Wacana Kritis-Prinsipil Mahasiswa UKSW & Salatiga

Sisir Tanah, Bersabda Tentang Bumi

Rubrik Salatiga oleh

Selepas senja menuju sandikala, nuansa Taman Kota Bendosari Salatiga menjadi begitu sendu dan nelangsa namun puitis dan reflektif. Adalah Sisir Tanah biangnya, sebuah grup musik akustik bercorak folk yang diawaki oleh Bagus Dwi Danto dan Pandu Hidayat. Selain menulis lirik, Danto pun sebagai pemantik gitar dan penembang kidung-kidung Sisir Tanah yang selalu terdengar subtil dan Pandu sebagai peracik instrumen eksperimental.

Petang itu, di hari kedua acara yang dihelat oleh Aksi Seni Untuk (ASU) Lingkungan sepanjang 23-24 April 2016, dalam memperingati hari Bumi, Sisir Tanah menyampaikan pesan dan semangat baiknya yang diejawantahkan melalui musik. Danto mengenakan kaos bertulis “Jogja Ora Didol” sebagai bentuk aksi perlawanan terhadap investor hotel di Yogyakarta.

“Lagu ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang telah memilih jalan hidupnya sebagai alat kontrol sosial, medium penyadaran publik, membawa perubahan sosial supaya orang-orang di sekitarnya dapat melihat dengan mata yang jernih,” ucap Danto. Suara berat itu menggema di atas redup remang panggung, memicu penonton diam mematung. Sesaat itu sunyi terkendali, lalu Danto bersenandung.

“Sedihmu adalah sedihku juga, Sakitmu sakitku sakit kita manusia, Bahagiaku takkan lengkap tanpa bahagiamu, Bahagiakanlah kehidupan.”

Demikian dendang Danto saat tembang Lagu Hidup. Lagu ini erat dengan petik merdu gitar yang pelan kian merambat. Menghadirkan sebuah melankolia tentang kehidupan yang sarat ketergantungan terhadap alam. Ini kesederhanaan musik yang memikat, kumandang gitar malas namun menyayat dan nyanyian lirih yang bertindih pedih.

“Jika bumi adalah ibu, kita manusia memperkosa ibunya setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, ada tak ada manusia, mestinya pohon-pohon itu tetap tumbuh. Ada tak ada manusia, mestinya terumbu karang itu tetap utuh.”

Penonton serentak mendayu-dayu, rendah membeo Danto bernyayi ketika ode Bebal dilantunkan. Sesekali mereka termenung, seolah hanyut oleh dalamnya kata yang murung.

Tak melulu syair yang menyerupai sumpah serapah seperti di lagu Pidato Retak, Danto juga menjejali karyanya dengan larik-larik puitis di tembang Lagu Baik.

“Seumpama suka kau ambilah jantungku saja, di situ ada kepastian meski degupnya tergesa, tapi bukan untuk bercumbu.”

Namun, di ujung Lagu Baik ia tetap menuliskan syair-syair tajam semacam: “Panjang umur keberanian, mati kau kecemasan dan ketakutan”, “mati kau ketidakadilan dan penindasan”, “mati kau kebenaran yang dipaksakan”.

Sisir Tanah usai setelah melantunkan beberapa lagu, di antaranya Bebal, Lagu Hidup, Lagu Wajib, Kita Mungkin, Pidato Retak, Konservasi Konflik, Perahu Kertas dan Lagu Lelah. Suasana berubah meriah saat orkes Dendang Kampungan menyuarakan harapan kaum marjinal dan petani Rembang, yang membutuhkan dukungan di tengah intervensi kapitalis. (Baca juga: Geliat Generasi Hijau)

Bertani Tanpa Intervensi

Melihat Danto yang sedang tak sibuk, saya menggiringnya ke tempat yang sedikit jauh dari panggung yang riuh. Kemudian saya bertanya tentang alasan kuat Sisir Tanah menggunakan isu lingkungan sebagai materi karya. “Saya pikir, sebagai seniman saya harus bisa menempatkan diri sebagaimananya manusia sehingga dapat melihat ini sebagai persoalan kemanusiaan. Saya hanya ingin berkontribusi, tentunya tetap dengan saling bergandengan untuk melawan,” tutur Danto dengan intonasi kalem.

Danto juga beranggapan bahwa pemerintah belum sesuai harapan yang kita mau, mereka hanya berjanji dan tidak punya niat untuk menyelesaikan masalah sosial-lingkungan dengan serius. Buktinya, Danto melihat penderitaan rakyat dan kerusakan lingkungan akibat korporasi besar.

Maka, Sisir Tanah pun menolak keras bermain di acara yang disponsori oleh industri-industri yang tidak ramah lingkungan, karena itu sama saja mengamini perbuatan mereka. Bagi Danto, korporasi adalah musuh nomor satu yang haru dilawan, berikutnya, baru diselaraskan dengan masyarakat dan alam.

Kemudian saya bertanya bagaimana pendapatnya soal nasib masyarakat terutama petani yang terancam terpuruk dengan kehadiran industri yang merusak alam. Sejenak Danto terdiam, berpikir sebentar lalu berujar. “Tentu sangat sedih dan kecewa terhadap apa yang terjadi dengan nasib petani kita. Saya pikir petani seharusnya dihormati sehormat-hormatnya karena mereka adalah tulang punggung kehidupan masyarakat agraris, merekalah pahlawan pangan, tanpa mereka tidak ada hidangan di meja makan.”

Lantas kalau tanah petani diintervensi, mau makan apa kita hari ini?

Pandita Novella, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya

Selain akrab dengan Pink Floyd, telinganya juga ramah dengan Pearl Jam. Dulu memimpin redaksi di Scientiarum, sekarang mengelola panditanovella.co, mengerjakan beberapa proyek musik dan sastra.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Geser ke Atas