Tembang Kinanthi sebagai Sumber Budi

Browse By

Padha gulangen ing kalbu

Ing sasmita, amrih lantip

Aja pijer mangan nendra

Kaprawiran den kaesthi

Pesunen, sarira nira

Cegah hen, dhahar lan guling

Bait di atas merupakan salah satu bagian Tembang Macapat. Tembang Macapat merupakan sasmita atau simbol perjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati. Tembang macapat meringkas perjalanan kehidupan manusia menjadi 11 tembang.

Kinanthi – salah satu tembang macapat – merupakan urutan ketiga dalam tembang macapat. Berasal dari kata “kanthi” yang berarti menggandeng, menuntun atau dimaknai sebagai bimbingan atau dorongan. Kinanthi mengandung filosofi yang mengisahkan kehidupan seorang anak yang masih perlu bimbingan orang tua, agar makin cakap ke depannya.

Seorang pemateri dari Sasi Kirana, komunitas budaya Jawa di Salatiga, menembangkan bait di atas sebagai pengantar diskusi dan bedah Tembang Macapat Kinanthi, pada Jumat, 8 April 2016. Setelahnya, Ives Nandhita, moderator diskusi, mengajak para pesertanya agar lebih mencintai dan memelihara budaya Jawa. Nguripi lan nguri-uri kabudayan Jawi, demikian jargon mereka.

Di ruang Teater LTC UKSW, Teater Palma, teater anak SMA Negeri 1 Tengaran, menggambarkan bagaimana budaya asli Indonesia – ditunjukkan dengan wujud jamu dan Tari Gambyong – mulai terkikis oleh budaya asing. Selain itu, hasil alam yang seharusnya jadi nikmat rakyat justru dieksploitasi oleh pihak asing. Rakyat hanya dapat sisanya, digambarkan lewat ampas kopi.

Selesai dengan lunturnya budaya lokal dan kelemahan manajemen sumber daya alam – Sasi Kirana lewat Teater Palma – masuk ke ranah hubungan orang tua dan anak. Bermedium cerita, mereka mensinyalir ada kerenggangan hubungan antara orang tua dan anak, karena kemajuan teknologi berupa smartphone, tak diimbangi becik atau kebijaksanaan pengguna. Dampaknya, sasmita berupa jamu, kopi, Tari Gambyong, serta keakraban ibu dan anak sudah jarang ditemui.

Setelah mengantar dengan pertunjukan dan penembangan singkat, Sasi Kirana mengupas tembang Kinanthi melalui dua pematerinya: Fana Kirana Hidayat dan Dewi Mardiana. Contohnya, Padha gulangen ing kalbu // Ing sasmita, amrih lantip. “Tembang ini (Kinanthi –red) menyiratkan kesederhanaan dalam melihat sasmita. Namun, dari hari ke hari kita justru semakin lemah melihat itu,” kata Fana.

Fana ingin mengaitkan makna Tembang Kinanthi  dengan bergesernya budaya di masyarakat. Fana menuturkan, Tari Gambyong dan bahasa daerah merupakan sasmita yang seharusnya dapat kita tangkap maknanya dan lestarikan, namun nyatanya justru perlahan mulai menghilang. “Masyarakat saat ini justru mulai terpengaruh oleh budaya luar yang masuk ke Indonesia,” keluh Fana.

Masyarakat tidak boleh malas dan harus menumbuhkan jiwa keperwiraan, sehingga muncul sikap peduli dan waspada. Agar dapat menumbuhkan sikap itu, kita harus “mencuci jiwa” sehingga terwujud dalam tampilan tubuh dan perilaku yang bersih pula. Demikian kupasan dari Fana.

Dewi yang merupakan pembicara kedua dalam diskusi ini, menambahkan, nasihat dari Tembang Kinanthi lebih cocok bagi individu yang belum mampu mengambil keputusan sekaligus konsekuensinya, sehingga perlu pendampingan orang tua. Tapi, menurut Dewi, si anak tak selamanya didampingi orang tua. Si anak akan dilepas bila sudah cukup cakap untuk menjalani kehidupannya sendiri.

Dewi memaknai pada gulangen ing kalbu sebagai suatu ajakan untuk tidak memainkan kehidupan. “Gulangen” dapat diartikan sebagai proses belajar, mengingatkan pada generasi muda bahwa hidup bukan mainan. “Ayo, sing tenanan,” wanti-wantinya.

Lalu pada baris Ing sasmita, amrih lantip, memiliki arti: di balik belajar mengandung pesan untuk menjadi pintar. Inti dalam gatra tersebut adalah “lantip” yang berarti pintar.

Dewi mengungkapkan, ketika individu memiliki pola pikir yang pintar, maka ia akan mampu menjadi lebih bijaksana, dan berhati-hati. Dewi menekankan, faktor yang paling mempengaruhi perkembangan seseorang adalah pergaulan. Sehingga orang tua yang merupakan lingkungan awal bagi anak untuk belajar, harus mendasari mereka dengan nilai-nilai yang kuat, agar ketika anak mulai bersosialisasi dengan dunia luar, ia tidak akan mudah terpengaruh, menurut Dewi.

Pada akhir materinya, Dewi memberi makna bahwa pesunen sarira nira, menuntut individu untuk mendorong diri sendiri. Kinanthi kembali mengingatkan individu untuk tidak malas dalam mengembangkan diri. Gunanya untuk menangkap sasmita. “Kita bisa berkembang menjadi baik, harus ada dorongan, keinginan dari diri sendiri,” ujar Dewi.

Marta Juwita, mahasiswa Fakultas Psikologi. Staf Sekretariat LPM Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *