Mengulas Sistem Evaluasi Dosen

Browse By

Spanduk berisi informasi mengenai evaluasi dosen di Gedung E UKSW. | Foto oleh: Pranazabdian Waskito

Spanduk berisi informasi mengenai evaluasi dosen di Gedung E UKSW. | Foto oleh: Pranazabdian Waskito

Awal semester perkuliahan, nampaknya menjadi kehebohan tersendiri bagi mahasiswa. Seperti yang telah dituliskan atau dibahas sebelum-sebelumnya, terjadi yang namanya “Kepanikan Siasat” Kepanikan ini menjadi kendala karena sulitnya akses untuk melakukan proses registrasi ulang mata kuliah di tiap-tiap fakultas, yang memiliki keunikannya sendiri dalam proses Siasat ini. Kecemasan dan ketakutan dialami mahasiswa UKSW saat melaukan Siasat, karena jaringan yang lambat, bisa saja mata kuliah yang telah dipilih gagal diambil. (Baca Juga: Balada Pengguna Joki SIasat)

Demikian pula, kehebohan juga terjadi ketika mahasiswa memasuki akhir semester saat Tes Akhir Semester (TAS) menyerang, dan saat-saat panas dingin menunggu hasil nilai yang muncul di sistem Siasat. Mendapatkan nilai yang sesuai dengan ekspektasi dan tidak berharap akan adanya nilai ditunda (DT), adalah tujuannya. Namun, akhir-akhir ini mahasiswa juga dikagetkan dengan adanya terobosan sistem baru dalam sistem Siasat kampus ini, yaitu evaluasi dosen yang berlaku sejak semester genap tahun ajaran 2015-2016.

Evaluasi dosen, suatu sistem terbaru dalam akademik mahasiswa yang berguna untuk memberikan penilaian kepada dosen yang telah diambilnya selama satu semester. Tentunya perlu mendapatkan apresiasi bila kampus menerapkan sistem ini. Adanya masukan lewat evaluasi dari mahasiswa, menjadikan evaluasi diri kepada setiap dosen yang bersangkutan.

Jika ini terjadi dalam tingakatan universitas, tentunya sangat berharap para pimpinan dapat melihat hasil evaluasi dosen ini untuk peningkatn mutu  dosen. Tentunya, peran mahasiswa sangat besar dalam hal ini. Apalagi, sistem Siasat mewajibkan mahasiswa untuk mengisi kolom evaluasi terlebih dahulu agar dapat melihat nilai-nilai dari mata kuliah yang di ambil.

Saat di penghujung semester, penulis telah beberapa kali mengevaluasi dosen. Mulai dari evaluasi tingkat program studi (dengan cara manual mengisi angket), evaluasi aras fakultas (mengisi di situs fakultas), serta yang baru-baru ini di aras universitas (mengisi melalui sistem Siasat). Dalam tulisan ini, penulis akan membahas sistem evaluasi dosen dalam  ruang lingkup yang lebih kecil, yaitu pada aras fakultas. Memang, sampai saat ini penulis belum mengetahui apakah ada sistem evaluasi tersendiri di masing-masing fakultas. Tulisan ini akan membahas sistem evaluasi dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), yang telah memiliki sistem evaluasi tersendiri.

Sistem evaluasi dosen di situs FKIP pada semester-semester lalu dapat dipertanyakan proses alurnya. Ini karena adanya peraturan tertulis, apabila mahasiswa wajib mengevaluasi dosen lewat situs fkip.uksw.edu, untuk dapat Siasat. Pertanyaannya adalah, dalam mengevaluasi dosen tersebut, tidak ada perintah untuk memasukkan identitas mahasiswa, yang pada nantinya akan terkoneksi dengan sistem Siasat. Jadi, dapat dikatakan mahasiswa yang mengevaluasi atau yang tidak mengevaluasi masih saja sama-sama bisa melakukan regristasi mata kuliah dalam Siasat.

Maka dari itu, mulai semester genap tahun ajaran 2015/2016, telah ada perubahan sistem alur pada proses evaluasi dosen di FKIP. Dalam kolom evaluasi, jika dahulu mahasiswa diminta untuk menuliskan program studi, nama dosen, dan tahun ajaran harus menulis secara manual, sekarang telah tersedia tinggal memilih saja. Mahasiswa tinggal menuliskan mata kuliah yang diambil, lalu mengisi skala peniiaian evaluasi dosen pada kolom yang tersedia.

Perlu diketahui, bahwa mata kuliah diampu oleh dosen tetap dan tidak tetap. Saat penulis mencari dosen tidak tetap dalam mata kuliah yang telah diambil ternyata tidak tersedia nama itu pada daftar dosen. Padahal, saat evaluasi ada perintah “mahasiswa wajib mengisikan semua mata kuliah yang diambil”.

Hal unik lainnya adalah mahasiswa diminta untuk mengisikan surat elektronik mahasiswa yang bersangkutan. Pengisian ini bertujuan agar mahasiswa mendapatkan kiriman dalam surat elektroniknya, yang berupa validasi apabila mahasiswa telah melakukan evaluasi. Sehingga, muncul syarat bahwa bukti validasi tersebut dicetak dan digunakan sebagai persyaratan untuk dapat mengikuti perwalian bersama wali studi.

Evaluasi yang baik adalah ketika mahasiswa telah melihat nilai-nilai yang muncul dalam Siasat, atau dapat dikatakan setelah urusan administrasi akhir semeseter benar-benar selesai. Ini karena dalam  kolom evaluasi, terdapat pernyataan “ketepatan waktu dalam memberikan nilai” dan “penilaian sesuai dengan kemampuan atau kompetisi mahasiswa”.

Tentunya, dua pernyataan tersebut dapat dievaluasi jika nilai mata kuliah yang bersangkutan telah keluar. Evaluasi setelah nilai keluar akan lebih baik daripada evaluasi sebelum nilai keluar (bahkan dijadikan syarat untuk melihat nilai) seperti yang terjadi dalam evaluasi dosen tingkat universitas.

Selama jangka waktu hingga perwalian diadakan (28/4), ada mahasiswa yang telah mendapatkan validasi beberapa mata kuliah yang diambil, ada yang hanya satu mata kuliah dan ada yan tidak mendapat sama sekali. Kembali sistem ini dipertanyakan lagi. Setelah ditelusuri ke pengelola sistem ini ke Yanuaradi Budi Artanto, staff laboran FKIP (bertempat di laboratorium microteaching gedung E), ternyata sistemnya lamban dalam mengatasi banyakan masukan mahasiswa yang mengirim ini.

Kepanikan dan kebingungan biasanya akan melanda mahasiswa dan ini berdampak pada kondisi psikologis mereka. Terpaksa, mahasiswa perlu mencari informasi ke Yanuaradi untuk mengecek apakah telah evaluasi atau belum. Lalu, bukti validasi sementara dengan mem-foto data yang tertampil di komputer pihak yang mengurus evaluasi ini.

Sistem evaluasi dosen di tiap-tiap unit ini perlu dipertanyakan keefisienan dan keefektifannya. Ditinjau dari sudut pandang efisiensi, sangat disayangkan apabila terjadi evaluasi dosen yang harus dilakukan disetiap unit mahasiswa. Mereka akan malas karena dituntut untuk melakukan beberapa evaluasi dosen dan mata kuliah yang sama. Dari sini akan terjadi efek bias pada hasil evaluasi. Belum tentu mahasiswa mengisi kolom dengan penilaian yang sama di setiap evaluasi yang berbeda unitnya. Selain itu, hal ini hanya akan membuang waktu saja.

Untuk membuat proses evaluasi lebih efisien, baik program studi maupun fakultas harus merumuskan ulang agar tidak melakukan evaluasi berulang-ulang. Toh, untuk membuktikan mahasiswa telah evaluasi atau belum, dalam perwalian biasanya ada syarat untuk membawa Kartu Hasil Studi dan Trsanskip Nilai. Artinya, jika nilai telah muncul, mahasiswa telah melakukan e­valuasi.

Seberapa efektifkah evaluasi ini untuk  meningkatkan profesionalisme dosen di dalam proses perkuliahan? Inilah yang perlu ditekankan kepada mahasiswa untuk mengevaluasi dosen secara objektif. Miris rasanya, jika melihat mahasiswa mengisi evaluasi secara tidak objektif. Ini justru akan membuat tidak adanya hasil yang maksimal.

Contohnya, dosen yang berkualitas di dalam proses perkuliahan namun disebut “dosen killer” karena pelit nilai mendapatkan evaluasi yang buruk. Sedangkan dosen yang tak berkualitas dan ‘obral nilai’ justru mendapatkan penilaian baik. Tak bisa dipungkiri memang, mahasiswa sekarang lebih banyak berlomba-lomba mencari nilai agar cepat lulus. Jika demikian, sebuah proses akan menjadi sia-sia. Lalu, terdengarlah ungkapan saat ini yang menyebutkan bahwa Perguruan Tinggi hanya mesin pencetak sarjana.

Pertanyaan, “setelah evaluasi mau apa?” Inilah yang mestinya terbesit di golongan akademisi kampus. Jangan sampai evaluasi hanya dijadikan gelaran rutinitas prasyarat setiap akhir semester dan tidak ada proses tindak lanjutnya. Ini akan seperti proses menjaring angin-sia-sia saja.

Para dosen yang mendapatkan nilai baik, tentunya akan diberikan tantangan untuk meningkatkan profesionaitasnya lagi. Sedangkan, dosen yang mendapatkan nilai buruk dapat diberikan pembinaan dan kesempatan untuk memperbaiki mutu dirinya dengan pengawasan rutin yang dilakukan oleh pimpinan.

Kerjasama antara mahasiswa dan dosen sangat diperlukan dalam peningkatan mutu ini, salah satunya dengan evaluasi dosen. Harapannya, akan terjadi peningkatan juga dalam aras program studi, fakultas dan universitas, yang akhirnya mengarah kepada Magistorum et Scholarium.

Pranazabdian Waskito, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, angkatan 2014.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *