Salatiga Kurang Ruang Terbuka Hijau

Browse By

Jumat (3/6), Endah Riwayatiningsih, seorang warga Salatiga mengeluhkan kurangnya ruang terbuka hijau (RTH) bagi publik. Baginya, RTH bukan singkatan dari Ruang Terbuka Hijau tetapi Ruko Terbuka Hijau. Ruang Terbuka Hijau dirasa lebih sedikit dibandingkan dengan ruko-ruko yang berdiri di Salatiga.

RTH yang sudah ada pun menurutnya kurang baik. “Saya kalau mau ke sana (Taman Tingkir –red) agak ragu, suasananya kurang nyaman.” Selain kenyamanan, Endah juga meragukan sistem keamanan, dia bercerita kerap ada jambret dan anak-anak yang minum miras oplosan.

Menurut UU No 26 tahun 2007 pasal 17, idealnya setiap kota harus memiliki 30 persen dari luas daerah aliran sungai. Untuk mengklarifikasi hal tersebut, kami menuju kantor dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Cipkataru). Riawan Widiatmoko, Kepala Seksi Pertamanan Bidang Tata Kota Cipkataru, mengaku RTH kota Salatiga belum memenuhi standar karena masih kurang dari 20 persen.

Riawan menjelaskan bahwa terdapat beberapa sebab yang membuat Salatiga sulit memenuhi standar ideal ketersediaan RTH. Pertama, kurangnya lahan yang dapat dijadikan RTH, lalu sulitnya lahan kosong untuk dijadikan RTH. Hal ini karena banyak lahan kosong yang sudah lebih dulu dipesan untuk dijadikan program lain, contohnya untuk tempat usaha,” jelasnya.

Ilustrasi gambar oleh: Yulius Herwindito

Ilustrasi gambar oleh: Yulius Herwindito

Penolakan dari masyarakat juga menghambat pembangunan RTH, mereka beranggapan jika kelak pohon tumbuh besar akan menghalangi pelanggan. Bahkan ada penganut kejawen dan feng shui yang percaya bahwa tumbuhnya pohon di depan atau sekitar tempat usahanya akan menghalangi rezeki.

Pujiyono, Seksi Pertamanan, menjelaskan bahwa dinas Cipkataru telah mengerahkan beberapa petugas untuk merawat dan menjaga RTH selama 24 jam. Namun hal tersebut tidak maksimal mengingat kesadaran dari warga sendiri masih kurang, semisal coret-coret tembok dan mencuri pot tanaman.

Cipkataru juga menghimbau seluruh warga Salatiga agar sadar lingkungan sehingga menjaga kebersihan, keamanan dan kenyamanan RTH. “Tindakannya mudah, jangan buang sampah sembarangan, jangan corat-coret sembarangan, atau jangan pipis sembarangan,” imbuh Pujiyono.

Rismawati, Kepala Seksi Sumber Daya Alam dan Konservasi Hutan mengaku jika kurangnya RTH di Salatiga adalah dampak proyek pembangunan perumahan yang jor-joran namun kebanyakan tak menaati aturan. Menurut Rismawati, proyek-proyek tersebut seharusnya sesuai prosedur Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) yang mewajibkan adanya RTH. “Perbandingannya 40 persen banding 60 persen dari luas rumah, semisal luas tanahnya 100 meter, harus ada 40 persen ruang terbuka hijau di tanah tersebut, sisanya boleh untuk bangunan,” imbuhnya.

Terkait keragaman hayati, Risma menganggap kelengkapan flora terbilang baik karena KLH sudah melakukan upaya-upaya seperti pengadaan bibit yang akan dibagikan kepada masyarakat di Salatiga. Selain itu KLH juga meminta Tanggung jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) dari beberapa perusahaan dan industri besar. Namun keanekaragaman fauna di Salatiga memang masih belum optimal karena hutan kota yang semakin berkurang.

Axel Priya Mahardika, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2014.

Penyunting: Pandita Novella

One thought on “Salatiga Kurang Ruang Terbuka Hijau”

  1. Arya Adikristya says:

    Padahal pipis dan corat-coret sembarangan itu nikmat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *