Membebaskan Tahanan Politik dengan Surat

Browse By

Sabtu (10/12), pukul 13.00, Lembaga Pers Mahasiswa Lentera mengadakan diskusi publik berjudul “Seorang Guru Yang Disiksa dan Dipenjara Karena Mengibarkan Bendera” di Joglo Blondo Celong, Salatiga. Diskusi ini dihadiri juga oleh LPM Ascarya dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), dan LPM Dinamika IAIN Salatiga.

Beberapa mahasiswa terlihat sedang diskusi soal Johan Teterissa. | Dok.scientiarum.com/Fariza Aulia Asrandena

Beberapa mahasiswa terlihat sedang diskusi soal Johan Teterissa. | Dok.scientiarum.com/Fariza Aulia Asrandena

Diskusi ini diadakan LPM Lentera yang bekerja sama dengan Amnesty International dan Pamflet. Amnesty International sendiri merupakan organisasi non-pemerintah internasional dengan tujuan menyuarakan isu HAM yang berlandaskan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948.

Diskusi sore itu membahas perihal tahanan politik, Johan Teterissa, dan mendesak pemerintah Indonesia untuk membebaskannya. Johan sendiri merupakan salah seorang guru, ia kerap memperjuangkan hak asasi manusia di Maluku Selatan. Kini ia mendekam sebagai tahanan di Nusa Kambangan, karena mengibarkan bendera Republik Maluku Selatan (RMS) yang dilarang oleh pemerintah.

Detilnya, Juni 2007, Johan Teterissa dengan kelompoknya yang mayoritas beranggotakan guru dan petani melakukan protes damai di depan SBY, Presiden Indonesia waktu itu. Atas tindakan tersebut, Johan dan kelompoknya dipindahkan oleh Polisi.

Menurut Johan, proses pemindahan ini dilakukan dengan cara-cara penganiayaan. “Saya ditikam dengan laras senjata, diberikan granat untuk dimakan, dipukul dengan besi,” ujar Johan kepada Amnesty International Belanda. Penganiayaan ini terus berlanjut sampai proses pemeriksaan.

Atas tindakan yang disebut sebagai “makar”, Johan diadili bersama anggotanya dalam proses peradilan yang jelas tidak adil. John dijatuhi hukuman atas perbuatannya seumur hidup, lalu dikurangi menjadi 15 tahun. “Tidak ada keadilan. Masa kami divonis dengan KUHP 106 dan 110? Tolong dibuktikan yang dimaksud dengan makar dan separatis,” ujar Johan lagi.

Tanggapan pertama datang dari Bima Satria Putra, “Apa yang dilakukan oleh Johan tidak dapat dikatakan sebagai tindakan makar.” Bima mengungkapkan bahwa dalam pasal 104, 106, dan 110 KUHP yang mengatur mengenai kejahatan terhadap keamanan negara, tindakan mengibarkan bendera tidak dapat dikategorikan sebagai makar. Lanjutnya, “Dapat dikatakan makar apabila melawan Pemerintah Indonesia dengan senjata, orang yang dengan sengaja menggabungkan diri pada gerombolan yang melawan pemerintah dengan senjata.”

Salah satu peserta diskusi menyampaikan bahwa dalam proses penangkapan, polisi tidak mencerminkan Pasal 4 Undang-Undang Kepolisian yang berbunyi Kepolisian Negara Republik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya kemanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. “Saya ingin menyampaikan bahwa cara-cara yang diambil oleh pihak kepolisian tidak menjunjung tinggi seperti yang terdapat dalam Undang-Undang Kepolisian terutama dalam penegakkan HAM,” ujar Rio Hanggar Dhipta, salah satu peserta diskusi.

Salah seorang peserta sedang menulis surat untuk mengucapkan ulang tahun ke-55 kepada Johan Teterissa. | Dok.scientiarum.com/Arya Adikristya

Salah seorang peserta sedang menulis surat untuk mengucapkan ulang tahun ke-55 kepada Johan Teterissa. | Dok.scientiarum.com/Arya Adikristya

Jelang diskusi berakhir, peserta menulis surat untuk Johan Teterissa yang akan berulang tahun pada 31 Desember mendatang. Surat ini ditujukan untuk Johan sebagai dukungan moril. Selain itu, mereka juga menulis surat untuk diserahkan ke Presiden Jokowi, melalui Amnesty International. Isinya jelas: minta Johan Teterissa bebas dari penjara.

Chris Chandra Simanungkalit, mahasiswa Fakultas Hukum. Wartawan magang Scientiarum. Ikuti akun Instagramnya @christchandras.

Redaktur: Arya Adikristya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *