Berpuisi, Selangkah Mengenal Diri

Browse By

Layaknya mengenakan kacamata kuda, acapkali kita terpaku pada sudut pandang terbatas. Buta dengan luasnya dunia kiri dan kanan. Pasrah menerima segala hal dan tak cukup bernyali untuk keluar dari rutinitas yang mengekang, hingga angan-angan kerap terkubur lalu binasa.

Asal manut bila dipecut. Problematika seperti itulah yang coba dituangkan Tom Schulman ke dalam filem Dead Poets Society dengan latar belakang kehidupan pelajar di Welton Academy pada akhir 1950-an. Welton Academy jadi sekolah asrama laki-laki favorit bagi orang tua murid, karena sistemnya yang terkenal konservatif. Ada jaminan bahwa sistem tersebut dapat memperlancar kegiatan akademik.

Hakekat seorang guru sesungguhnya tak melulu menjelaskan materi pelajaran, namun guru harusnya menjadi lentera untuk menerangi wawasan dan menjadi tungku api yang menggodok kepribadian hingga matang. Bukan justru membunuh kreativitas atau memenggal keberanian murid untuk mengungkapkan suatu gagasan. Dan saya melihat nilai-nilai baik itu ada pada Keating. Kehadiran Keating yang diperankan Robin Williams menjadi nyawa penting dalam filem ini. Sebagai guru Bahasa Inggris, ia memiliki segala hal yang didambakan seorang murid. Ia selalu mengajak muridnya untuk berpikir bebas dan menjadi seorang pribadi yang merdeka.

Dengan menggunakan medium puisi, Keating tak hanya mampu membebaskan jiwa-jiwa murid yang terbelenggu oleh ketatnya peraturan sekolah, namun wejangannya sanggup menghias isi kepala muridnya dengan ragam warna. Apa yang diajarkannya merupakan dorongan kuat bagi mereka agar lebih ekspresif dan berterus-terang terhadap diri sendiri. Todd Anderson (Ethan Hawke) yang sangat pendiam, akhirnya tak kuasa menolak untuk tak mengikuti kata hatinya.

Bagian yang paling menarik adalah ketika Keating ingin muridnya agar tak terkotak-kotak dengan aturan baku dalam bab “Understanding Poetry” tulisan J. Evans Pritchard, yang merupakan buku wajib dalam kurikulum. “Sekarang silahkan robek bagian tersebut!” teriak Keating agar lembar definitif itu segera lenyap.

Bagi Keating, puisi itu bentuk ekspresi diri yang bebas dan luas, tak seharusnya dibungkus secara formal, sistematis, definitif dan akhirnya memuakkan. Kelas pun berakhir dengan ‘pesta’ robek-merobek buku.

Gairah berpuisi para anak-anak muda yang dikisahkan dalam filem ini sangat membuat iri, karena saya nyaris tak menemukan gambaran remaja seperti itu semasa SMA sampai kuliah di progam studi sastra. Meskipun, sebenarnya saya yakin bahwa kenyataan dunia remaja saya pasti tak kalah indahnya jika didukung dengan keberanian bereksplorasi.

Dead Poets Society bukan sekedar hiburan visual dengan pesan moralnya yang gemilang, namun juga merupakan studi karakter dan sebuah cerminan otoriterisme orang tua terhadap anaknya. Ini merupakan permainan emosi yang menarik karena Dead Poets Society berjalan seakan-akan tanpa kompromi, namun penonton diberikan jalan cerita yang sangat terkendali, mengingat pergeseran masalah juga dikemas mumpuni.

Secara keseluruhan, Dead Poets Society sangat menginspirasi dan masih relevan dengan dunia pendidikan kini. Klimaksnya pun tak ubahnya sebuah perpisahan yang pedih antara Keating dan murid-murid penggemarnya. Namun ada juga sebuah keelokan Todd memimpin teman-teman kelasnya naik ke atas meja, sebagai tanda tak mau asal patuh, serta berbagai kebahagiaan sederhana yang saling campur aduk. Perlahan namun pasti membuat penonton terpikat masuk perangkap.

Pandita Novella, mahasiswa program studi Sastra Inggris. Wartawan Scientiarum. Ikuti Instagram-nya di @panditanovella.

Penyunting: Arya Adikristya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *