Bingkai Perempuan dalam Jurnalentera

Browse By

Sore itu, Selasa (4/10), pukul 15.00 bertempat di Joglo Blondo Celong Nanggulan, Lembaga Pers Mahasiswa Lentera meluncurkan jurnal perdana berjudul Perempuan, Kuasa Modal, dan Politik Lingkungan. Dalam peluncuran itu, hadir beberapa penulis dalam jurnal, aktivis lingkungan di Salatiga, hingga Gunretno dari sedulur sikep dan Sukinah, petani perempuan dari Pegunungan Kendeng.

Mula-mula, Bima Satria Putra, moderator acara, menjelaskan tujuan pembuatan jurnal lalu dilanjutkan pemaparan materi oleh penulis yang terlibat. “Lentera berupaya mengeksplorasi bagaimana dampak krisis ekologi terhadap perempuan dan upaya aktif perempuan dalam mengatasinya,” ujarnya.

Penelitian pertama datang dari pengurangan debit air di Senjoyo, sebelah timur kota Salatiga. Arista Ayu Nanda, salah satu peneliti, menjelaskan bahwa dalam 10 tahun terakhir, debit air di Senjoyo menurun sekitar 500 liter/detik. Arista merujuk hasil penelitian Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) tahun 2015. Debit air senjoyo yang semula 1.300 liter/detik, per 2014 hanya tersisa 800 liter/detik. Arista juga mengungkapkan bahwa Senjoyo berbeda dengan zaman dia saat masih kecil. “Airnya itu dulu sampai meluap-luap ke jalanan,” kenang mahasiswa program studi Sosiologi.

Petani-Perempuan

Ilustrasi oleh Yulius Herwindito.

Arista mengungkapkan bahwa air adalah kebutuhan dasar tiap manusia. Tetapi menurutnya, ada spesialisasi gender dalam pemakaian air. Dengan kata lain, perempuan butuh air lebih banyak ketimbang laki-laki. Dalam budaya patriarki, perempuan lebih banyak dilibatkan pada urusan domestik (mencuci, memasak, mengurus anak). Selain itu, perempuan masih harus mengurus siklus menstruasi yang notabene butuh air lebih banyak. “Sehingga saat debit air menurun, perempuanlah yang paling dirugikan,” tulisnya.

Meilana Amrih Lestari dan Bima Satria Putra, tim peneliti kedua, memaparkan tulisan berjudul Eceng Gondok, Tetap Ada dan Berlipat Ganda : Pergulatan Perempuan Rowoboni Menghadapi Permasalahan Ekonomi-Ekologi Rawa Pening. Penelitian ini membahas tentang meledaknya populasi eceng gondok (Eichornia crassipes), sedimentasi Rawa Pening, dan keterlibatan perempuan Rowoboni.

Pada beberapa dekade terakhir ini warga sekitar Rawa Pening dihadapkan masalah terkait pendangkalan danau dan penurunan kualitas air, karena perluasan lahan pertanian dan limbah. Akibat biologisnya, populasi eceng gondok meledak.

Galih Agus Saputra (kiri), Pemimpin Umum LPM Lentera, menyerahkan Jurnalentera #1 kepada Sukinah (kanan). | Dok.scientiarum.com/David Adhyaprawira

Galih Agus Saputra (kiri), Pemimpin Umum LPM Lentera, menyerahkan Jurnalentera #1 kepada Sukinah (kanan). | Dok.scientiarum.com/David Adhyaprawira

Berdasarkan hasil temuan Meilana, perluasan lahan sawah yang semakin menjorok ke tengah dan merubah wajah danau menjadi sempit serta dangkal. Ditambah lagi limbah dari pakan ternak dan pertanian warga sekitar rawa yang menghasilkan 20.000 kg nitrogen/hari, yang menyebabkan suburnya pertumbuhan eceng gondok. Tidak hanya itu, menurut Meilana, pendangkalan juga terjadi akibat penumpukan bahan organik dan gundulnya gunung-gunung sekitarnya seperti Ungaran, Merbabu, dan Telomoyo yang kerap erosi dan berdampak pendangkalan Rawa Pening.

Merujuk pada penelitian Tri Retnaningsih Soeprobowati dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Undip Semarang, Meilana mengatakan bahwa Rawa Pening terancam akan jadi daratan pada 2021.

Untuk menanggulangi pendangkalan Rawa Pening, Kelompok Wanita Tani (KWT) Sekar Melati di desa Rowoboni berinisiatif memanen eceng gondok dan meneruskannya ke pengrajin. Menurut tim peneliti, KWT Sekar Melati sudah berkontribusi dalam penyelesaian dua masaslah sekaligus: taraf ekonomi masyarakat yang rendah dan ledakan populasi eceng gondok. “Upaya mereka sebenarnya bisa menyelesaikan masalah ekonomi-ekologi sekaligus,” ungkap Bima.

Namun pengendalian populasi eceng gondok oleh KWT juga kurang signifikan, karena pertumbuhannya di Rawa Pening terus meningkat hingga 7,1 persen per tahun. Dalam hasil penelitian itu, Meilana dan Bima menuliskan bahwa sekitar 20 anggota KWT yang sering dibantu oleh suaminya, mereka hanya mampu memanen 1 kwuintal eceng gondok basah. Bila dikeringkan, berat eceng gondok itu akan menyusut hingga sekitar 8 kilogram per hari. Pada musim hujan para pencari eceng gondok menghentikan aktifitasnya, karena terkendala masalah pengeringan eceng gondok.

Sebenarnya, pemerintah daerah sudah pernah memberi bantuan berupa alat pengering. Tapi karena daya listrik yang terlalu besar, kemudian dihentikan. “Dalam segi pemasaran, kerajinan eceng gondok KWT juga terbilang rendah akibat dari keterbatasan modal dan rendahnya keahlian para anggotanya,” tulis tim peneliti.

Lukisan wajah Gunretno di samping kanan adalah karya Dewi Candraningrum, Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan. | Dok.scientiarum.com/David Adhyaprawira

Lukisan wajah Gunretno di samping kanan adalah karya Dewi Candraningrum, Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan. | Dok.scientiarum.com/David Adhyaprawira

Pesan dari Kendeng

Sukinah pernah disebut-sebut sebagai salah satu dari sembilan Kartini Kendeng. Akhir Juni 2016, sembilan Kartini Kendeng itu menggelar aksi semen kaki, sebagai bentuk protes kepada presiden Jokowi. “Tapi saya bukan Kartini,” wanti-wantinya.

Petani perempuan dari Kendeng ini, sore itu, angkat suara mengenai aksinya bersama-sama ibu-ibu di Rembang pada 2014. Mereka memblokir jalan masuk kendaraan proyek pabrik semen.

Dia menjelaskan aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes ibu-ibu petani karena potensi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pembangunan pabrik semen itu. “Tapi semangat ibu-ibu iku mboten mentas, amergi lingkungan meniko saget rusak,” katanya menjelaskan semangat petani saat memblokir jalan.

Di akhir acara, Gunretno mengingatkan bahwa peran advokasi jangan hanya berkutat pada tulisan atau wacana saja. Dia menghimbau agar siapa saja yang hendak membantu perjuangan masyarakat pegunungan Kendeng, bisa bergerak juga di bidangnya masing-masing. “Sing ahli hukum yo ngewangi segi hukum, sing ahli lingkungan yo ngewangi segi lingkungan,” ajaknya.

Tatag Maulana, mahasiswa Fakultas Psikologi. Wartawan Scientiarum. Ikuti Instagramnya di @pipis__

Penyunting: Arya Adikristya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *