wajahnya terlihat jelas. Ternyata dia Sentot Supriyanto, seorang seniman asal Salatiga.

Bagai Wisrawa yang tak rela mengabaikan Danareja belajar sendiri di sudut Lokapala dalam kisah Anak Bajang Mengiring Angin, Sentot Supriyanto mengedukasi peserta dengan sangat cakap dan bersahabat sembari membetulkan ukiran-ukiran yang kurang tepat. Ada peserta yang mengukir polietilena dengan bentuk daun semanggi, ada yang mengukir raut wajah seorang wanita seperti relief candi dan ada pula seorang wanita dengan tas rajut ala hippies sedang mengukir kata “Good Vibes” di atas permukaan polietilena berwarna biru muda.

“Teman-teman, 15 menit lagi kita pindah ke sebelah karena masih ada pembagian hadiah, dan setelah itu ada lokakarya sablon. Kalau ada yang belum selesai nanti bisa diteruskan lagi ya,” seru Tomo sambil melirik jam pada gawainya (gadget).

Setelah 15 menit berlalu, berjubelan peserta menuju pendopo sebelah untuk menerima pemberian hadiah sebelum lokakarya sablon dimulai. Seketika ruangan menjadi sepi, ukiran-ukiran polietilena tergeletak di lantai. Gerimis hujan terdengar lebih rintik dari sebelumnya. Sentot Supriyanto masih berkutat memilah dan memilih ukiran mana yang sekiranya belum rapi sambil membenakkan letak patung lilin dan pisau ukir yang berserak. Melihatnya tak sesibuk tadi, saya membuka buku kecil yang ada di saku jaket sebelah kiri. Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan, tentunya perihal polietilena.

Menyikapi Bumi
Sentot menggiring saya ke tempat yang lebih santai agar obrolan lekas dimulai. Setelah saling memberitahukan nama, saya pun bertanya dengan memusatkan tatapan ke arah matanya. Pertanyaan saya menyangkut alasan kenapa harus menggunakan lilin yang berbahan polietilena dijawab Sentot dengan logis. Ia menjelaskan jika sebenarnya bukan lilin yang ingin ditekankan, akan tetapi pengolahan daur ulang plastik polietilena.

Menurut Sentot, lilin hanya media supaya tidak terlalu keras karena yang dibuat oleh peserta adalah relief, jadi kalau murni plastik hasilnya akan terlalu keras untuk dipahat. Apalagi bagi para pemula. “Alternatifnya kita mengolah limbah plastik menjadi lilin terlebih dahulu supaya lebih mudah,” ucapnya lugas, mungkin supaya saya mengerti jelas.

Sambil kepala menggangguk pelan, pertanyaan berikutnya yang saya lontarkan adalah tujuan yang melandasi diadakannya lokakarya tersebut. Sentot menegaskan tujuannya adalah untuk mengurangi sampah plastik, ia merasa volume sampah plastik di Salatiga luar biasa banyaknya. Bersama TUK, ia mencari jalan lain untuk mendaur ulang sampah plastik yang hasilnya tidak hanya dipakai sekali atau dua kali supaya tidak menimbulkan sampah baru.

“Maka dengan media seperti ini harapanya bisa mempunyai nilai komersil sehingga jika orang-orang sudah tertarik ke sana, volume sampah plastik kita bisa berkurang cukup banyak,” ujarnya. Dengan wajah kalem Sentot menjawab santai pertanyaan saya, meski semangatnya yang berapi tidak bisa ia sembunyikan dari pelupuk matanya.

Sambil tangan kanannya menunjukkan hasil relief yang tadi dibuat oleh peserta, Sentot mulai bercerita tentang embrio lokakarya ini. Berawal dari perbincangannya dengan Tomo dan TUK perihal ide mengolah sampah, mereka akhirnya menemukan gagasan untuk mengolah sampah organik dan sampah non-organik.

Mentahan bahan cetak sablon.
Mentahan bahan cetak sablon.

Antusias masyarakat cukup tinggi karena acara semacam ini merupakan wawasan baru. Sebagian warga Rowoboni akhirnya lebih mengerti bagaimana memperlakukan sampah. “Semisal nantinya masyarakat bisa terus mengembangkan karya relief seperti ini, akan ada dua hal yang bisa kita selamatkan. Pertama budaya, karena Jawa memang sudah lama terkenal dengan karya reliefnya terutama Candi Borobudur dan saya yakin akarnya ada dalam masyarakat Jawa dengan kata lain masyarakat Jawa sudah sejak dahulu memiliki talenta murni dalam membuat sebuah karya relief. Yang kedua sudah pasti lingkungan akan terselamatkan,” tukas Sentot.

Ucapan Sentot membuat saya reflek tersenyum, sekaligus menyadari betapa pentingnya tanggung jawab manusia merawat budaya dan lingkungan.

Saya membalik halaman buku kecil yang berisi pertanyaan terakhir tentang harapan Sentot yang ia tanamkan kepada para peserta. Harapannya tak muluk, Sentot ingin mereka yang tinggal di Desa Rowoboni dapat menularkan apa yang mereka ketahui tentang cara menyikapi bumi. Sehingga masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.

Acara belum usai, karena akan segera dilanjut dengan lokakarya menyablon. Sentot mengimbau saya agar mengunjungi lokakarya di ruangan sebelah. Hujan yang kian berisik tak mampu memecah nuansa menjadi melankolia. Saya melihat Wahyu Yunianto dan Yanuar Rangga yang memasang wajah ceria sembari menyiapkan alat-alat sablon yang akan diperkenalkan kepada seluruh peserta. Keduanya merupakan pengampu lokakarya tersebut.

Mereka mengajarkan cara-cara dasar menyablon mulai dari memilih tinta, cutting, membuat screen hingga menjemur frame dengan atau tanpa sinar matahari. Mereka juga membuka sesi tanya-jawab, sebuah kesempatan yang ia berikan kepada peserta yang sekiranya belum paham. “Menyablon itu ada dua yang harus diutamakan, pertama kebersihan lalu ketelitian,” ujar Rangga di ujung acara, sebelum ia mengucapkan rasa terima kasihnya.

Karena kendala waktu lokakarya sablon memang berjalan singkat, tak berlangsung lama, hanya sekitar lima belas menit saja. Namun beberapa pasang bibir nampak melengkung di wajah para peserta, mereka terseyum puas mendapat ilmu gratis yang sebelumnya tak mereka dapatkan di bangku sekolahan yang mereka bayar, karena pertanyaan mereka seputar sablon terjawab lugas oleh Wahyu dan Rangga. Setelah berpamitan masing-masing membuka payung, berjalan pulang sedikit tergesa. Mungkin sudah tak sabar untuk lekas berbagi cerita di rumah sebelum senja segera berpisah.

Pandita Novella, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra. Wartawan Scientiarum. Ikuti kicauannya di @panditanovella.

Penyunting: Arya Adikristya

Selain akrab dengan Pink Floyd, telinganya juga ramah dengan Pearl Jam. Dulu memimpin redaksi di Scientiarum, sekarang mengelola panditanovella.co, mengerjakan beberapa proyek musik dan sastra.

3 Comments

  1. sangat kreatif & inovatif ! kenapa artikelnya tidak di masukan ke detik, liputan6, viva atau forum forum lainnya? agar semua dapat membaca artikel ini. Daur ulang plastik seperti ini saya yakin banyak yang akan tertarik dan akan menimbulkan kreatifitas kreatifitas baru. izin share

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas