Salatiga Kota Industri?

Browse By

Pembangunan PT. Selalu Cinta Indonesia (SCI) di Salatiga merupakan investasi asing yang bergerak di bidang industri sepatu, kini proses pembangunan tersebut sudah mencapai 30%. Pabrik yang berlokasi di dusun Tetep, Kel. Randuacir itu nantinya akan memproduksi merek sepatu sekaliber Converse, dengan pangsa pasar di Jepang dan negara Asia lainnya.

SCI merupakan anak perusahan dari PT. Karet Murni Kencana (KMK) yang dipimpin oleh CK Song, seorang pengusaha asal Korea Selatan yang kerap dijuluki “Jokowi”-nya Korsel. Dengan nilai investasi sebesar Rp 740 milyar, pabrik ini digadang-gadang akan menyerap puluhan ribu tenaga kerja di Salatiga dan sekitarnya.

Adi Darmawan, pengurus Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia di PT. SCI, menjelaskan tiga alasan yang membuat CK Song memilih Kota Salatiga. Pertama, karena ada UKSW yang diharapkan menjadi sumber tenaga kerja mumpuni. Mengingat, pertengahan Mei 2016, SCI merekrut 20 orang melalui seminar di FEB UKSW. 20 orang terpilih itu akan diberangkatkan ke Tangerang untuk mengikuti pelatihan manajemen. Alasan kedua, karena Salatiga “ramah” investor, dan faktor cuaca yang mendukung lingkup pekerjaan.

Tampak rangka bangunan dari bahu jalan JLS. | Dok.scientiarum.com/Daniel Chrisna Kusuma

Tampak rangka bangunan dari bahu jalan JLS. | Dok.scientiarum.com/Daniel Chrisna Kusuma

Pembangunan pabrik yang, menurut Adi, disambut baik oleh walikota itu akan selesai pada Oktober 2016. “Kami ini industri produk kelas dunia yang peduli dengan lingkungan sekitar dan karyawan karena kami menggunakan strategi Human Touch Management. Dari 27,8 hektar lahan yang kami bebaskan, 9 hektar untuk pembangunan pabrik,” ujar Adi, pada Kamis, 2 Juni 2016, di Kantor SCI, Argomulyo.

Sisa lahan 18 hektar itu, menurut Adi akan dibuat menjadi ruang terbuka hijau. Di samping itu, Adi mengaku, selama ini proses pembangunan lancar-lancar saja. Justru banyak aspirasi dari masyarakat agar PT. SCI ikut mendukung dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan warga sekitar, seperti bersih desa sampai perawatan sendang yang selama ini sangat dihormati oleh warga dusun Tetep.

Tak Ingin Salatiga Jadi Kota Industri

Ayok Sindhu Prasastyo, warga dusun Tetep sekaligus pengrajin daur ulang dari Sapu Environmental Art, mengungkapkan kekhawatiran akan penurunan debit air jika pabrik didirikan. Ia mengaku bahwa setiap musim kemarau, utamanya selama tiga tahun terakhir, dusun Tetep kerap mengalami krisis air. Imbasnya, sulit mendapatkan air sesuai kebutuhan. “Kalau pabrik itu sudah beroperasi, bisa saja akan memperburuk suplai air di dusun Tetep, belum lagi dampak pembuangan limbahnya,” terang Ayok, Kamis, 9 Juni 2016.

Selain sisi lingkungan, Ayok beranggapan kalau rendahnya UMR di Salatiga membuat investor mengalihkan produksinya ke Salatiga. Apalagi, sudah sejak awal 2010, Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPPTPN) kota Salatiga membuka pintu lebar bagi investor. “Saya tidak setuju jika kelak Salatiga menjadi kawasan industri. Lebih baik membuat kota pendidikan daripada kota industri, kita bisa lihat sendiri kota-kota industri kini menjadi super panas dan banyak polusi,” wanti-wanti Ayok.

Selain itu, Erik Darmawan, pegiat seni dan lingkungan dari Akar Rumput Salatiga, mengutarakan harapannya agar Amdal dari PT. SCI tidak abal-abal. Selain itu, Erik pun menyayangkan tiadanya diskusi publik yang melibatkan tokoh masyarakat, pegiat lingkungan dan pemerhati tata kota, yang lebih condong memikirkan kepentingan publik sembari mengakomodir pemodal. “Masyarakat harus tahu rencana pembangunan proyek beserta analisis dampak lingkungan yang bukan abal-abal,” ungkap Erik saat dihubungi melalui pesan seluler.

Pandita Novella, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra. Wartawan Scientiarum. Kunjungi situsnya di panditanovella.com.

Penyunting: Arya Adikristya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *