Drama Aladdin, Seribu Satu Pujian

Browse By

19 Maret 2016, menjelang sore yang keemasan tak diguyur hujan, sepadan dengan orang-orang yang menggenggam karcis, saya berdiri mengantri di lahan parkir gereja Bethany Salatiga. Barangkali kalau bukan karena drama musikal Aladdin ada di sini, antrian tidak akan mengular seperti ini. Renovasi BU yang belum kunjung rampung, memungkinkan drama Fakultas Bahasa dan Sastra 2016 ini dihelat perdana di luar UKSW.

Setiap tahunnya, FBS menggelar drama dalam dua hari berturut-turut. Hari kedua ini, berjubelan penonton di luar mulai lengang seusai satu persatu bergantian memasuki gedung utama. Dari anak-anak, remaja, mahasiswa hingga warga asing turut tidak sabar merasakan seperti apa negri seribu satu malam, yang dirancang khusus dalam suatu ruangan. Untuk memanjakan penonton, panitia menyediakan stan foto. Beberapa di antara mereka berpose lalu mengabadikan foto dengan gawainya (gadget).

Saya mengambil kursi di belakang. Kondisi masih gelap karena pencahayaan sengaja dipadamkan. Meski dekorasi panggung belum jelas terlihat, suasana Agrabah sudah terasa lantaran penonton dapat suguhan instrumental seruling khas Timur Tengah.

Arloji menunjukkan pukul enam. Lampu menyoroti dua orang yang berdiri di atas panggung. Tepuk tangan penonton merebak. Mereka adalah Franky dan Victoria Evangelista, keduanya pelajar FBS yang bertanggungjawab mengemban acara. Basa-basi cukup lama, mereka bercengkrama dalam dwi bahasa (Inggris dan Indonesia). “Selama drama berlangsung, penonton tidak diperkenankan merekam seluruh pementasan drama dalam bentuk video,” wanti-wanti mereka kepada seluruh penonton, supaya tidak melakukan pembajakan visual.

Budayakan antri! | Dok.scientiarum.com/Fajar Ardiansah

Budayakan antri! | Dok.scientiarum.com/Fajar Ardiansah

Tirai masih tertutup. Setelah Frank dan Victoria selesai bicara, sambutan mengudara dari mulut Suzana Maria, wakil dekan FBS. Sedetik setelah Suzana selesai menyambut, antusias semakin kentara, terlihat dari cara mereka memberi keplokan. Detik berikutnya drama Aladdin dimulai dengan animo pemirsa yang nian menggelora, hingga perlahan tenang.

MemBroadwaykan Drama Aladdin

Di antara hingar bingar Agrabah dan tetek bengeknya, hiduplah seorang putri berrona wajah jelita bak kembang Rosalia tumbuh di Gurun Persia. Sinar matanya bagai bias seribu kunang-kunang di negri senja, berkaca-kaca layaknya oasis penyejuk dahaga. Tutur katanya lembut laksana desiran angin surga. Adalah Yasmin, namanya menggaung indah di tiap telinga pria-pria Agrabah. Kecantikannya tertulis secara puitis pada tiap sajak para pujangga. Keelokan Yasmin menandakan keagungan semesta.

Dan di lain belahan Agrabah, ada pasar yang menjadi tempat menyambung hidup rakyat menengah ke bawah. Dalam semrawutnya pasar itu, hiduplah Aladdin, pemuda rupawan yang melarat namun cukup cerdik bermuslihat.

Namun kerasnya kehidupan pasar membuat ketampanan tiada artinya, karena di tempat itu uang jadi tuhan. Terlahir dari keluarga miskin membuat Aladdin memiliki seribu cara untuk mengutil. Ia juga cakap dalam bicara, sehingga kelak celotehannya ampuh menghibur Yasmin yang jengah soal monotonnya hidup di istana. “You’ll see, Ma. Now comes the better part. Someone’s gonna make good. Cross his stupid heart. Make good and finally make you proud of your boy,” merupakan sepenggal syair dari lagu Proud of Your Boy (dinyanyikan oleh Aladdin pada saat awal dan pertengahan adegan), yang cukup mampu memapah imaji menjelajah jauh ke dalam hiruk pikuk Agrabah.

Drama dilanjut dengan kehidupan Yasmin berlatarbelakang istana. Nasib sebagai anak Sultan membuat Yasmin hidup ningrat. Artinya, tak perlu berkeringat untuk segala benda yang ingin ia dapat. Tetapi siapa sangka di tengah hidupnya yang serba berlimpah ruah, ia sama sekali tak memiliki kemewahan hakiki sebagai seorang manusia: kebebasan.

Melihat Yasmin yang terus tumbuh menjadi wanita dewasa, Sang Sultan yang kolot ingin gadis kirananya itu agar kunjung dipinang oleh seorang pangeran. Sementara itu, Jafar, penasehat istana sedang gencar memanfaatkan segala kelicikan yang ada di kepalanya, untuk mengkudeta. Memang, sebuah watak durjana dibutuhkan untuk memperkeruh cerita dan Portgas D. Bene sanggup akan hal itu. Bene menjiwai Jafar begitu dalam.

Lion King boleh berbangga dengan kemegahannya yang berbungkus cita rasa Indonesia, namun tak pantas membandingkan Aladdin dengan drama tahun kemarin. Bukankah tiap cerita punya keistimewaan tersendiri dan Aladdin punya banyak hal yang diinginkan oleh penonton? Satu hal yang paling patut dipuji adalah keberanian Raissa Junita, sang sutradara, untuk tidak menciderai dongeng yang amat kondang ini. Daripada mencoba membuat penonton terkagum perihal sesuatu yang baru, Raissa Junita menekankan keaslian cerita Aladdin dengan kemasan yang begitu sederhana. Tanpa sesuatu yang berlebihan, panggung Aladdin malam itu layak disebut sebagai Broadway-nya Indonesia.

Hidup di dalam istana bersama ayahnya justru membuat Yasmin terpenjara dan tak merdeka hatinya. Maka diam-diam ia menyelinap keluar dari istana dan menyamar menjadi warga biasa. Disentuhkanlah kakinya yang tak kudisan itu di tanah kumuh pasar Agrabah. Di pasar itulah kemudian ia bertemu dengan Aladdin, musuh bebuyutan para pedagang.

Berawal dari pertemuan yang mungkin sudah ditakdirkan, tumbuhlah benih-benih rasa yang tertanam di taman jiwa dua manusia yang berbeda kasta. Tapi sepiawainya tupai mencuri, ada lengahnya pasti. Penjaga istana meringkus Aladdin, bertepatan ketika bersenandung kasih dengan Yasmin di bawah temaram langit Agrabah, sesaat senja berpisah dari tatapan mata. Sebuah pentas seni alam yang megah. Sayang beribu sayang, selain ketahuan mengutil ia juga dituduh menculik seorang putri dari singgasananya.

Aladdin dijatuhi hukuman mati. Tetapi Jafar tahu, Aladdin-lah satu-satunya pria yang ditakdirkan mengambil lampu ajaib di dalam gua. Maka dibebaskanlah Aladdin, dengan dalih mengganti ganjaran untuk mengambil lampu dari dalam gua yang gelapnya menyanyat.

Di dalam kesunyian gua itulah yang menjadi cikal bakal Aladdin menjadi Pangeran Ali yang berkawan dengan jin lampu dan tikar ajaib. Perasaan takjub perlahan terpupuk sedikit demi sedikit. Mulanya tertarik, tersanjung, tertelan ke dalam kisah, terpukul saat masalah makin rumit, tetapi juga bisa tertawa lepas atau setidaknya melengkungkan bibir ke atas ketika sosok jin biru bernama Genie hadir dengan karakter yang kocak, meski ada beberapa lelucon terlihat dipaksakan. Dengan kawan-kawan barunya itu, Aladdin sanggup menggagalkan kebiadaban Jafar dan merenggut kembali hati Yasmin, sampai kepada suatu masa mereka hidup bersahaja.

Pesona memikat Laura Salvadora sebagai Yasmin dan memukaunya Fassio Theokharis ketika menjadi  Aladdin terasa begitu manis. Mereka mampu menciptakan kemistri dengan luwes tak ceroboh. Hasilnya, pesan yang sampai tak mandul. Kisahnya memang pasaran dan epilognya mungkin mudah ditebak, namun keraguan tersebut terbungkam oleh kematangan tiap pemain dalam menjiwai peran.

Drama ini bisa saja menjadi acuan untuk tahun depan, ketika hendak menyajikan sebuah dongeng ke dalam pertunjukan panggung. Melihat hasil jerih payah 120 mahasiswa yang mempersiapkan Aladdin selama delapan bulan, tidak ada ruginya. Berbalut epiknya broadway, mereka tidak hanya membawa kejujuran dalam cerita namun tetap mempertahankan penonton duduk terkesima hingga usai.

Bagian dari Promosi Fakultas

Sesampai acara tuntas hingga penonton beranjak pulang, setengah jam berikutnya saya menuju Erio Fanggidae, penyelia drama. Pengaruh Erio di balik kemegahan panggung Aladdin cukup besar.

“Disney lagi ya?” tanya saya dengan memegang buku catatan.

“Ya, kita memikirkan bahwa drama ini adalah bagian dari promosi FBS. Kami pikir akan sangat menarik mengangkat cerita populer Disney yang dekat dengan kehidupan anak-anak SMA. Temanya relevan, sebuah pencarian jati diri dan cinta,” tukas Erio kalem.

Erio menjelaskan bahwa drama tahun ini sangat spesial karena banyak penggawa baru dari angkatan 2015, yang mana minim pengalaman pementasan drama. Mengacu pada kesuksesan drama Lion King pada 2014, Erio ingin Aladdin mencapai tingkat yang sama. Ia berharap agar penonton tak hanya mendapatan pesan moral dan hiburan semata, tetapi dapat mengambil semangat dan kekompakan pengusung drama Aladdin.

“Pasti berandai-andai. Andaikata bisa tampil di Balairung UKSW jelas akan lebih ramai. Andaikata memiliki banyak waktu pasti akan lebih baik. Namun membicarakan kekurangan tidak akan pernah ada habisnya,” ujarnya santai, setelah saya bertanya kekurangan drama Aladdin.

Erio tak ambil pusing jika drama tahun ini memang tidak bisa digelar di BU. Ia merasa beruntung karena justru bisa menambah kesan toleran di Salatiga yang memang indah dengan budaya toleransinya. “Memorable!” sambungnya tegas dalam satu kata.

Saya berjalan menuruni anak tangga, menuju ruang rias untuk bertemu dengan Fassio Theokharis, akrabnya Theo. Selesai menghapus rias wajah yang sedari tadi siang melekat di wajahnya, Theo melangkah menuju pintu untuk menanggapi pertanyaan yang segera saya ajukan.

“Kenapa memilih peran sebagai Aladdin?” tanya saya singkat.

Mengawalinya dengan tertawa, Theo menjawab, “Banyak sifat Aladdin yang ada pada diri saya. Pokoknya sesuai. Terutama ditambah lagu Proud of Your Boy. Lagu yang paling saya suka”.

Awal latihan, Theo merasa kesulitan untuk mendalami karakter sebagai Aladdin yang liar, tengil dan lincah. Dia bercerita sempat mendapat banyak kritik karena kurang totalitas menguasai peran. Terutama dalam hal menciptakan sebuah kemistri ia sangat canggung. Theo merasa profesionalitasnya diuji karena status lawan mainnya, Laura, yang memang tidak lajang.

“Magical!” ucap Theo, menggambarkan kesan drama Aladdin.

Pandita Novella, mahasiswa program studi Sastra Inggris. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *