Identitas dan Kenikmatan

Browse By

Ariel Heryanto dalam buku Identitas dan Kenikmatan menawarkan pertanyaan-pertanyaan akan sebuah kebebasan dan kecemasan yang menggambarkan bagaimana filem, anak muda, agama (khususnya Islam) berkelindan dalam ketakwaan dan isu konsumerisme pada layar politik di kalangan perkotaan. Serta yang tidak kalah gandrung adalah bagaimana budaya Cina dan dimensinya tergambar setelah mengalami masa represif dan berdinamika pasca runtuhnya politik sentralistis Orde Baru di Indonesia.

identitas dan kenikmatan-ariel heryanto

Ariel Heryanto, penulis buku ini, adalah juga alumni UKSW. Selengkapnya tentang Ariel, bisa klik: himpunariel.wordpress.com

Tema sentralnya tetap galak pada dua poin, yaitu kejahatan negara dan simbiosis kapitalisme lanjut dalam sistem demokrasi di negara-negara dunia ketiga, dan maju pada abad dua puluh satu ini. Terutama dalam swastanisasi kepemilikan media yang sudah tak lagi dimonopoli oleh pemerintah seperti Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada era 80an, namun sudah dipegang hak siarnya oleh pengusaha-pengusaha swasta. Fatalnya, sistem oligarki dari pengusaha-pengusaha swasta ini juga mempunyai pengaruh kepada penggiringan opini politik di masyarakat yang selalu menawarkan rayuan, ilusi dan humor dalam merangkul kelas menengah perkotaan yang terdidik, atau dalam bahasa marketing Hermawan Kartajaya, para pengusaha tersebut merangkul anak-anak labil dengan segala atributnya untuk dijadikan sekutu atau bibit musuh dalam memperkuat warisan politik kolonial hegemonik yang di arahkan untuk menguasai pikiran massa, akses ekonomi dan tentu saja kekuasaan untuk patuh.

Namun segala sesuatu yang ada di layar televisi di Indonesia saat ini, bukan secara tiba-tiba turun dari langit terkait ada aspek kesejarahan yang melingkupinya. Titik nolnya dimulai dari era Orde Baru. Menjamurnya fesyen pakaian muslimah, filem dan acara dakwah di televisi dibandingkan secara jeli dan mendalam dengan negeri Iran yang secara mayoritas keagamaan dan garis politiknya mempunyai kemiripan dengan Indonesia setelah Musim Semi Arab melalui kacamata ilmuwan sekaliber Asef Bayat.

Isu-isu hegemonik dari kekuasaan negara lainya yang tidak ikut ketinggalan dibahas untuk dianalisis dengan lintas literatur (bukan untuk kepentingan propaganda) adalah reproduksi tabunya diskusi dengan tema komunisme, kurang emosionalnya figur-figur politik tertentu yang tiba-tiba datang guna memberikan kesan emosional terhadap pemutaran filem perdana bertema netral dibanding filem-filem keagamaan, semisal AADC #2, “sepi-sepi saja komentar pejabat publik untuk filem sejenis ini”. Bagaimana sekilas bias narasi tentang perjuangan sipil bersenjata negara Timor Leste dulu untuk lepas dari Indonesia dan bercerita kegundahan biasnya dari sekumpulan manusia hiper-nasionalisme yang mudah tersulut emosinya dalam melihat cairnya suatu konsep kebudayaan, seperti pengibaran bendera berlambang bintang kejora di Papua, padahal gerakan tersebut adalah gerakan kultural dan dialog.

Kritik dan saran untuk buku ini adalah, semoga kedepannya dapat diteliti kembali terkait peran kaum Indo Eropa non Cina dan India dalam filem serta kehidupan sosial khususnya di Asia Tenggara pada awal kemerdekaan, revolusi politik dan reformasi yang kurang terlihat dalam Minoritas Etnis yang dihapus pada Bab 6 dalam buku ini. Keberadaan mereka juga dapat menjadi oase segar di tengah gurun.

Abad dua puluh satu adalah zaman di mana teknologi digital informasi terlihat buas dan semakin personal, sia-sialah untuk membedungnya. Namun, apapun itu, saya setuju terhadap tawaran dari buku ini, yaitu berpeganglah pada aspek historis dalam melihat dinamika sosial yang ada. Terima kasih juga dihaturkan pada Eric Sasono yang sudah menerjemahkanya menjadi tulisan yang popular.

Selamat Membaca!

Sunny Batubara, alumni Fakultas Ekonomi UKSW. Kini menetap di Denpasar, Bali. Staf Jangkang Riset Institute.

Penyunting: Pandita Novella

One thought on “Identitas dan Kenikmatan”

  1. sunny says:

    Semoga pak Ariel masih nulis satu buku lagi dan sehat selalu untuk beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *