Kriminalkah LGBT?

Browse By

Kehidupan ini penuh teka – teki dan kenyataan itu bersifat paradoks. Jika dicermati, sebagai sebuah negara, Indonesia digambarkan sebagai negara berbudaya timur, bangsa yang religius. Biasanya, dalam bangsa religius gerak masyarakatnya sulit dilepaskan dari isu moral. Padahal moral adalah sebuah paradoks, yang bermuatan kontekstual, tidak saja teks. Di dalam Lentera Salatiga Kota Merah, Machiavelli, pemikir politik di masa lampau, berujar bahwa: “Moral merupakan alat bagi kepentingan negara” (Agmassini, 37). Berpijak dari hal tersebut, pemikiran Machiavelli dapat dijadikan panduan yang kontekstual terhadap isu moral di dalam suatu kebijakan negara, yang terkadang digunakan sebagai alat pemukul untuk memasung kebebasan alamiah warga negara. Dan seperti yang dikatakan John Locke: “Kekuasaan negara harus ada batasnya dan tidak semua individu menyerahkan hak alamiahnya. Negara harus menghormatinya, karena hak alamiah itu datangnya dari Tuhan”.

Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jikalau banyak media massa dan kebijakan pemerintah di Indonesia dalam pemberitaannya ketika memberitakan soal seks, penggunaan alat kontrasepsi, sunat, kelamin dan minuman keras terkadang kurang mendapat porsi yang berimbang untuk dibicarakan. Sebagai contoh, jika ada seseorang ketahuan berjudi, melacur, menolak kebijakan penggusuran lokalisasi, atau memberikan dukungan terbuka terhadap komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT); maka orang tersebut sepertinya mendapat persepsi lebih buruk dibanding koruptor dan tokoh agama yang terlibat pelecehan seksual dengan anak didiknya. Di Indonesia, hukum cenderung dibicarakan hitam dan putih; padahal hukum bukan saja berbicara ketertiban sosial, tapi juga rasa keadilan dan kesetaraan.  Mengapa kondisi ini terjadi? Lantas, bagaimana cara memutusnya?

Melakukan uraian terhadap keberadaan LGBT tidaklah sulit di zaman ini, di mana dunia kedokteran didukung dengan nalar dan teknologi yang maju dalam rangka mengungkap mitos dan keganjilan kejiwaan di masa lampau. Namun, pro – kontra juga tidak bisa dinafikan begitu saja.

Untuk memahami apa itu LGBT, ada baiknya mengetahui tulisan Erich Fromm tentang manusia dan individu.  Dia seorang psikoanalis berkebangsaan Yahudi – Jerman, murid dari Sigmund Freud yang juga tertarik terhadap ide – ide Marxisme. Di dalam bukunya The Art of Loving, Fromm menguraikan dengan gamblang: “Cinta: Jawaban atas Masalah Eksistensi Manusia” (hal. 9).

Tulisnya, “Yang hakiki dalam eksistensi manusia adalah fakta bahwa ia berasal dari dunia binatang, dari adaptasi naluriah, bahwa ia telah melampaui alam; meskipun ia tidak pernah meninggalkannya; ia menjadi bagian darinya, namun setelah beranjak dari alam atau taman firdaus ia tidak dapat kembali padanya. Manusia hanya dapat melangkah maju dengan mengembangkan rasionya, dengan mengembangkan keselarasan baru, keselarasan manusiawi, bukan keselarasan purba yang telah punah. Ketika lahir sebagai manusia dan individu, manusia terlempar keluar dari situasi yang terbatas, sama terbatasnya dengan naluri, dan masuk ke dalam situasi yang tidak terbatas, tidak pasti dan terbuka. Yang pasti hanyalah masa lalu dan kepastian terjauh di masa depan adalah kematian. Manusia dianugerahi rasio; ia adalah makhluk yang sadar akan dirinya; ia mempunyai kesadaran akan sesama, masa lalu dan di masa yang akan datang. Namun, adalah fakta bahwa kesadaran manusia juga menciptakan kesendirian, keterpisahannya dan ketidakberdayaannya terhadap kekuatan alam dan masyarakat. Semua ini, membuat eksistensi dirinya yang terpisah dan terpecah menjadi penjara yang tak tertahankan. Ia akan mengalami gangguan kejiwaan jika tidak dapat membebaskan diri dari penjara itu dan keluar, menyatukan diri dalam bentuk apapun dengan manusia lain, dengan dunia luar”.

Seksualitas adalah dorongan kebutuhan, seperti pula makan dan minum. Jika hak – hak mendasar ini tidak terpenuhi maka akan terjadi ketidakseimbangan atau pelarian secara psikis, dan itu dilakukan secara terus menerus. Seksualitas pada awalnya tidak mengenal adanya laki – laki dan perempuan. Fromm menyebutnya dengan sebutan “kondisi orgiastik” (orgiastic states).

LGBT adalah masalah orientasi seksual belaka yang penjelasannya bisa dibedakan dari alkoholisme, pemakaian obat bius, pedofilia, dan gangguan kejiwaan lainya. Pengalaman keterpisahan manusia dari asalinya itu yang menimbulkan kegelisahan, itulah yang sesungguhnya menjadi sumber penjelasannya.

Pada sisi lain Fromm menuturkan bahwa selera, seks dan cinta di era kapitalisme sudah menjadi isu yang terasing dari dirinya sendiri (alienasi); atau dengan kata lain menjadi komoditas, dapat dipertukarkan, namun tidak dapat diklaim untuk dimiliki secara tunggal atau perorangan. Seseorang mencintai tidak lagi sebagai sebuah seni namun lebih mengharapkan imbalan untuk memperolehnya; sama seperti berjalannya hukum pasar, ada permintaan ada penawaran, dan interaksi kedua faktor tersebut menimbulkan harga. Bahasa sederhananya, LGBT adalah paket ekonomi pemasaran terhadap fesyen, gaya hidup, pergaulan, komunikasi, juga acara di televisi. Dan itu merupakan bagian dari keseharian di masyarakat kita. Kita ikut tertawa ketika LGBT menjadi komedian namun menolak keberadaannya ketika mereka muncul di publik, padahal secara keseharian mereka ada di sekitar kita.

LGBT bukanlah kriminal. Jika ada perselisihan yang berakhir dengan delik hukum, misal perselingkuhan, pelecehan seksual yang dilakukan oleh LGBT; rasanya selalu mengundang cibiran. Padahal kasus perselingkuhan, pembunuhan, pelecehan seksual bisa juga dilakukan oleh orang-orang non LGBT. Artinya, kondisi LGBT sakit di masyarakat itu diciptakan secara sosial melalui sudut pandang, kebijakan, dan produk hukum. Maka menjadi ganjil ketika Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) mengkritisi LGBT di kampus. Mengapa mereka selalu terkena diskriminasi hanya karena orientasi seksual semata?

Lebih jelasnya, I Nyoman Mangku Karmaya, seorang dosen pengajar dan doktor seksologi Universitas Udayana, dalam bukunya Seks Positif: Sikap Positif Terhadap Seksualitas dapat memberi sebuah pengantar berdasarkan penelitian.

Menurutnya, “Para ahli telah meneliti otak laki – laki dan perempuan normal dan menemukan adanya perbedaan struktur Bed Nucleus of Stria Terminals Central Division (BSTc), yaitu suatu bagian otak di hipotalamus yang mengendalikan perilaku seksual; laki – laki memiliki diameter yang lebih besar dibanding miliknya perempuan. Temuan yang didapatkan pada BSTc waria, ternyata sama dengan diameter milik perempuan. Studi terhadap indeks androgini, yaitu perbandingan antara lebar bahu dan lebar pinggul yang penulis lakukan tahun 2004, mendapatkan laki – laki dan perempuan berbeda makna; tetapi angka indeks androgini waria ternyata lebih menggeser ke arah perempuan dan berbeda dengan indeks androgini laki – laki secara signifikan (hal. 221-222).”

Akhir kata, lantas bagaimana cara memutus mata rantai kekerasan dan main hakim sendiri di masyarakat kepada mereka? Tidak mudah, memang. Namun dialog bersama mereka harus ditempuh. Sejatinya, “manusia adalah hewan yang berdialog dan berbudi”, ujar Salman Rushdie. Semoga.

Sunny Batubara, alumni Fakultas Ekonomi UKSW. Kini menetap di Denpasar.

Penyunting: Stephen Kevin Giovanni

3 thoughts on “Kriminalkah LGBT?”

  1. sunny says:

    Suwun

  2. Rifal says:

    Dari pemaparan penulis mengenai LGBT, saya tertarik mengenai penelitian yang dilakukan oleh, I Nyoman Mangku Karmaya, seorang dosen pengajar dan doktor seksologi Universitas Udayana, dalam bukunya Seks Positif:

  3. sunny says:

    Hallo Rifal, salam kenal ya I Made Mangku Karmaya bukan saja dokter tapi beliau juga pegiat sosial masalah seks remaja, pasutri dan waria dan teman2nya. Memang seks suatu yang rumit karena berhubungan dgn psikis, politik dan keagamaan. Tapi seks itu juga fesyen dan trend sosial. Coba cari bukunya di situ ada kontaknya. Ma kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *