Farid Stevy: Salatiga Mestinya juga Bisa

Browse By

Sabtu (19/3), ada pagelaran ARTMOSPHERE di Kafe Godhong Pring,  Salatiga. Acara temu wicara (talkswhow) ini mengundang Farid Stevy, desainer dan vokalis grup musik FSTVLST. Selain temu wicara, Komunitas Miniatur Salatiga, B’Art dan Gendoel Art Trash juga menggelar pameran kerajinan. Beberapa grup musik lokal seperti Happy April dan Bandit On The Project, juga memeriahkan acara yang dengan hadirin sekitar 200 pengunjung.

Kurang lebih satu jam Farid stevy berada di atas panggung, berbagi pengalaman mengenai perjalanan karir sebagai desainer, serta vokalis di band FSTVLST. Menurutnya, tak masalah jika menghasilkan karya yang biasa-biasa saja, asal konsisten pada apa yg kalian sukai. “Berbahagialah orang-orang yang disepelekan, karena dia punya kesempatan untuk memberikan kejutan,” katanya.

Sebagai desainer, Farid telah mengukir beberapa prestasi, diantaranya meciptakan logo PT. Kereta Api Indonesia (KAI), keripik Maicih, serta sampul album kedelapan Sheila On 7 yang berjudul “Lapang Dada”.

Pria asal Gunungkidul ini mengaku kedatangannya ke Salatiga, sebagai panggilan ngancani (menemani) dan mendorong kawan-kawan yang berkarya di Salatiga. Mengingat di masa lalu, Farid harus berjuang sendiri, sampai mendapat dorongan dan motivasi dari rekan-rekannya. “Ini juga merupakan tanda terima kasih saya pada teman-teman, yang dulu mendukung saya secara fisik, konsep, atau apapun itu,” tukas Farid.

Ayah satu putri ini mengatakan, saat ini dia sedang memperjuangkan kesetaraan hak-hak hidup manusia. Salah satu caranya adalah lewat musik. Selain itu, Farid dkk juga menggunakan logo band FSTVLST berbentuk tanda sama dengan (=), sebagai simbol kesetaraan. Baginya, semua orang bisa mencapai suatu titik yang dia mimpikan. “Tidak ada cerita kowe sugih iso tekan kono, sing kere ora iso, kowe pinter iso tekan kono, sing goblok ora iso (kamu yang kaya bisa sampai suatu titik tertentu, yang miskin tidak bisa, kamu yang pintar bisa, yang bodoh tidak bisa),” tukasnya.

Jebolan DKV Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini mengaku, prihatin melihat kehidupan anak muda indonesia yang malu menjadi bangsa sendiri, serta selalu melihat budaya negara lain lebih bagus. Hal ini acap membuat anak muda Indonesia menjadi rendah diri.

Sebagai penutup, Farid berpesan agar menjadi diri sendiri dalam menghasilkan karya. “Ketika mereka bisa, kita juga bisa. Jika Jakarta, Jogja, dan Bandung saja bisa, opo maneh (apalagi) Salatiga sing hawane asik koyo ngene (suasananya asyik seperti ini),” tutupnya

Tedy Agusta, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Robertus Adi Nugroho

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *