UKSW Belum Perlu Fakultas Kedokteran

Browse By

Akhir-akhir ini isu mengenai pembukaan Fakultas Kedokteran (FK) di UKSW kembali mengemuka. Terutama sejak adanya berita penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara UKSW dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) serta kerjasama antara Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UKSW dengan FK Unhas. Ada berbagai pendapat yang saya dengar, mulai dari mendukung sampai menolak.

Saya pribadi merasa pembentukan FK di UKSW perlu dipertimbangkan lagi.

Alasan pertama banyak universitas yang berencana atau bahkan sudah membuka FK, mendapat penolakan dari mahasiswanya serta izin dari dikti diperketat. Kedua, syarat-syarat pembentukan FK masih terasa sulit dipenuhi. Ketiga, FK memiliki stereotip sebagai program studi (prodi) yang mahal. Yang terakhir, saya melihat banyak prodi lain yang lebih cocok dibuka UKSW untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ada Penolakan dan Izin Diperketat

Pada 29 Maret 2016, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemeristek Dikti) meresmikan delapan prodi kedokteran alias FK baru. Kedelapan universitas yang mendapatkan izin itu adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Universitas Bosowa Makassar, Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, UIN Malang, Universitas Surabaya (Ubaya), Universitas Ciputra Surabaya (UC), Universitas Muhammadiyah Surabaya, dan Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) Semarang.

Dirjen Kelembagaan Iptek Dikti, Patdono Suwignjo menerangkan pada Okezone, alasan pemerintah masih membuka prodi kedokteran karena mengejar standar rasio satu dokter untuk seribu orang. Namun menanggapi kejenuhan akan prodi kedokteran dan lulusannya, mulai tahun ini Kemeristek Dikti sudah tidak menerima lagi usulan pembukaan prodi kedokteran. Bahkan izin yang diberikan kepada delapan kampus tersebut semuanya mengandung catatan.

Menteri Ristek Dikti Mohammad Nasir di Jawa Pos juga menyatakan, ada pembatasan jumlah mahasiswa FK yang harus dituruti oleh semua universitas yang mendapatkan izin,  latar belakang mahasiswanya haruslah dari jurusan IPA.

Pendantanganan MoUoleh Dekan FIK UKSW Ir. Ferry F. Karwur, M.Sc.,Ph.D dan Dekan Fakultas Kedokteran UNHAS Prof. Dr.dr. Andi Asadul Islam, SpBS.

Pendantanganan MoUoleh Dekan FIK UKSW Ir. Ferry F. Karwur, M.Sc.,Ph.D dan Dekan Fakultas Kedokteran UNHAS Prof. Dr.dr. Andi Asadul Islam, SpBS. |Dok. BPHL UKSW

Namun belum seminggu izin  diberikan, ada petisi penolakan yang dikeluarkan oleh Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia. Isinya mendesak Menteri Ristek Dikti untuk memberlakukan moratorium FK, mencabut izin pendirian 8 FK yang sudah diberikan bulan lalu dan serius mengelola serta membina FK yang ada saat ini.

Alasannya adalah dari 75 FK yang ada di seluruh Indonesia, hanya 17 FK yang terakreditasi A. Hasil kelulusan dalam Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) masih rendah. Muncul FK dengan mutu kurang baik karena seleksi tidak ketat serta peningkatan mutu yang kurang progresif karena kurangnya perhatian kementerian.

Sementara itu, dalam waktu dekat, masih ada dua universitas negeri dan swasta selain UKSW yang berniat membuka FK yaitu Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Bali dan Universitas Semarang (USM).

Pemenuhan Syarat yang Sulit

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran, ada dua pasal yang paling saya soroti yaitu pasal 6 ayat 3 dan 13 ayat 3. Pasal 6 ayat 3 berisi syarat dan ketentuan minimum pembentukan FK (juga Fakultas Kedokteran Gigi alias FKG) dan pasal 13 ayat 3 berisi persyaratan minimum Rumah Sakit Pendidikan.

Apa sajakah syarat-syarat pembentukan FK?

Menurut UU pasal 6 ayat 3, FK harus memiliki Dosen dan Tenaga Kependidikan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan; memiliki gedung untuk penyelenggaraan pendidikan; memiliki laboratorium biomedis, laboratorium kedokteran klinis, laboratorium bioetika atau humaniora kesehatan, serta laboratorium kedokteran komunitas dan kesehatan masyarakat; dan memiliki Rumah Sakit Pendidikan atau memiliki rumah sakit yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Pendidikan dan Wahana Pendidikan Kedokteran.

Untuk Urusan gedung, saya dengar UKSW akan memakai Blotongan sebagai tempat perkuliahan FK. Namun mengenai persyaratan yang lain, apakah UKSW sudah siap?

Ada kemungkinan laboratorium sedang dibangun di Blotongan. Namun baru sebatas dugaan saya berdasarkan isu di paragraf sebelumnya yang belum terverifikasi.

Lalu, apakah jumlah dosen UKSW yang berkuliah di bidang kedokteran sudah memadai? Apakah tenaga kependidikan yang berkuliah di bidang kedokteran sudah memadai juga?

Jika melihat USM, ketua yayasan yang menaunginya mengaku bahwa mereka telah merekrut 16 dokter spesialis dan 10 dokter umum dalam rangka menyiapkan FK. Ubaya yang membuka FK tahun ini menyatakan mereka sudah memiliki 22 dokter spesialis melebihi syarat pemerintah yakni 18 dokter. Jadi, bagaimana dengan UKSW?

Mengenai Rumah Sakit Pendidikan, kasusnya akan lebih kompleks. Saya melihat UKSW tak mungkin membangun Rumah Sakit Pendidikan sendiri, karena tidak ada lahan yang memadai lagi di Salatiga. Cara yang paling realistis dan logis adalah menjalin kerjasama dengan rumah sakit yang ada di Salatiga dan sekitarnya.

Menurut UU Nomor 20 Tahun 2013 pasal 13 ayat 3, ada empat syarat minimum untuk Rumah Sakit Pendidikan: mempunyai Dosen dengan kualifikasi Dokter dan/atau Dokter Gigi sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan; memiliki teknologi kedokteran dan/atau kedokteran gigi yang sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Kedokteran; mempunyai program penelitian secara rutin; dan persyaratan lain sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Jika melihat 8 universitas tadi, mereka memilih cara beragam untuk memenuhi aturan ini. UNWAHAS memilih RSUD Kota Semarang sebagai Rumah Sakit Pendidikan. Ubaya memilih bekerjasama dengan RSUD Prof Dr Sukandar, Kabupaten Mojokerto, namun juga akan membangun Rumah Sakit Pendidikan sendiri. Universitas Ciputra memiliki kerjasama dengan berbagai rumah sakit, ditambah FK Unair sejak akhir 2013. Universitas Muhammadiyah Surabaya menunjuk RSI Siti Khotijah, Kabupaten Sidoarjo, sebagai Rumah Sakit Pendidikan utama, ditambah kerjasama dengan jaringan 29 rumah sakit milik Muhammadiyah se-Jawa Timur. Sedangkan Unkhair menjalin koordinasi dengan FK Unhas, RSUD Ternate, RSUD Bacan, dan RSUD Tidore.

Jadi, rumah sakit mana yang bersedia diajak kerjasama oleh FK UKSW dan mampu memenuhi syarat minimum tersebut? Perlu penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

Dan saya juga masih penasaran, mengapa UKSW memilih FK Unhas sebagai mitra kerjasamanya? Saya rasa latar belakang mengenai kerjasama itu perlu diketahui publik. Secara geografis, ada dua FK berakreditasi A yang dekat dari UKSW, Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Jika ada tujuan strategis dalam mengajak Unhas, tujuan itu perlu dijelaskan ke publik.

Stereotip ‘Kedokteran itu Mahal’

Harus diakui, jurusan kedokteran masih menjadi salah satu primadona bagi sebagian murid SMA setelah mereka lulus, baik milik universitas negeri maupun swasta. Banyak murid SMA, terutama jurusan IPA, yang berlomba-lomba memperebutkan kursi di FK setiap universitas yang membukanya. Bahkan kasus suap untuk masuk FK juga sering terdengar.

Di sisi lain, ada stereotip bahwa kedokteran itu prodi mahal. Untuk membuktikannya, kita bisa mencari tahu biaya uang gedung FK dari situs masing-masing universitas, baik negeri maupun swasta.

Jika ingin masuk FK di universitas negeri dengan harga murah, maka harus dapat Uang Kuliah Tunggal (UKT) golongan 0 (Bidikmisi yang digratiskan), 1 (Rp 500 ribu per semester), atau 2 (Rp 1 juta per semester). Jika tidak mencapai golongangan tersebut, namun ikut jalur mandiri, siap-siap kocek orang tua membengkak.

Sementara itu, biaya kuliah FK di universitas swasta juga mahal. Jarang sekali universitas swasta yang mematok uang gedung alias uang masuk Rp 100 juta ke bawah untuk masuk FK. Coba kita lihat Universitas Kristen Maranatha (UKM), Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), dan Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).

UKM dan UPH sudah memiliki FK cukup lama, sedangkan UKDW dan UKWMS umur FK-nya di bawah 10 tahun. UKM mematok uang gedung Rp 185 juta bagi mahasiswa yang ingin masuk FK, sedangkan UPH mematok Rp 120 juta.

Tapi ini hanya uang gedung. Belum termasuk biaya lain-lain seperti jas almamater, iuran kesehatan, biaya orientasi mahasiswa, dan sebagainya; ditambah biaya rutin semester dan SKS (atau blok) semester pertama. Jika seluruh biaya ditotal, biaya semester pertama berkisar Rp 220 juta. Belum termasuk biaya di semester selanjutnya.

UKDW, yang membuka FK sejak 2009, mematok uang gedung Rp 150 juta bagi mahasiswa baru angkatan 2016, belum termasuk biaya lain-lain, biaya rutin semester, dan biaya SKS semester pertama. Sedangkan UKWMS, yang umur FK-nya lebih muda, malah memasang harga Rp 300 juta untuk gelombang I dan Rp 350 juta untuk gelombang II di tahun ini. UKWMS terkesan sudah memasukkan seluruh perhitungan biaya kecuali uang kuliah per semester dalam uang gedungnya.

Pengalaman saya ketika SMA, saat banyak universitas berpromosi, UKSW memiliki citra sebagai universitas dengan pilihan jurusan beragam dan uang gedung yang lebih murah dibanding universitas lain. Jadi harapan saya jika rencana ini direalisasikan, UKSW dapat membuka FK yang murah tapi berkualitas, agar citra sebagai universitas berbiaya murah tidak hilang di mata calon mahasiswa baru.

Ada Prodi-Prodi Lain yang Lebih Cocok Dibuka UKSW

Saya selalu berharap UKSW membuka prodi-prodi yang memenuhi kebutuhan masyarakat. Bahkan ketika awal saya berkuliah, saya sempat membuat opini tentang usulan sepuluh prodi baru di UKSW. Lebih mulia lagi, jika UKSW mencari murid-murid dari daerah terpencil, terdepan atau terluar, tertinggal, perbatasan, atau kepulauan; sesuai amanat pemerintah. (Baca juga: Usulan 10 Program Studi Baru untuk UKSW)

FK memang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi dokter memerlukan masa studi yang lama. Menurut saya, lebih baik pemerintah memikirkan bagaimana caranya supaya lulusan FK yang sudah ada dan nanti dapat diserap sebanyak-banyaknya oleh daerah-daerah terpencil, terdepan atau terluar, tertinggal, perbatasan, dan kepulauan.

Kembali ke usulan saya terdahulu. Di antara sepuluh prodi yang pernah saya usulkan, ada tiga prodi yang jumlah tenaga pengajarnya dirasa sudah memenuhi syarat atau tak lama lagi memenuhi syarat. Prodi tersebut ialah pendidikan kimia, pendidikan IPA, dan pendidikan IPS. Juga ada dua prodi yang sepertinya hanya perlu mencari dosen berlatar belakang pendidikan untuk memenuhi syarat, karena sudah memiliki dosen yang bagus di prodi murninya: pendidikan sosiologi dan antropologi (prodi murni: sosiologi) serta pendidikan agama Kristen (prodi murni: teologi).

Sampai saat ini, setahu saya sudah ada dua dosen kimia yang berlatar belakang pendidikan. Hal itu adalah modal bagus untuk membuka prodi pendidikan kimia ataupun pendidikan IPA. Dosen pendidikan IPA bisa diambil dari dosen pendidikan fisika dan pendidikan biologi, atau dapat merekrut alumni kita sendiri yang mau melanjutkan kuliah S2 di bidang yang linier. Pendidikan IPS bahkan sudah menjadi salah satu konsentrasi di S1 pendidikan ekonomi, mengapa tidak dijadikan satu prodi baru saja?

Penutup

UKSW merupakan universitas yang besar dan memiliki pilihan prodi yang banyak. Bisa mengurus dan mempertahankan banyak prodi adalah hal yang luar biasa. Walaupun begitu, UKSW masih ingin menambah prodi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Usaha-usaha tersebut sangat baik, hanya saya berharap UKSW bersikap bijak dalam membuka prodi baru. Jangan sampai FK  dibuka karena gengsi dan prestise semata.

Stephen Kevin Giovanni, mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika. Angkatan 2014.

 

8 thoughts on “UKSW Belum Perlu Fakultas Kedokteran”

  1. Eman Manoe says:

    Sedikit menjanggal yah, seolah pertimbangannya mengerucut pada biaya yang dibutuhkan. Apakah ketika seorang akan mengambil salah satu fakultas yang terbilang mahal (mis: Kedokteran) ia tidak memperhitungkan dan menyiapkan dana yang akan ia butuhkan?
    Dalam kajiannya penulis menyajikan berbagai kerja sama yang dilakukan oleh kampus2 baru dalam kerja samanya. pertanyaannya, mengapa kerja sama UKSW tidak di lampirkan? Protes untuk tidak diperhitungkan, tapi kerja samanya tidak dilampirkan…
    Apakah penulis sudah mendapatkan informasi dosen-dosen yang akan mengajar di FK Kedokteran?
    Apakah KFC, Pizza Hut yang ada di Salatiga pernah sepi pelanggan? saya rasa tidak, kenapa banyak pelanggan padahal harga mereka mahal untuk kelas mahasiswa?

  2. Stephen Kevin Giovanni says:

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan anda yang tengah terlebih dahulu.

    Mengenai kerjasama UKSW dengan Unhas, saya sudah melampirkannya di paragraf pertama, ada tautan berita kampus.
    Sedangkan mengenai informasi dosen-dosen yang akan mengajar di FK, saya masih dalam posisi bertanya. Karena saya belum mendapatkan datanya. Bisa dibaca di “Pemenuhan syarat yang sulit”.

  3. Manasye Indra Kusuma says:

    UKSW belum perlu membuka FK? Apa UKSW ini membuka fakultas baru dengan dasar pertimbangan kebutuhan kampus (akan mahasiswa/akan uang atau yang lain?), atau perlu tidaknya kampus membuaka FK ini didasarkan atas keprihatinan yang lain?
    Mungkin perlu digali lagi alasan dari pihak kampus untuk membuka FK ini, jika memang benar demikian. Sehingga,pembaca (termasuk penulis) dapat mengetahui lebih alasan kenapa kampus kok sepertinya tertarik membuka fakultas baru ini, sebelum mengambil keputusan untuk mengatakan “UKSW tidak perlu buka Fakultas Kedokteran”. Selain itu, rasa penasaran penulis tentang kerjasama dengan Unhas juga bisa terjawab.
    Saya rasa wacana pembukaan Fakultas Kedokteran di UKSW merupakan hal yg perlu diapresiasi bahkan didukung. Apalagi jika biaya studi kedokteran di UKSW nanti bisa lebih murah dibanding yang lain. Semakin banyak dokter, semakin baik. Tentu masalah kualitas pendidikan dan lulusannya menjadi hal yang utama untuk diperhatikan. Jadi makin banyak dokter hebat yang mau melayani, makin baik lah..
    Jangan2 univ2 yg menolak pendirian FK baru itu sebenarnya merasa takut nantinya bakal tersaingi.. wkwkwkwk

  4. Stephen Kevin Giovanni says:

    Koreksi atas komentar Manasye Indra Kusuma:

    Bukan universitas yang menolak pendirian FK baru. Namun kelompok mahasiswa yang bernama Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia. Silakan baca petisi yang mereka buat terlebih dahulu, tautannya sudah ada.

  5. Evan says:

    Mahasiswa jaman sekarang, sukanya ceplas-ceplos tanpa data yang memadai. Semua-semua pakai perasaan bukan pikiran (bisa dicari sendiri bahwa di tulisan ini tidak ada kata “pikir”, yang ada cuma “saya rasa”, “saya merasa”, “dirasa” dan “terasa”). Bagiku, ini tulisan manja karena penulisnya malas cari data primer. Maaf terlalu jujur.

  6. Angga Willem says:

    Sebagai alumni FIK-UKSW, saya menyayangkan jika perhatian kampus terpusat pada pendirian FK. Bagaimana dengan akreditasi Prodi Ilmu Keperawatan yang hingga saat ini masih C. Janji janji yang sering diumbar tentang re-akreditasi prodi tampaknya masih blur ya. Berharap selesaikan tuntaskan dulu akreditasi tiap prodi di FIK baru kuatkan fondasi untuk bangun FK. Saya tidak anti FK-UKSW saya hanya ingin PSIK FIK UKSW dibangun dengan lebih kokoh. VIVA FIK UKSW!

  7. nonaim says:

    Paling jadi penghibur 10 tahunn ke depan. cuma turut “meramaikan” kampus.

    Zaman UKSW dimana sekarang kuantitas bukan kualitas.

    buat Angga Wilem, Dekanmu aja Insinyur.

  8. budi rahmanto says:

    program FK di munculkan sejak tahu 1987 saat kakak saya masuk UKSW dan saya angkata 1991 , jadi saya mendukung program ini, Ini Fakultas sudah di siapak sejak jaman 1980 an, FIVA UKSW

Tinggalkan Balasan ke Angga Willem Batalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *