Nirmana

Browse By

“Adakah dunia setelah kematian?” batinku separuh melamun. Hari-hari semakin larut saja dan pikiranku semakin berantakan. Belum lagi suara rengekan bayi yang tak henti-hentinya mengusik tidurku di dalam bus. Ibu si bayi pun kewalahan meyusuinya. Lagi, kondisi jalan yang berlubang-lubang semakin memperparah lengkingan tangis makhluk tak berdaya itu.

Bus tujuan Jatiwangi yang kutumpangi ini terus melaju gesit, menyerocos gumpalan kabut yang kian tebal menghalangi jarak pandang. Meski tak ber-AC, udara dingin yang dibawa turun lereng Merapi sanggup membuatku menggigil. Aku menarik selimut dan memeluk diriku, erat-erat. Berharap cemas sambil menanti terminal pemberhentian berikutnya.

Sudah hampir empat jam aku terkungkung lemas disini. Berkali-kali terperanjat dari tidur karena lubang-lubang jalan yang terus beradu kasar dengan ban bus yang kekurangan angin. Syukur-syukur, aku punya elastisitas kandung kemih yang luar biasa. Kalau tidak, bisa saja aku dihujat habis-habisan karena bau pesing yang tidak diharapkan.

Aku mengurut dadaku sambil meratapi pemandangan yang hilir-mudik di sisi luar jendela. Mataku benar-benar lelah. Suntuk. Tetapi sialnya, tetap terjaga.
Di persimpangan jalan, bus berhenti sejenak karena lampu merah. Para pengamen dan penjual jajanan pinggir jalan mulai naik dan menjajah seisi lorong bus. Seolah merekalah premannya. Tapi aku tetap tak peduli. Biarlah mereka meraup rezekinya masing-masing.

Satu-persatu, mereka menjajakan tembang suara emas, sate telur puyuh, sate kerang, prekedel jagung, telur asin rebus, dan lain-lain. Menu pasaran yang layaknya dibutuhkan penumpang bus yang sedang diserang rasa suntuk dan lapar.

Aku merasa sedikit geli ketika seorang waria cantik yang juga merupakan seorang biduanita itu mengerling genit padaku. Dikiranya, aku sedang ingin bercinta.
“Maaf, mungkin anda salah orang?” Lalu kupalingkan segera wajahku ke jendela.
Menjelang lampu kuning, rombongan tadi pun turun. Bus kembali henyak seperti sediakala. Aku pun kembali memejamkan mata untuk ke sekian kalinya.
“Resti. Oh Resti. Kapan lagi aku bisa bertemu denganmu?”
Bodoh. Resti kan sudah meninggal. Baru saja tadi pagi aku menabur kembang tujuh warna di atas pusaranya.

Oh. Resti, kenapa rasanya baru semalam kau mengenakan cincin tunangan itu? Padahal bulan ini, aku baru saja menggenapi uang tabunganku untuk membeli kebaya putih yang serasi untukmu. Kau ingat? Besok kita akan menikah. Besok? Iya, besok.

***

Kamu percaya mas Arya? kalau orang yang kamu cintai tidak akan benar-benar mati. Mereka akan senantiasa mengamatimu dari atas langit. Seperti kepercayaan suku Indian terhadap arwah pendahulu mereka yang telah pergi dan menjelma menjadi cahaya aurora di langit Kutub Utara. Aku disini juga turut melebur bersama bintang-bintang dan ikut menerangi jalanmu.

Resti yang mas kenal selama ini tidak akan mungkin meninggalkan mas begitu saja. Terlebih, sejak prosesi pemakaman yang berlangsung begitu cepat kemarin. Aku disini, masih mendoakan masa depan mas dengan wanita yang lain. Calon ibu yang bakal menimang anak-anak dari benihmu.
Percayalah.

***

Bus kelas ekonomi ini semakin melesat jauh dalam kegelapan malam. Lampu-lampu jalan terakhir baru saja meninggalkan bus ini, jauh di belakang sana. Yang artinya, supir bus harus bekerja lebih ekstra hati-hati dalam menakar keselamatan penumpang.

Klakson-klakson semakin sering dibunyikan mengingat cahaya lampu depan bus saja tidak cukup menghindarkan penumpang dari bahaya kecelakaan lalu lintas. Mungkin juga, sebagai tanda permisi bagi makhluk-makhluk mistis yang sengaja berpatroli di tengah jalan.

Bapak paruh baya yang berseragam PNS di sampingku jatuh terlelap dengan sangat rapi di bahuku sambil mendengkur keras-keras. Dari situ, aku bisa mencium pekatnya harum rokok dan kopi yang menguar dari balik mulutnya. Tanpa mengurangi rasa hormat dari bapak itu, aku membetulkan sedikit posisi kepalanya ke bantalan kursi.

Aku melirik sebentar jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Ah. Ternyata Jatiwangi masih sangat jauh. Jauh dari pelupuk mata.
Teringatnya, aku akan memboyongmu kesana, lusa.
Kau ingat Resti, rumah kecil di kaki bukit itu? Kita akan menghabiskan hari tua di sana. Bersama dengan secangkir kopi dan langit senjakala.
Berdua. Hanya kamu dan aku.

Dan kamu, dengan girangnya, akan mengulang kembali kisah-kisah perjuangan cinta kita yang lebih hebat dari roman Shakespear. Romeo and Juliet bahkan Macbeth juga tidak bakal ada tandingannya. Arman, milyuner ibu kota yang sombong itu juga bakal gigit jari karena gagal mempersunting bunga desa secantik dirimu.

Kamu tahu, pada akhirnya hubungan kita direstui. Setelah bertahun-tahun, diriku ditentang, dipandang hina oleh orangtuamu. Tapi tahukah engkau, Resti? Kepergianmu yang begitu tiba-tiba meruntuhkan tiang kehidupanku.

Bersama dengan seisi penghuni rumah di Kampung Mekarsari, dirimu hangus terbakar bersama agni. Hangus, hingga aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mencoba menguburkan abu jasadmu dengan layak.
Bahkan di telapak tanganku, masih tercium harum bunga seruni segar dari abu jasadmu. Oh, Resti, sedalam itukah cintamu pada bunga seruni?

Tiba-tiba, bus yang kutumpangi mendadak bergejolak. Para penumpang panik tak karuan. Bersama mereka, diriku teraduk-aduk hebat. Sekarang bus ini lebih mirip dengan kapal pecah.

Sesaat sebelum kejadian, terdengar suara ban pecah di belakang bus. Lalu, kami semua terguling ke bawah jurang dan jatuh terhempas menabrak tebing. Semenjak itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.

“Ah, hidup ini begitu fana. Benar kan Resti?” Resti menggenggam tanganku sambil tersenyum lirih. Ia tampak begitu anggun dengan kebaya putih yang dikenakannya.

Grace Kolin, jurnalis di Lembaga Pers Mahasiswa Pijar, Universitas Sumatra Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *